Páginas

Thursday, December 31, 2009

Musdah Mulia: Saya Tidak Peduli Dianggap Sesat


Pada 27 November lalu, Prof. Dr. Siti Musdah Mulia meraih penghargaan sebagai "Women of the Year 2009" dari Pemerintah Italia. Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini menyisihkan dua finalis lain dari Maroko, Aiche Ech Channa dan dari Afganistan, Mary Akrami. Ketiga finalis terpilih melalui seleksi ketat atas 36 calon dari 27 negara.

Perempuan yang tahun lalu juga mendapat penghargaan Yap Thiam Hien ini, dinilai sebagai tokoh perempuan yang telah memberikan sumbangan nyata pada upaya pemberdayaan perempuan. Di Tanah Air sendiri, Ia dikenal sebagai perempuan yang yang gigih bersuara dan memperjuangkan kesetaraan jender, membela hak-hak kelompok minoritas, serta melakukan dialog antaragama. Suaranya yang lantang tersebut kerap menimbulkan kontroversi.
  (Musdah Mulia/Komnasperempuan.com)

Namun baginya, perjuangan mengkampanyekan keadilan, termasuk keadilan jender tidak akan pernah berakhir. Sebab, selalu saja ada pihak-pihak yg merasa nyaman atau diuntungkan oleh ketidakadilan.

Di sela-sela tasyakuran yang digelar Yayasan Madina atas penghargaan yang diterima Musdah, Kamis (17/12) wartawan Tempo Ika Ningtyas berkesempatan berbincang-bincang dengan istri Prof Dr Ahmad Thib Raya MA ini.

APA MAKNA PENGHARGAAN INI BAGI ANDA?
Awalnya saya tidak tahu dengan penghargaan ini. Saya baru tahu saat dihubungi kedutaan Italy, dua minggu sebelum acara digelar. Padahal surat pemberitahuan saya masuk nominasi sudah saya terima dua bulan sebelumnya. Karena tidak mengerti bahasa Italy, ya suratnya saya cuekin saja. Mau jadi nominator kek, atau apa kek, tidak kepikiran di kepala saya. Karena ajang ini bukan perlombaan, bukan pemilihan miss universe. Buat saya penghargaan ini adalah penghargaan terhadap kerja-kerja perempuan yang selama ini dianggap tidak penting, dianggap tidak relevan. Lebih banyak orang resisten daripada yang menerima. Makanya banyak orang terheran-heran, ketika kita (feminis) berteriak-teriak tentang pemberdayaan perempuan dan keadilan jender. Misalnya kita menentang UU Pornografi, orang akan mencap kita suka pornografi. Orang-orang yang menerima penghargaan ini datang dari negara miskin, negara berkembang. Berasal dari masyarakat dimana hukum itu ditegakkan. Sama seperti saya, datang dari Indonesia yang sangat patriarkal, yang memandang laki-laki menjadi the first dan perempuan the second. Hukum di sini tergantung siapa hakimnya, siapa jaksanya, dan seberapa banyak anda membayar mereka. Penegakan HAM seolah masih seperti mimpi.

PERTANYAAN APA DARI DEWAN JURI YANG MEMBUAT ANDA BERKESAN?
Jurinya ada enam, diantaranya, dari Departemen Luar Negeri Italy, designer, dan Departemen Kesehatan Italy. Sistem penilaiannya unik. Yang paling berkesan, saat kita bertiga (para nominator) di bawa ke sebuah sekolah menengah pertama, dimana kita dihadapkan dengan anak-anak usia sekolah dasar dan SMP. Dihadapan mereka kita diminta menjelaskan aktivitas kami. Saya heran, pertanyaan dari anak-anak itu sangat kritis dan tidak terduga. Ada yang bertanya, kenapa sih perempuan Islam itu harus menutup-nutupi tubuhnya. Lalu saya jelaskan, jilbab bukan kewajiban melainkan tradisi. Perempuan bisa memilih memakai atau tidak. Jilbab hanya wajib dipakai saat shalat atau thawaf. Karena itu saya menghargai orang yang pakai jilbab, yang tidak pakai, dan orang yang sudah pakai kemudian melepaskannya lagi. Jilbab bukan simbol apa-apa, bukan simbol kesalehan. Saya sering ketemu mucikari yang juga pakai jilbab. Bahkan mereka juga umrah,lho. Lalu ada yang bertanya lagi, boleh tidak perempuan Islam itu tidak menikah? Saya katakan, perkawinan bukan kewajiban. Perempuan bisa memilih menikah atau tidak, dan menikah bukan ukuran ketaqwaan.

PERJUANGAN ANDA SUDAH BERHASIL?
Saya yakin perjuangan mengkampanyekan keadilan, termasuk keadilan jender tidak akan pernah berakhir. Sebab, selalu saja ada pihak-pihak yg merasa nyaman atau diuntungkan oleh ketidakadilan. Selain itu, harus diingat bahwa setan pun selalu menggoda manusia sampai akhir zaman untuk berperilaku tidak adil. Selama masih ada setan, selama masih ada manusia mencari kesenangan dari ketidakadilan selama itu pula, perjuangan membangun keadilan tetap berlangsung. Yang berbeda mungkin mekanisme dan visi perjuangannya.

PEMIKIRAN ANDA KERAP DITUDING SESAT. TANGGAPAN ANDA?
Saya tak peduli dianggap sesat, murtad atau kafir. Memangnya mereka itu siapa? Prinsip saya dalam kehidupan beragama, manusia tidak boleh mengambil posisi Tuhan, menghakimi. Hanya Tuhan yang berhak menghakimi atau menilai hamba-Nya. Dalam tataran manusia, kita hanya boleh berfastabiqul khairat (berkompetisi berbuat amal kebajikan, siapa di antara kita yangg benar-benar diterima amalnya, wallahu a’lam, hanya Tuhan yang MahaTahu.  Itulah sebabnya, sebagai Muslim/Muslimat kita tak henti-hentinya berdoa: ihdina sirathal mustaqim (tunjuki kami jalan-Mu yang benar). Ayat yang menjadi bagian dari surat Al-Fatiha itu kita baca minimal 17  kali sehari. Kalau ada yang merasa sudah benar, gak perlu lagi baca do’a itu, tapi nyatanya kita semua masih baca kan? Karena itu, jangan memutlakkan pendapat sendiri, lalu memandang orang lain
salah, sesat dan sebagainya.

SEPERTI SIKAP ANDA MENYETUJUI HOMOSEKSUAL DAN LESBIAN YANG SEMPAT JADI KONTROVERSI ITU?
Yang saya setuju apanya? Setuju menghargai mereka sebagai manusia.  Saya tidak boleh mendiskreditkan kelompok mana pun. Manusia itu manusia, tidak melihat apa agamanya, apa orientasi seksualnya. Urusan dosa itu urusan dengan Tuhan. Memang siapa kita? Kita selalu menganggap kita bersih dan kelompok lain dosa, memangnya kita Tuhan? Ini kacaunya kita beragama memposisikan diri sebagai Tuhan, menghakimi orang lain berdosa.

SERING MENDAPAT TEROR?
Sudah sejak awal, yakni sejak launching Counter Legal Draft Kompilkasi Hukum Islam (CLD-KHI) tahun 2004 itu saya sering mendapat teror berupa SMS, telepon, email dan sebagainya. 




BAGAIMANA REAKSI SUAMI DAN ANAK-ANAK ANDA?
Suami dan anak-anak biasa saja. Boleh jadi, suami dan anak-anak tidak setuju pada satu pendapat saya, tetapi mereka tidak perlu marah-marah atau ngamuk. Kami sangat demoktratis.

BAGAIMANA PENDAPAT DARI KALANGAN REKAN-REKAN DOSEN?
Ya, ada yangg setuju, ada yang gak setuju.

BERBAGAI KECAMAN ITU TIDAK MENGGANGGU KARIR ANDA?
Sama sekali tidak mengganggu. Saya pikir mereka belum tahu atau bacaan mereka belum sampai ke sana. Lagi pula, bagi saya, berbeda pendapat itu sah-sah saja. Jangan menghakimi apa lagi membalas dg kekerasan. Fiqh dalam Islam itu isinya adalah perbedaan pendapat antara satu mazhab dan lainnya. Antara satu ulama dan lainnya. Tapi mereka tetap mengapresiasi satu sama lain.

APA SAJA KENDALANYA UNTUK MENYUARAKAN KEADILAN BAGI
PEREMPUAN?
Ada tiga hal yang belum berubah. Pertama, budaya masih melekat di banyak orang kalau perempuan itu menjadi orang nomor dua. Kedua, masalah struktural, dimana banyak muncul undang-undang dan peraturan daerah bernuansa Islami tapi sangat diskriminasi pada perempuan seperti perda kewajiban pakai jilbab dan perda larangan perempuan keluar malam. Ketiga, masalah interpretasi ajaran agama.

HAL ITU MENDORONG MASIH TINGGINYA ANGKA KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN?
Ya benar…karena struktur tidak mendukung, budaya tidak kondusif, interpretasi agama masih memberi legitimasi

APA KONTRIBUSI ANDA UNTUK MENYELESAIKAN TIGA PERSOALAN TERSEBUT?
Saya berjalan di tiga ini secara simultan, bagaimana melakukan upaya-upaya rekonstruksi budaya melalui pendidikan dalam arti seluas-luasnya. Baik di sekolah, di luar sekolah, dan di rumah. Saya terlibat dalam pembuatan modul-modul pengarusutamaan jender, mulai tingkat taman kanak-kanak hingga pendidikan tinggi. Kedua, upaya untuk mengubah struktur undang-undang, mulai UU Perkawinan, ketenagakerjaan, migran, dan UU Kesehatan. Seluruh undang-undang tersebut sangat tidak kondusif bagi bangunan demokrasi dan keadilan jender. Ketiga, saya sedang menyiapkan terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Indonesia tapi lebih berprespektif perempuan.

ALASANNYA?
Selama ini orang belum familiar dengan Kitab Suci Al Qur’an karena masih berbahasa Arab. Nanti saya buat yang tidak ada bahasa Arabnya, tapi bahasa Indonesia, dengan perspektif  perempuan. Selama ini tafsir Al Qur’an kan berwajah laki-laki. Tapi tunggu saja nanti….

KOMNAS PERNAH MERILIS ADA 154 PERDA YANG MENDISKREDITKAN PEREMPUAN. MENURUT ANDA KENAPA PERDA-PERDA TERSEBUT MUNCUL?
Ini akibat implementasi otonomi daerah yang salah kaprah dengan anggapan mengangkat kearifan lokal. Tapi, kearifan lokal kok jilbab? Jilbab bukan kearifan lokal. Waktu jaman saya masih di pesantren, saya cuma pakai kerudung yang jatuh-jatuh itu...Munculnya perda-perda tersebut memang sangat politis. Saya pernah meneliti bagaimana gagasan itu timbul di daerah-daerah. Ternyata daerah yang menerbitkan perda-perda tersebut, tidak punya ide untuk membangun Islam. Bupati dan walikotanya hanya euforia menegakkan syariat Islam, hanya ingin mengatakan kepada masyarakatnya kalau saya itu Islami. Pengalam saya, ujung-ujungnya para pemimpin daerah yang punya perda-perda tersebut masuk penjara karena korupsi. Seharusnya kalau mau menjalankan syariat Islam, kenapa tidak dengan menyiapkan fasilitas publik misalnya air bersih dan pendidikan. Bukankah Islam paling depan berbicara tentang keberpihakan kepada kelompok-kelompok terpinggir. Karena itu perda-perda tersebut kompensasi dari kebobrokan manajerialnya aja.

APA YANG HARUS DILAKUKAN DENGAN PERDA-PERDA ITU?
Buat saya, harus ada eksekutif review dari Menteri Dalam Negeri.

SUDAH MELIHAT UPAYA KE ARAH TERSEBUT?
Udah..udah..ada beberapa yang dilakukan. Cuma taraf penguasa kita itu kan sangat takut kalau masuk ke wilayah agama. Karena kebodohan tidak mengerti agama, dan takut dibilang tidak Islami. Di Indonesia cuma satu orang yang tidak takut dibilang tidak Islami, yakni Gus Dur (almarhum).

APAKAH KEMENTRIAN NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MASIH DIBUTUHKAN?
Ya masih diperlukan. Selama ini lembaga tersebut terkendala karena punya keterbatasan baik secara kelembagaan dan sumber daya manusia. Lembaga ini tidak punya jenjang sampai ke bawah

JADI PERLU PENGUATAN DI ASPEK MANA?
Penguatannya perlu di tugas, pokok dan fungsinya. Meneg PP harus menegaskan diri bukan pelaksana tapi fungsi kordinatif, karena itu rencana Meneg PP harus dilaksanakan oleh kementrian-kementrian lain, misal reformasi hokum, harus dilaksanakan oleh Departemen Hukum dan HAM. Yang jadi kendala kordinasi ini lemah sehingga peran Meneg PP juga terkesan lemah. Saya sudah ketemu Ibu Menteri untuk mendorong supaya beliau lebih berani menegaskan akan tupoksinya ini. Kebijakan terkait persoalan-persoalan perempuan adalah kebijakan bersama di kabinet, ini ururusan presiden dan menteri2 lain..

PELAJARAN APA YANG BISA DIPETIK DARI KASUS PRITA DALAM KAITANNYA DENGAN AKSES KESEHATAN PEREMPUAN?
Sudah seharusnya seorang perempuan berani bicara, jangan membisu, persoalan apa pun itu. Kalau kita bisu orang lain tidak akan tahu apa masalahnya. Apalagi hak kesehatan di Indonesia itu bukan dianggap masalah. Kalau apa yang kita bicarakan itu tentang kebenaran, pasti akan banyak pendukung. Karena itu jangan pernah takut.

APAKAH TAYANGAN MEDIA SUDAH BERPRESPEKTIF PEREMPUAN?
Sejauh ini, media massa sering kehilangan fokus dalam menyuarakan keadilan bagi perempuan. Media sering tergoda untuk menfokuskan diri pada sisi entertainment (aspek penghiburan) dari pada mengeksplorasi sisi manusia yang menjadi korban. Bahwa sebagai manusia, siapa pun dia, apa pun dia, tidak boleh diperlakukan secara eksploitatif untuk alasan apa pun. Atau kurang jeli melihat aspek kekerasan, diskriminasi atau eksploitasi yg dilakukan terhadap perempuan. Misalnya, kasus Manohara. Media membuat pemberitaan yang  mengaburkan antara fakta dan fiksi sehingga alih-alih menimbulkan empati bagi si korban, malah melahirkan perasaan tidak berpihak kepada korban.

APA PENDAPAT ANDA TENTANG TAYANGAN INFOTAINMENT YANG DINILAI MENGANDUNG GOSIP (GHIBAH)
Persoalannya, apa yg dimaksud dg ghibah? Kalau membicarakan masalah atau keburukan orang lain dengan maksud untuk mengambil pelajaran agar orang lain tidak terjebak pada kesalahan yang sama, mungkin dapat dibenarkan. Karena itu, ini sangat kasuistik. Pada prinsipnya, saya tidak setuju penggunaan cara-cara kekerasan dalam pemberitaan tentang sosok manusia, siapa pun dia. Media pun harus punya nilai yang dipegang secara kuat dan itu harus diketahui oleh publik.

BAGI UPAYA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN, ADAKAH DAMPAK NEGATIF TAYANGAN INFOTAINMENT?
Tayangan infotainment terlalu telanjang. Sejumlah adegan kekerasan semestinya tidak perlu muncul. Suatu berita dapat saja dikemas dengan jelas dan menarik, tetapi tetap secara sopan tanpa melakukan pembunuhan karakter

SETUJUKAH ANDA DENGAN FATWA HARAM YANG DIKELUARKAN MUI DAN PBNU?
Prinsipnya tidak setuju. Tetapi, silakan saja MUI dan PBNU mengeluarkan fatwa apa pun,  membuat fatwa memang menjadi tugas lembaga ini.  Fatwa tidak lah mengikat secara hukum dan tidak ada dalam hirarki perundang-undangan di negara berdasar Pancasila ini. Karena itu, publik perlu dicerdaskan dan diberdayakan sehingga mereka dapat secara dewasa dan kritis memilih dan memilah mana fatwa yang rasional dan relevan diikuti.



BIODATA:
Nama: Prof Dr Siti Musdah Mulia, MA
Lahir: Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1958
Agama: Islam
Suami: Prof Dr Ahmad Thib Raya MA
Anak: - Albar  - Ilham
Pendidikan:
SD di Surabaya (tamat 1969)
- Pesantren As'adiyah, Sengkang (1973)
- SMA Datumuseng, Makassar (1974)
- S-1 Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab, IAIN Alaudin, Makassar (1982)
- S-2 bidang Sejarah Pemikiran Islam, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1992)
- S-3 bidang Pemikiran Politik Islam IAIN Syarif Hidayatullah (1997)

Karir:
- Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah (1997-sekarang)
- "Visiting professor” di EHESS Paris, Perancis (2006)
- Staf ahli Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia Bidang Pencegahan Diskriminasi dan Perlindungan Minoritas (2000-2001)
- Tim ahli Menteri Tenaga Kerja (2000-2001)
- Staf ahli Menteri Agama Bidang Pembinaan Hubungan Organisasi Keagamaan Internasional (2001-2007)
- Sekretaris Jenderal Indonesian Conference on Religion and Peace (Sekjen ICRP) sejak 2001
- Wakil Sekjen PPMuslimat NU (2000-2005)
- Dewan Ahli Koalisi Perempuan Indonesia (2001-2004)
- Ketua Panah Gender PKBI (2002-2005)