Páginas

Thursday, January 3, 2013

Sampah-sampah yang Membunuh


Dua orang itu -lelaki dan perempuan, menyita perhatian di suatu siang ketika saya dan keluarga kecil berlibur ke Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo. Saat itu, saya sudah siap-siap check out dari Resort Bekol, tempat saya menginap.

Keduanya ternyata menginap di tempat yang sama, tapi saya tidak tahu dia menempati kamar berapa. Siang itu, 30 Desember 2012 lalu, keduanya juga nampak bersiap-siap meninggalkan Bekol.



Perhatian saya tersita ketika si lelaki mengeluarkan karung kosong dari dalam ranselnya. Mereka kemudian memunguti sampah plastik yang tercecer hampir di seluruh lokasi penginapan. Mereka tukang sampah? Ah tidak mungkin! Wajah si lelaki terlalu ganteng untuk jadi tukang sampah. Penampilan mereka juga jauh lebih rapi dan mbois.

Saya hanya memandangi aktivitas mereka sekitar 10 menit karena akhirnya harus menambal ban sepeda saya yang bocor. Beberapa saat saya sudah lupa, karena urusan ban bocor ini lebih penting dari segalanya. Sebab bila tak ada tukang tambal, atau gagal ditambal, alamat saya akan tinggal lebih lama lagi di Baluran. Apalagi, perut sudah keroncongan. Sebab untuk bisa menikmati nasi, kita harus menempuh jarak 3 km menuju Resort Bama.

Untunglah, ada salah seorang petugas Baluran yang cukup berpengalaman dalam soal tambal-menambal ban. Meski kondisi ban dalam saya sudah parah, akhirnya dia berhasil juga menutup lubang-lubang. Artinya, saya bisa segera sarapan pada pukul 10.00 WIB.

Saya, suami dan si kecil Fakhri akhirnya menuju Bama. Melaju pelan, sambil menikmati matahari yang bersinar terik. Saat terik inilah, Baluran mencapai eksotikanya. Seperti orang menjuluki Baluran sebagai Africa van Java, saya benar-benar merasakan layaknya di pedalaman Africa. Savana yang luas dengan pepohonan yang meranggas.

Satu kilometer melaju, saya menemukan kembali dua sosok lelaki dan perempuan itu. Saya takjub, mereka berjalan kaki sambil menggotong karung yang kini isinya sudah penuh sampah plastik. Rupanya mereka memunguti sampah sepanjang perjalanan itu.

Saya lebih dulu tiba di Bama. Menuju kantin dan memesan nasi goreng serta soto. Setelah makanan habis kami santap, atau sekitar 45 menit kemudian, dua sosok itu muncul. Duduk di depan saya. Mula-mula, si penjaga kantin yang bertanya dengan keheranan. "Itu tadi bawa sampah?"

Si cewek menjawab. "Iya bu. Mungut di jalan. Itupun sampahnya masih banyak, karungnya sudah ndak muat."

Mereka membuang sampah tadi ke tempat sampah yang ada di Bama. Setelah kosong, karung dilipat lagi dengan rapi lalu dimasukkan ke ransel.

Saya mengobrol dengan mereka tanpa saling berkenalan menyebutkan nama. Tapi dari obrolan itu akhirnya saya tahu, mereka adalah backpacker asal Depok yang akan berkeliling ke sejumlah tempat wisata di Jawa Timur. Dan, kemudian, mereka menyinggung tentang sampah...

Saya pamit terlebih dulu meninggalkan Bama. Dalam perjalanan pulang itu, saya mengedarkan pandangan mencari-cari sampah. Saya tertegun, karena menjumpai botol-botol minuman dan berbagai bungkus makanan ringan bertebaran sepanjang 3 kilometer -sebelumnya luput dari pandangan saya. Tentu saja, satu karung yang mereka bawa tak akan sanggup memuat seluruh sampah itu.

Sampah-sampah yang ditinggalkan manusia. Entah karena lupa cara membuang yang tepat atau memang tak pernah peduli. Tapi saya lebih condong itu karena ketidakpedulian.

Saya tidak tahu, apakah akan ada petugas yang akan memunguti sampah-sampah itu? Atau dibiarkan saja menyesaki rumput dan pepohonan? Apakah setiap hari sedemikian banyak sampah yang bertebaran?

Setumpuk pertanyaan yang meresahkan. Seperti keresahan negara-negara seperti Singapura, Jepang dan Cina yang jauh-jauh hari sudah berkampanye bahaya sampah plastik bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Bahkan mereka juga mengurai pemakaian plastik untuk kebutuhan sehari-hari.

Plastik yang tak mudah terurai itu menjadi pencemar lingkungan. Plastik baru bisa terurai setelah ribuan tahun. Jika terurai pun, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah (Musriyenti dalam Analisadaily, 9 September 2012).

Sampah memang tak hanya menyesaki Baluran, tapi sudah menjadi persoalan serius di setiap tempat wisata. Mungkin begitulah gambaran wisatawan kita yang belum menjadi wisatawan bertanggungjawab. Tak sekedar memuji keindahan alam, tapi seharusnya turut menjaga keindahan itu dengan tak membuang sampah plastik sembarangan.

Pengelola wisata bisa mensiasati itu dengan menyediakan tempat sampah lebih banyak dan memberi sanksi bagi pengunjung yang ketahuan membuang sampah tidak ada tempatnya. Upaya penyadaran memang harus dibarengi sanksi dari setiap pelanggaran.

Dan, apa yang dilakukan dua backpacker itu dengan memungut sampah, adalah langkah kecil yang telah membuka mata saya. Semoga membuka mata Anda juga.

Mari selamatkan bumi!

Sumber foto: Republika.co.id