Páginas

Wednesday, December 5, 2012

"Menulis itu gampang-gampang susah"


Bagi saya yang sudah delapan tahun jadi wartawan, menulis tetaplah sesuatu yang susah. Setiap hari saya memang harus membuat 2-3 tulisan. Tulisan rapi yang mudah dipahami redaktur juga pembaca. Sudah ribuan tulisan berita yang telah saya kerjakan. Namun saya menganggap saya belum benar-benar ahli menulis.

Malah sering, saya menjumpai tulisan saya masih cukup berantakan. Mulai tanda baca yang tidak tepat, kacaunya pemilihan diksi hingga hal paling remeh seperti pemakaian huruf kapital.

Persoalan yang lebih berat jika harus menulis laporan panjang dan features. Saat inilah kreatifitas saya sebagai penulis benar-benar ditantang. Bagaimana saya harus pandai-pandai memilih diksi, mempermainkan kata demi kata hingga menjadi tulisan yang memikat.

Menulis itu susah karena itu adalah kegiatan mewujudkan isi pikiran kita melalui ribuan kata-kata yang telah lebih dulu diseleksi dalam daya imajinasi kita. Dia adalah perpaduan pengetahuan dan kreativitas, penyeimbangan otak kiri dan kanan. Dan, menulis adalah puncak kreativitas tertinggi yang melahirkan peradaban.

Ketika saya telah berhasil menyelesaikan sebuah tulisan, saya bergumam bahwa menulis itu sangat gampang. Terlebih lagi setelah tulisan itu terbit, seolah saya amnesia dengan kegalauan selama proses menulis itu masih berlangsung.

Menulis merupakan proses belajar yang tidak boleh berhenti sampai kita mati.