Páginas

Thursday, August 12, 2010

Damarwulan-Menakjingga: Legenda atau Sejarah?


Patung setinggi tiga meter itu berdiri di depan Jalan Penataran, Kelurahan Penganjuran, kota Banyuwangi. Patung seorang laki-laki berpakaian raja. Tangan kanannya membawa senjata gondo wesi kuning. Dia didampingi Dayun, seorang pengikut setianya.

Patung yang dibuat Pemerintah Banyuwangi sekitar tahun 1997 itu merupakan patung Menakjingga. Budayawan sekaligus seniman Janger, M.Dasuki Noer, mengatakan, pembuatan patung itu untuk mempopulerkan kepahlawanan Menakjingga yang selama ini seolah-olah kalah oleh pamor Damarwulan. “Selama ini Damarwulan selalu dipuja-puja,” tutur Dasuki kepada TEMPO, akhir Juli lalu.


Kisah Damawulan-Menakjingga cukup popular bagi masyarakat Jawa. Sering ditampilkan dalam tari, wayang maupun teater rakyat. Di Banyuwangi, teater rakyat yang sering mementaskan lakon itu adalah Kesenian Janger. Kisah Damarwulan-Menakjingga tersebut menceritakan tentang Damarwulan yang mendapat perintah dari Ratu Ayu Kencanawungu dari Majapahit untuk mengatasi pemberontakan Menakjingga. Damarwulan akhirnya berhasil memenggal kepala Menakjingga dan kemudian dibawanya ke hadapan Sang Ratu.

Menurut kakek berusia 79 tahun itu, kisah Damarwulan-Menakjingga hanyalah sebuah legenda. Namun masyarakat, tak terkecuali orang Banyuwangi, telah menganggapnya sejarah yang menenggelamkan fakta sebenarnya tentang Blambangan. Sosok Menakjingga yang merupakan representasi Blambangan, digambarkan berwajah dan berperangai buruk sebagai seorang pemberontak. Sementara Damarwulan adalah pahlawan. “Bahkan pelaku seni Janger akan sangat marah kalau kisah Damarwulan-Menakjingga dikatakan legenda,” katanya.

Cerita Damarwulan-Menakjingga sebenarnya diambil dari Serat Damarwulan dari Keraton Yogyakarta. Menurut Sejarawan Universitas Gajah Mada, Sri Margana, naskah tertua yang menampilkan ilustrasi tokoh Menakjingga tersimpan di British Library London. Pada saat penyerbuan tentara Inggris ke Kraton Yogyakarta pada tahun 1812, pasukan Raffles banyak membawa naskah keraton ke Inggris.

Bentuk Langendriyan Damarwulan Menakjingga tersebut, katanya, diciptakan oleh Raja Mangkunegaran Surakarta, Mangkunegara IV (1853-1881). Wajar jika kemudian, katanya, terutama pada decade ke dua atau ketiga abad ke 20, cerita ini diadopsi dan dipopulerkan oleh bupati banyuwangi yang masih keturunan Surakarta.

Menurut dia, penelitian yang serius tentang kisah Damarwulan-Menakjingga pernah dilakukan oleh filolog Belanda Th. Pigeaud dan Brandes, yang mengidentikkan tokoh Menakjingga ini dengan Bre-Wirabumi, raja Blambangan. Sedangkan Damarwulan identik dengan Raden Gajah yang diutus Majapahit untuk mengatasi pemberontakan Bre Wirabumi dalam Perang Paregreg (1404-1406). “Walaupun cerita ini rekaan, tetapi bukan tidak mungkin alur ceritanya sebagian adalah personifikasi dari cerita dan tokoh-tokoh sejarah yang sebenarnya,” kata Margana kepada Tempo, akhir Juli.

Cerita Damarwulan-Menakjingga kemudian dipopulerkan ke Banyuwangi pada awal abad-20 melalui pementasan Janger. Menurut M.Dasuki Noer, seniman Janger, kesenian ini awalnya bernama Ande-Ande Lumut. Setelah masuk pengaruh Bali, nama kesenian berubah menjadi Janger. Mereka memainkan lakon ‘Wirabumi Gugat’ yang bercerita tentang pemberontakan Bre Wirabumi terhadap Majapahit. Lakon ini pertama kali dipentaskan sekitar tahun 1920 di Pendopo Kabupaten.

Namun usai pentas, seorang pejabat Wedana meminta naskah cerita. “Beberapa hari kemudian dikembalikan, tapi naskah sudah berubah menjadi cerita Damarwulan-Menakjingga,” katanya. “Karena dulu mereka tidak punya salinan naskah asli, ya terpaksa memainkan Damarwulan-Menakjingga,” lanjut pensiunan kantor Departemen Agama, Banyuwangi ini.

Legenda tersebut makin dikenal warga Banyuwangi seiring tumbuhnya Kesenian Janger di setiap desa. Dasuki menyebut, sekitar tahun 1950-an ada 47 kelompok kesenian dan meluas hingga Malang, Jawa Timur. Mereka juga sering dipanggil mentas ke luar Banyuwangi. Namun pelaku-pelaku seni Janger saat itu, termasuk dirinya, tidak mengetahui bahwa naskah itu hanyalah sebuah legenda. Kesenian Janger pun akhirnya juga disebut Kesenian Damarwulan.

Kondisi berbalik di era tahun 60-an ketika cerita Damarwulan-Menakjingga mulai sering dibahas di forum-forum atau seminar. “Pola pikir seniman mulai berubah,” katanya. Menakjingga mulai ditokohkan. Sosok Menakjingga di atas pentas tidak lagi pincang dan buta sebelah, namun digambarkan seseorang yang gagah. Patung Menakjingga mulai dibangun. Dari Kesenian Damarwulan, katanya, berubah namanya menjadi Jinggoan. IKA NINGTYAS