Páginas

Wednesday, September 12, 2012

PT Lundin, Perusahaan Kapal Perang dari Banyuwangi


Tujuh pekerja nampak sibuk menyelesaikan proses akhir pembuatan enam sekoci cepat jenis rigid inflatable boat (RIB) di galangan kapal PT Lundin Industry Invest, Banyuwangi, Jawa Timur. Sebagian dari mereka memoles bodi sekoci, sebagian lain memasang radar dan komponen kokpit.

Enam dari 12 sekoci cepat pesanan TNI AL itu harus sudah rampung akhir bulan September ini. "Enam RIB lainnya kita kerjakan bulan berikutnya," kata Allan Boon, Manajer Marketing PT Lundin kepada Tempo, Senin, 10 September 2012.

Sekoci cepat dengan panjang 11 meter dan lebar 3,2 meter itu memiliki kecepatan hingga 90 kilometer per jam. Dilengkapi pula dengan global positioning system serta radar canggih yang dapat mengindentifikasi  jenis kapal lain serta kedalaman laut. Sekoci ini tak hanya lincah dalam operasi militer tapi juga bisa diandalkan untuk search and rescue (SAR).


PT Lundin merupakan perusahaan pembuat kapal militer asal Banyuwangi yang baru berdiri tahun 2001. Perusahaan ini kini menjadi andalan nasional karena mampu menciptakan kapal-kapal perang canggih berkelas dunia.

Perusahaan yang berlokasi di Jalan Lundin No 1, Kelurahan Sukowidi, Kecamatan Kalipuro ini memiliki 16 produk kapal dengan kategori kapal militer, komersial, rekreasi dan untuk kepentingan SAR. Seluruh produknya ini diberi nama: North Sea Boats.

Semula tak banyak orang tahu tentang PT Lundin. Nama perusahaan ini baru melambung setelah berhasil menciptakan kapal cepat rudal berlunas tiga (trimaran) KRI Klewang 625 yang diluncurkan TNI AL akhir Agustus lalu. Kapal berbiaya Rp 114 miliar dari APBN 2009-2011 ini, diklaim pertama di dunia yang mengaplikasikan bahan komposit karbon yang tidak mampu terdeteksi radar atau disebut kapal siluman.
KRI Klewang yang merupakan hasil kerjasama PT Lundin dan arsitek kapal Lomocean New Zealand dirancang sejak 2007. Kapal yang memiliki panjang 63 meter dan bobot 53,1 GT ini dilengkapi dengan empat rudal yang  memiliki daya jelajah hingga 120 kilometer.

Selain tak mampu terdeteksi radar, KRI Klewang berkecepatan 30 knot ini didesain khusus dapat beroperasi di laut curam dan pendek yang merupakan karakteristik lautan di kepulauan Indonesia.
Pendiri PT Lundin adalah suami-istri John Ivar Alan Lundin, 43 tahun dan Lizza, 42 tahun. Jhon berasal dari Swedia, anak dari Alan Lundin, seorang pengusaha pembuat kapal militer di Swedia. Perusahaan keluarga Jhon, Swede Ship, termasuk perusahaan terbesar yang ada di negara yang beribu kota di Stockholm itu.

Sekitar tahun 1990, Jhon datang ke Indonesia untuk menjajaki pengembangan Swede Ship di Nusantara. Saat berada di Indonesia inilah, Jhon mengenal Lizza, perempuan asal Banyuwangi yang saat itu bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Sebelum ekspansi bisnis di Indonesia terealisasi, ayah Jhon meninggal karena kanker pada tahun 1996. Setahun kemudian, Jhon menikahi Lizza dan menetap di Swedia untuk meneruskan perusahaan ayahnya.  Namun tak lama, krisis ekonomi yang menerpa Eropa membuat Swede Ship terkena imbasnya hingga bangkrut dan akhirnya dijual.

Lizza bercerita, setelah bangkrutnya Swede Ship dia mengajak suaminya itu untuk mendirikan perusahaan kapal di Indonesia. Mereka akhirnya memilih menetap di Banyuwangi dan mendirikan PT Lundin Industry Invest pada 2001. "Selain tempat saya lahir, Banyuwangi punya laut yang cukup luas dan masih sepi," kata dia saat berbincang dengan Tempo di ruang kerjanya, Senin, 10 September 2012.

Mimpi lama Jhon untuk mendirikan perusahaan kapal di Indonesia seolah menjadi kenyataan. Jhon bercerita, Indonesia membuatnya jatuh hati karena merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Namun sayang potensi ini belum didukung dengan alutsista yang canggih dalam jumlah memadai. "Dengan laut seluas itu, Indonesia harus punya banyak kapal perang yang berteknologi tinggi," kata Jhon yang menjabat direktur di PT Lundin.

Dia pun berambisi untuk mengisi peluang bisnis itu sekaligus berkontribusi menjadikan Indonesia setara dengan negara-negara lain yang mampu menciptakan kapal militer super canggih. "Mimpi saya seolah terwujud, Indonesia akhirnya mampu menciptakan kapal yang belum ada sebelumnya di Asia," kata lelaki kelahiran Swedia, 15 Februari 1969 ini.


Awal perusahaannya berdiri berada di kampung halaman Lizza, di desa/kecamatan Singojuruh yang berada sekitar 20 kilometer selatan kota Banyuwangi. Jauh dari hiruk pikuk kota, PT Lundin tidak langsung memproduksi kapal perang melainkan memulai usahanya dari furniture berbahan kayu jati.

Furniture dipilih lebih dulu karena merupakan teknik dasar dalam membuat kapal. Menurut Lizza, interior kapal jenis apapun berasal dari kayu sehingga keterampilan ini harus dikuasai lebih dulu oleh karyawannya.
Lundin mulai siap memproduksi kapal pada 2003 namun masih terbatas pada jenis kapal untuk rekreasi, memancing, diving dan olahraga. Kapal yang dipesan perorangan ini merupakan kapal berlambung tunggal dengan panjang rata-rata 10,3 meter.

Produksi kapal rekreasi ini ternyata banyak diminati di luar negeri seperti Malasyia, Brunei Darussalam, Hongkong, Australia, Dubai hingga Eropa. Dalam setahun, PT Lundin mampu memproduksi kapal rekreasi minimal 16 unit. "Hingga saat ini mungkin sudah 70 unit yang sudah terjual," kata perempuan kelahiran 7 Juli 1970 tersebut.

Uji coba PT Lundin untuk memasuki industri kapal militer dilakukan pada 2006 dengan mengikuti pameran alutsista di Jakarta. Saat itu dia membawa produk pertamanya, X2K Interseptor RIB, sebuah sekoci cepat berbahan komposit dengan panjang 11,3 meter serta kecepatan 50 knot.

Ternyata produknya dilirik oleh Rajadiraja Malasyia yang kemudian ditindaklanjuti dengan kedatangan polisi Malasyia itu ke Banyuwangi. Saat itu juga Malasyia memesan 6 unit sekoci cepat. "Konsumen kapal militer pertama kita justru Malasyia," kata Lizza yang juga menjadi direktur PT Lundin.

Kerja sama PT Lundin dengan TNI AL baru terjadi setahun kemudian pada 2007 dalam pembuatan satu unit kapal patroli cepat jenis Combat Catamaran X38. Kapal ini memiliki panjang 12,4 meter, kecepatan jelajah 40 knot serta  didesain dapat beroperasi di perairan dangkal.

Dengan semakin berkembangnya industri kapal, PT Lundin memutuskan untuk memindahkan pabriknya yang semula berada jauh dari laut, ke tempat dimana saat ini berdiri. Kantor plus galangan baru seluas 3 hektare tersebut berbatasan langsung dengan perairan Selat Bali.

Didukung dengan 300-an karyawan, terhitung sejak 2007-2012, PT Lundin telah memproduksi 68 kapal cepat jenis combat catamaran dan RIB. Selain TNI AL, mitra tetapnya adalah Badan Kordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla), Badan SAR Nasional, serta organisasi konservasi seperti The Nature Conservancy dan World Wide Fund (WWF).

Selain pasar dalam negeri, kapal militer buatan PT Lundin juga telah memperkuat alutsista polisi Malasyia, Angkatan Laut Brunei Darussalam, Thailand, Hongkong, Kamboja, Uni Emirat Arab, Australia, Belanda, Swedia dan Arab Saudi. PT Lundin sendiri telah memiliki International Marine Certification Institute (IMCI) atau Certicate Europe (CE) agar produknya diterima di kawasan Asia dan Eropa. Perusahaan yang telah memiliki cabang di Singapura ini mengantongi ISO 9001-2008.

Manajer Marketing PT Lundin, Allan Boon, menjelaskan, keunggulan produk perusahaannya karena dibuat dengan teknologi mutakhir berbahan komposit modern dari resin vinylester yang dikombinasikan dengan proses inti vacuum resin baru infusion. Komposit, kata dia, merupakan aplikasi yang dibentuk dengan menggabungkan dua atau lebih bahan sedemikian rupa sehingga unsur bahan komposit masih bisa dibedakan dan tidak sepenuhnya dicampur.

Aplikasi komposit tersebut, Allan melanjutkan, saat ini populer dipakai dalam industri pesawat terbang, kereta api bahkan raket tenis. Komposit lebih banyak keuntungan dibanding alumunium di antaranya mampu bertahan lebih dari 30 tahun, biaya perawatan lebih murah, bahan bakar lebih irit, dan lebih ringan. "Selain itu juga anti radar, magnetik serta tidak panas," kata Allan yang berasal dari Australia. Namun karena masih langkanya bahan baku di Indonesia, PT Lundin masih mengimpor bahan baku komposit tersebut dari Australia.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Untung Suropati, mengatakan, TNI AL cukup puas dengan berbagai produk yang diciptakan PT Lundin. Menurut dia, perusahaan tersebut lebih inovatif dalam mengembangkan teknologi perkapalan kelas dunia.  "Teknologi komposit karbon yang dipakai dalam KRI Klewang merupakan pertama di dunia," kata dia saat dihubungi Tempo, Selasa, 11 September 2012.

Menurut Untung, TNI AL membutuhkan lebih banyak kapal perang super canggih untuk mendukung kondisi alam Indonesia yang kepulauan. Selama ini alutsista lebih banyak diimpor dari negara lain karena perusahaan dalam negeri belum mampu. "Tapi dengan PT Lundin, kita makin percaya diri untuk menuju kemandirian," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Banyuwangi Hary Cahyo Purnomo, berharap PT Lundin ke depannya dapat melakukan transfer pengetahuan terhadap industri kapal lain yang ada di Banyuwangi.
Selain itu pihaknya juga sedang menyiapkan konsep untuk mempertemukan PT Lundin dengan pihak-pihak yang bergerak di bidang penangkapan ikan. "Supaya apa yang telah dicapai PT Lundin juga merangsang sektor lain yang berbasis kelautan," katanya. IKA NINGTYAS