Páginas

Friday, October 1, 2010

Tradisi Mocoan Lontar Telah Terwarisi.....


Dua puluh enam lelaki itu duduk bersila. Mereka memakai baju koko, sarung, dan kopyah. Lelaki yang lebih muda berpakaian koko warna kuning cerah, sedangkan warna putih dipakai mereka yang berusia tua.

Tepat jam 8 malam, mereka mulai menembangkan bait-bait Lontar Yusuf secara bergantiaan. Di depan mereka sebuah kitab bertuliskan huruf arab dengan bahasa Jawa kuno. Mereka menembangkan dengan cengkok khas Using, Banyuwangi. Para lelaki itu harus menyelesaikan seluruh tembang hingga menjelang fajar.


Tradisi itu bernama Mocoan Lontar Yusuf. Isinya, menceritakan tentang kisah Nabi Yusuf. Selasa (28/9) malam, tradisi itu dipentaskan dalam sunatan salah seorang warga di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, atau lima kilometer dari kota Banyuwangi.

Inilah pertama kali Mocoan Lontar mempertemukan dua generasi: tua dan muda. Generasi muda Mocoan Lontar tersebut merupakan hasil kaderisasi yang dilaksanakan Kelompok Mocoan Lontar Kemiren pada Februari lalu.

Selama ini, tradisi yang berusia ratusan tahun itu nyaris tanpa regenerasi. Hanya lelaki usia 50 tahun ke atas yang mampu membaca Lontar Yusuf.

Menurut Ketua Kelompok Mocoan Lontar, Adi Purwadi, 50 tahun, keresahan itu akhirnya ditindaklanjuti dengan mencari pemuda yang berminat meneruskan tradisi. Mula-mula baru satu pemuda yang sanggup. Dari satu pemuda itu, pencarian dilakukan secara getok-tular antara mulut ke mulut.

Pencarian akhirnya membuahkan hasil. Ada 16 pemuda berusia sekitar 20-30 tahun yang berhasil dikumpulkan. Adi Purwadi kemudian mengajari Lontar Yusuf kepada para pemuda itu dalam 8 kali pertemuan. Hasilnya memang bisa dilihat Selasa malam. Mocoan Lontar di Desa Kemiren kini juga bisa ditembangkan para pemuda. "Kebanyakan mereka adalah anak dari pembaca lontar sebelumnya," kata Purwadi kepada TEMPO, Selasa malam (28/9).

Hikmah Kisah Nabi Yusuf

Dinamakan Lontar Yusuf karena sebelum ada kertas, kisah Nabi Yusuf itu ditulis di daun lontar. Tidak ada yang tahu sejak kapan tradisi ini mulai dilakukan masyarakat Kemiren. Diperkirakan, kesenian ini muncul saat agama Islam masuk ke Banyuwangi sekitar abad 18.

Lontar Yusuf tersusun atas empat bagian (pupuh) yang masing-masing bercerita tentang kehidupan Nabi Yusuf, yakni soal asmara (kasmaran), doa-doa (durma), alam dan kehidupan Yusuf (terutama saat dinobatkan menjadi raja), dan saat Yusuf berada dalam penjara (sinom).

Menurut Purwadi, tradisi ini dilestarikan sebagai sarana berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Masyarakat berharap kisah-kisah dalam lontar terjadi dalam kehidupan nyata mereka. Dalam hajatan perkawinan, misalnya, pasangan pengantin berharap bisa rukun dan bahagia hingga akhir hayat sebagaimana keluarga Nabi Yusuf.

Bila seorang anak lahir, wajah dan tabiatnya diharapkan seperti Nabi Yusuf. Orang tua yang mengkhitankan anaknya berharap si anak tidak merasakan sakit sebagaimana para istri raja tidak menyadari jari-jari mereka teriris pisau saat melihat Nabi Yusuf yang rupawan.

Nampi, 60 tahun, seorang nenek asal Desa Kemiren, menceritakan, Mocoan Lontar dulunya sering ditanggap ketika seorang pengantin perempuan akan meratakan gigi (sisir). Tujuannya, supaya si pengantin tidak merasakan ngilu. "Mocoan Lontar jadi penghibur," katanya. IKA NINGTYAS