Páginas

Thursday, August 12, 2010

Riwayat Blambangan yang Terlupakan


Reruntuhan bangunan setinggi satu meter itu terlihat jelas begitu tanah di areal persawahan digali. Terbuat dari batu bata, dengan struktur rapat tanpa spasi. Satu batu bata memiliki ukuran tiga kali lebih besar dari batu bata yang dipakai orang sekarang.

Reruntuhan bangunan itu salah satu temuan, dalam survei awal Situs Macan Putih yang dipelopori Arkeolog Universitas Gajah Mada Profesor Inajati, Sejarawan UGM Sri Margana, dan Forum Masyarakat Penyelamat Sejarah Macan Putih, awal Juli lalu. Forum Masyarakat mempercayai bekas bangunan itu merupakan benteng timur ketika pusat Kerajaan Blambangan dibangun di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Banyuwangi.


Sayangnya, bekas bangunan itu semakin rusak karena aktivitas warga. Di sekitar tanah sawah, Tempo menemukan banyak batu bata yang pecah. Selain reruntuhan bangunan, Tim Survei juga mendapati ratusan benda bersejarah di sebuah areal kebun kelapa seluas lima hektar. Nasibnya juga sama. Gerabah-gerabah maupun keramik asal Cina dan Eropa tidak lagi utuh. Bahkan, Gunawan (bukan nama sebenarnya), warga setempat, mengaku telah menjual ratusan keramik,patung dan perhiasan kuno ke seseorang asal Bali.

Situs Macan Putih ini menjadi salah satu situs terpenting dalam sejarah Kerajaan Blambangan yang menjadi cikal bakal Kabupaten Banyuwangi. Saat disinilah, Kerajaan Blambangan mencapai puncak kejayaannya dengan wilayah kekuasaan meliputi Bali, Situbondo, Jember, Bondowoso, dan Lumajang.

Kerajaan Blambangan merupakan kerajaan bercorak Hindu terakhir di Pulau Jawa. Kerajaan ini lahir pada 1295, dua tahun setelah Majapahit berdiri. Raja Majapahit, Raden Wijaya memberikan Istana Timur ini kepada Arya Wiraraja (adipati Sumenep) dengan ibukota di Lumajang, karena telah membantu perjuangannya mendirikan Majapahit.  Setelah keruntuhan Majapahit pada abad-15, Kerajaan Blambangan mampu bertahan hingga abad ke-18.

Namun riwayat Kerajaan Blambangan tak pernah tersebut dalam Sejarah Nasional Indonesia. Selama ini masih sedikit sejarawan yang meneliti riwayat Blambangan. Peninggalannya pun bisa dihitung jari. Riwayat kerajaan ini mayoritas berupa cerita rakyat yang kental legenda atau mitos. Sebutlah seperti kisah Damarwulan-Minakjingga yang sering dibawakan dalam seni pertunjukan.

Adalah Sejarawan Universitas Gaja Mada, Sri Margana, yang membuat sejarah Blambangan ini semakin terang. Dia membuat penelitian berjudul 'JAVA'S LAST FRONTIER: The Struggle for Hegemony of  Blambangan, c 1763 - 1813', sebagai disertasi doktoralnya di Universitas Leiden, Belanda.

Margana mengungkapkan dalam penelitiannya, bahwa selama tiga abad pasca keruntuhan Majapahit, Blambangan kerap diliputi peperangan karena diperebutkan kerajaan-kerajaan yang memiliki dua faksi politik berbeda. Di barat, ada kerajaan Demak dan Mataram Islam serta kerajaan-kerajaan Hindu di Bali (Gel-gel, Buleleng dan Mengwi) di bagian timur.

Bali sangat berkepentingan terhadap Blambangan sebagai benteng terakhir untuk menghambat ekspansi Islam di Jawa yang digencarkan Mataram. Selain itu, Blambangan  yang menjadi lumbung padi itu dibutuhkan untuk meningkatkan perekonomian Bali.

Demak menyerang Panarukan (bagian Blambangan) saat dipimpin Sultan Trenggono. Namun Blambangan gagal ditaklukan, bahkan pada 1546, Sultan Trenggono wafat dalam penyerangan itu.  Di bawah Sultan Agung, Mataram menyerang Blambangan berturut-turut pada tahun 1635 , 1636 hingga 1640. Blambangan yang saat itu di bawah kekuasaan Kerajaan Gelgel, Bali, mampu ditaklukan. Namun Sultan Agung tidak pernah menempatkan orangnya sendiri menjadi penguasa di Blambangan. Tak lama kemudian, Blambangan diambil alih oleh Buleleng. Akhir abad keenam belas, misionaris Portugis sempat mendarat pula di Panarukan. Bangsa Eropa, VOC Belanda dan Inggris juga berupaya menaklukan Blambangan satu abad kemudian.

Berbagai peperangan melawan ekspansi dari luar itu, membuat pusat Kerajaan Blambangan berpindah hingga enam tempat. Dimulai masa Arya Wiraraja di Lumajang, kemudian ke Panarukan (sekarang masuk Situbondo) dan Kedawung (sekitar Jember). Berikutnya, pusat kerajaan semakin terdesak ke pedalaman Banyuwangi. Yakni, di Macan Putih (kecamatan Kabat), Lateng (Kecamatan Rogojampi), Ulupampang (Muncar) dan terakhir di kota Banyuwangi.

Blambangan masuk dalam masa damai tanpa peperangan ketika ibukotanya di Macan Putih yang dipimpin Raja Tawang Alun II (1655-1692). Raja inilah yang sekaligus membawa Blambangan dipuncak kejayaan lepas dari kekuasaan Mataram dan Bali. Menurut Margana, salah satu kebesaran Tawang Alun ditunjukkan dengan jumlah istrinya mencapai 400 orang. Saat Tawang Alun II dikremasi, sebanyak 270 istrinya ikut membakar diri (sati). “Inilah peristiwa sati yang terbesar dalam sejarah Indonesia,” kata sejarawan kelahiran Klaten, 41 tahun lalu itu.

Untuk menghormati Raja Tawang Alun II, masyarakat setempat membangun sebuah sanggar pamujan atau tempat semedi . Menurut Nuruddin, si juru kunci, tempat ini dibangun sekitar tahun 1968. Bangunannya berupa pendopo kecil berkeramik dan bertirai putih. Di tengahnya tertanam sebuah batu, dengan dua buah payung. Tempat seluas hampir satu hektar ini dikeliling tembok setinggi dua meter. “Banyak yang semedi di sini,” katanya kepada TEMPO. Menurut Sri Margana, tempat itu kemungkinan  sisa dari “de kuil van Matjan Poetih” seperti yang ada dalam lithograph Engelhard tahun 1802 dan lukisan Assistent Resident Banyuwangi, tahun 1850.

Setelah kematiaan Tawang Alun II, Blambangan kembali di bawah kekuasaan Bali, yakni Kerajaan Buleleng dan Mengwi (1697-1764). Cucu Tawang Alun Pangeran Adipati Danureja (1698-1736), dilantik sebagai Raja Blambangan dan membangun pusat istana di Kebrukan, Lateng (sekarang masuk Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi). Danureja dipaksa raja Buleleng untuk memerangi Mataram dan sekutunya. Namun  pada 1726, Buleleng berperang dengan Mengwi yang berakhir dengan kekalahan Buleleng. Akibatnya, Buleleng terpaksa menyerahkan Blambangan ke Mengwi.

Hampir selama satu abad pendudukan Mengwi, ribuan orang Bali menyebrang selat dan menetap di Blambangan. Sementara wilayah Blambangan bagian barat, seperti Lumajang, kata Margana, dicaplok oleh Surapati yang telah menjadikan pasuruan sebagai wilayah kekuasaanya. Inilah yang membuat mengapa budaya masyarakat Banyuwangi saat ini lebih dekat dengan pengaruh Bali ketimbang Jawa pada umumnya.

Pada 1743, Raja Mataram Pakubuwana II menyerahkan Blambangan kepada VOC sebagai imbalan telah merebut Ibukota Kartasura dari tangan pemberontak. Namun VOC tak segera melakukan pendudukan karena terseret ke konflik Mataram yang tak kunjung selesai hingga tahun 1757.

VOC baru melakukan ekspedisi militer ke Blambangan ketika mengetahui rivalnya, Inggris meluaskan usaha dagangnya ke wilayah ini. Pada Agustus 1766, tiga kapal Inggris dan seratus lebih kecil kapal milik Bugis dan Madura tiba di Blambangan di bawah komando Edward Coles. Mereka bertukar opium dan kapas dengan beras dan kayu. Kehadiran Inggris ini membuat Pelabuhan Ulu Pampang Blambangan, di sekitar Selat Bali, menjadi ramai. Banyak pedagang dari berbagai etnis, seperti Bugis, Mandar, Cina, Melayu dan Jawa secara teratur berkumpul di sana.

Ekspedisi militer VOC pertama kali diluncurkan pada Februari 1767. VOC menyertakan sekutunya dari Kerajaan Mataram (Sultan Mangkubumi), Pasuruan, Banger, Surabaya,
dan Madura. Kedatangan pasukan koalisi VOC ini disambut gembira oleh rakyat Blambangan yang ingin melepaskan diri dari Bali. Mereka berharap VOC membuat masa depan Blambangan lebih baik. Kemudian terjadilah pembunuhan besar-besaran terhadap orang Bali, terutama dilakukan orang-orang Bugis di Blambangan yang membantu VOC. Ribuan orang Bali lainnya melarikan diri ke Bali. Hanya dalam satu bulan, VOC dengan mudahnya menduduki Blambangan.

Namun euphoria terhadap kehadiran VOC itu hanya berlangsung singkat. Empat bulan setelah VOC menjalankan administratifnya di Blambangan, muncul pemberontakan yang dipimpin Wong Agung Wilis. Wilis adalah saudara tiri dan mantan patih raja terakhir Blambangan, Pangeran Adipati Danuningrat (1736-1764). Pemberontakan Wilis itu mendapat dukungan luas dari penduduk lokal serta etnis lain seperti Bugis, Melayu, Sumbawa, dan Cina. Wilis memenangkan hati rakyat karena menyerukan boikot terhadap kerja rodi yang diberlakukan VOC. Pemberontakan Wilis ini berlangsung setahun yang berakhir dengan penangkapan Wilis di tahun 1768. Wilis dan pengikutnya dibuang ke Pulau Banda.

VOC kemudian menunjuk keluarga bupati Surabaya menjadi bupati Blambangan pada 1771 sebagai bagian membantu Jawanisasi dan Islamisasi di Blambangan. Tujuannya, untuk memutus Blambangan dengan Bali. VOC menganggap, setiap pemberontakan rakyat Blambangan selalu mendapat bantuan kerajaan-kerajaan Bali. Rakyat Blambangan sendiri tidak begitu suka dengan bupati Jawa karena korup. Di periode ini kondisi Blambangan diliputi sentiment anti Jawa dan anti Islam.

Pemberontakan terbesar meletus di bawah pimpinan Susuhunan Jagapati, yang membangun benteng di Bayu (kini masuk Kecamatan Songgon, Banyuwangi). Ribuan rakyat Blambangan berbondong-bondong meninggalkan desanya bergabung dengan pasukan Jagapati. Kerajaan Mengwi juga mengirimkan bantuan pasukannya. Pertempuran pecah pada 18 Desember 1771 yang berakhir dengan kemenangan pasukan Jagapati. Pimpinan VOC, Vaandrig Schaar dan Cornet Tinne tewas. Ratusan prajurit Madura yang dibawa VOC juga nyaris tanpa sisa.

Kemenangan Blambangan ini dibalas setahun kemudian. VOC mendatangkan ribuan prajurit tambahan dari Madura, Surabaya, dan Besuki. Untuk mengatrol pasukan Jagapati, VOC mendirikan benteng di dekat Bayu. Lumbung-lumbung padi milik pasukan Jagapati dibakar, sehingga kelaparan akut menyerang rakyat Blambangan. Disusul kematiaan dan merebaknya wabah penyakit. Pasukan Jagapati terus berkurang. Pada 11 Oktober 1772, pasukan Jagapati dipatahkan.

Jagapati sendiri tewas dalam pertempuran itu. Sementara tubuh dan kepala prajurit Blambangan yang tewas digelantungkan di pepohonan sekitar benteng. Margana menyebut ini adalah peperangan tersadis dalam sejarah Indonesia. Masyarakat Banyuwangi menyebut peperangan ini sebagai Puputan Bayu. Meminjam istilah dari Bali, puputan berarti perang habis-habisan. Populasi rakyat Blambangan menyusut drastis akibat perang ini, dari 80 ribu jiwa menjadi hanya 8 ribu jiwa.

Untuk mengenang peperangan ini, pada 2004 lalu Pemerintah Banyuwangi membangun monument Puputan Bayu, di pintu masuk Desa Bayu, Songgon. Sementara tempat peperangannya sendiri berada 5 kilometer dari monument, berupa sebuah rawa di kaki Gunung Raung yang dikelilingi hutan pinus seluas delapan hektar. Daerah yang bernama Rowo Bayu ini menjadi tujuan wisata alam. Masyarakat Hindu di Banyuwangi maupun Bali juga menjadikan Rowo Bayu sebagai tempat bersuci maupun semedi.

Blambangan memulai periode baru pasca pemberontakan Jagapati. Karena wabah penyakit dan faktor keamanan, ibu kota Blambangan dipindahkan ke Ulupampang (kini Muncar). Tak ingin mengulang kesalahan, VOC kemudian memilih bupati Islam keturunan Blambangan, Mas Alit, yang bergelar Raden Tumenggung Wiraguna. Kehadiran Mas Alit diterima luas oleh rakyat Blambangan, karena berasal dari keluarga yang dihormati. Ayahnya adalah bekas kepala menteri Pangeran Danuningrat, raja terakhir Blambangan. Yang paling penting bagi VOC, Mas Alit belum pernah menjalin aliansi dengan orang Bali. Sejak berusia 6 tahun, Mas Alit telah dibawa ke Madura oleh Panembahan Madura Cakradiningrat,.

Kabupaten Blambangan kemudian dipecah dua dengan Gunung Raung sebagai batas. Blambangan barat terdiri atas empat kabupaten baru yakni Jember, Prajekan, Sentong (sekarang Kabupaten Bondowoso) dan Sabrang atau Renes yang dipimpin mantan patih Bupati Surabaya, Sumadirana. Sementara Blambangan timur yang dipimpin Mas Alit terdiri atas tiga kabupaten baru yaitu Ketapang, Ulupampang dan Grajagan (saat ini ketiganya masuk Kabupaten Banyuwangi).  

Sisa-sisa keraton Blambangan di Ulupampang masih bisa disaksikan di Desa Tembokrejo, Muncar. Ada dua situs di sana, yakni, Situs Umpak Songo dan Situs Sitihinggil. Situs Umpak Songo artinya sembilan penyangga. Situs ini berupa reruntuhan yang menyisakan 49 batu besar dengan sembilan batu diantaranya berlubang di bagian tengah. Batu yang berlubang itu diduga kuat berfungsi sebagai umpak atau penyangga. Diduga, Situs Umpak Songo itu adalah bekas balai pertemuan. Sedangkan Situs Sitihinggil dulunya dipakai VOC untuk memata-matai musuh dari Bali yang menyebrang melalui Selat Bali.

Juru kunci Situs Umpak Songo, Soimin, mengklaim, situs ini ditemukan oleh kakeknya, Nadi Gede, saat membabat alas pada 1916. Kakeknya datang ke Muncar, sebagai seorang perantauan dari Bantul, Jawa Tengah. Awalnya Nadi Gede tidak pernah tahu mengenai fungsi batu-batu itu. Namun ia mendapat jawaban ketika pada 1928 Pakubuwana datang ke Umpak Songo. “Dari Pakubuwana kami tahu bahwa ini bekas ibu kota Blambangan,” ceritanya.

Kondisi Situs tersebut tak kalah memprihatinkan. Dari luas sekitar dua hektar kini hanya tersisa seperdelapannya saja akibat terdesak oleh rumah-rumah yang dibangun keturunan Nadi Gede. Menurut Soimin, ada sekitar 20 KK kerabatnya yang mendirikan rumah di sekitar situs.

Sementara Pelabuhan Ulupampang sampai kini tetap ramai sebagai pelabuhan ikan. Ada 18.039 nelayan yang bergantung dengan pelabuhan ini. Tahun 2009 lalu, nelayan di pelabuhan ini menghasilkan 32 ribu ton ikan dan menjadikan Muncar sebagai pelabuhan ikan terbesar di Indonesia.

Karena wabah penyakit pula, akhirnya ibu kota Blambangan dipindahkan ke Banyuwangi. Bupati Wiraguna atau Mas Alit bersama rombongan pindah ke Banyuwangi pada 20 November 1774 tengah malam. Mereka tiba sekaligus menempati ibu kota kabupaten yang baru pada keesokan harinya, 21 November 1774. “Mas Alit menjadi bupati Blambangan terakhir sekaligus bupati Banyuwangi pertama,” Margana menambahkan. Kraton Mas Alit itu kini menjadi pendopo kabupaten. Blambangan kemudian menjalani kehidupan baru sebagai daerah Islam bernama Banyuwangi. IKA NINGTYAS


Foto: Rowo Bayu Banyuwangi (Ika Ningtyas)