Páginas

Monday, December 10, 2012

Sekali Lagi, Tentang Genjer-Genjer....


Menjelang magrib, sahabat saya memutarkan sebuah lagu untuk saya. Lagu yang sebenarnya sering saya dengar, tapi kali ini dengan aransemen yang sedikit berbeda, bahasa yang berbeda: bahasa khmer dari Kamboja.

Sayangnya saya tidak bisa berbahasa Kamboja. Tapi lirik asli lagu itu adalah begini:

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emak'e thole teko-teko mbubuti genjer
Emak'e thole teko-teko mbubuti genjer
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tolah-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih


Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar
Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar
Emak'e jebeng podho tuku nggowo welasah
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Setengah mateng dientas yo dienggo iwak
Setengah mateng dientas yo dienggo iwak
Sego sak piring sambel jeruk ring pelonco
Genjer-genjer dipangan musuhe sego


Yah, itu lagu berjudul Gendjer-gendjer. Sebuah band dari Los Angeles, Dengue Fever,  membawakan lagu itu dalam bahasa Khmer. Saya dan sahabat -mungkin karena kurang gaul, baru mengetahui karya Dengue Fever itu, meski sudah diunggah ke Youtube sejak Juni 2011. Terlambat tidak apalah, daripada tidak tahu sama sekali :)

Meski dibawakan dalam bahasa orang, Gendjer-gendjer tetap menghipnotis saya, membayangkan bagaimana perjalanan panjang lagu itu mulai diciptakan dalam kepedihan, dinyanyikan sebagai simbol perlawanan, dicekal, hingga kemudian dinyanyikan kembali sebagai kenangan.

Barangkali itulah alasan mengapa Dengue Fever memilih Gendjer-gendjer. Sang gitaris, Zac Holtzman, menulis sejarah kelam tentang lagu yang diciptakan Muhammad Arief tersebut: "Lagu itu awalnya ditulis selama pendudukan Jepang di Indonesia selama Perang Dunia II. Ketika makanan begitu langka bahwa orang-orang terpaksa makan gendjer, gulma yang tumbuh di sawah".

Zac meneruskan, "Lagu kembali muncul pada 1960-an di Indonesia ketika menjelang kudeta militer. Siapapun yang tertangkap mendengarkan atau bernyanyi gendjer-gendjer dianggap musuh pemerintah."

Muhammad Arief, lelaki asal Banyuwangi, adalah seorang seniman angklung yang tinggal di Temenggungan. Lagu 'Genjer-genjer', ia ciptakan tahun 1943, untuk menggambarkan sulitnya kehidupan saat pendudukan Jepang.

Romusha yang dipaksakan saat jaman Jepang telah membuat sawah-sawah petani terbengkalai. Kelaparan di mana-mana. Di tengah kondisi itu, istri Mohammad Arif, Sayekti menghidangkan genjer sebagai makanan. Genjer yang menjadi gulma di sawah yang biasanya menjadi makanan bagi ayam dan itik, akhirnya dikonsumsi manusia.

Mulanya lagu genjer-genjer dibawakan Muhammad Arif bersama grup kesenian angklungnya. Lagu itu baru terkenal sekitar tahun 1960-an setelah dibawakan oleh Lilis Suryani dan Bing Slamet, kemudian sering diputar di radio.

Partai Komunis Indonesia menjadikan lagu tersebut sebagai propaganda, dan inilah awal mengapa genjer-genjer akhirnya distigmakan sebagai lagu 'kiri'. Dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer, digambarkan bahwa lagu genjer-genjer dinyanyikan oleh Gerwani saat menyiksa 7 jenderal di Lubang Buaya.

Selama Orde Baru lagu genjer-genjer kemudian dilarang, hilang di peredaran, senasib dengan penciptanya yang hingga kini tak pernah diketahui nasib dan pusaranya.

Genjer-genjer kembali dinyanyikan setelah Era Reformasi atau sekitar 1999. Video klip Lilis Suryani dan Bing Slamet di era tahun 60-an diunggah ke youtube, disetel kembali di radio. Berbagai band musik Indonesia mulai berani membawakan lagu ini ke panggung. Dan, ratusan tulisan untuk meluruskan sejarah tentang lagu ini sudah tersebar di media massa.

Saya pernah menemui Sayekti dan Sinar Syamsi, anak Muhammad Arief, pada tahun 2006. Mereka tinggal di sebuah rumah yang sederhana, bercat tembok kusam, di jalan Basuki Rahmat, kota Banyuwangi.

Saat bertemu, Sayekti tidak lagi mampu berbicara (Sayekti meninggal satu tahun kemudian pada 2007). Hanyalah Sinar Syamsi yang menceritakan sepenggal kisah tentang ayahnya, kisah saat dia masih berusia 11 tahun.  Dia menunjukkan tiga buku berisi lirik-lirik lagu tulisan tangan Muhammad Arief. Ada lirik lagu genjer-genjer di sana, di antara kertas-kertas yang lusuh, tak lagi utuh.

Dan, lagu yang hampir berumur 70 tahun itu masih syahdu dinyanyikan sepanjang masa....

***

Foto: Teks asli Gendjer-gendjer yang ditulis Muhammad Arief
Sumber foto: http://www.tokoh-lingkarberita.com/2011/08/sinar-syamsi-anak-pencipta-lagu-genjer.html