Páginas

Thursday, January 24, 2013

Wajah Sepak Bola Kita



Gerimis belum kering. Daun pintu bercat hitam itu sedikit terbuka. Saya mengetuknya perlahan, "Selamat sore," suaraku lirih.

Saya berdiri ragu di depan pintu. Entah, laki-laki itu ingin ngobrol apa. Saya baru bertemu untuk mewawancarai dia, lebih dari dua pekan silam. Itu pun tak pernah berkenalan karena saat itu ada lebih dari lima wartawan yang juga menyesaki kamar kos-kosan lelaki itu. Tapi Rabu sore kemarin, 23 Januari, sms dari Ketua Suporter Laros, Pak Mustain, mengabarkan dia ingin ngobrol dengan saya.


Pak Mustain tak mau bilang dia akan mengobrol tentang apa. Dan, kenapa harus saya? Selama ini saya jarang menulis tentang sepakbola. Selain karena tak paham, saya tak begitu tertarik sepakbola. Biar saya tak canggung, saya akhirnya mengajak sahabat saya yang juga wartawan.

Lelaki itu datang dengan muka lusuh, baru bangun tidur. Matanya sayu. Badannya yang tegap di balik kaos putih itu terlihat lemah. "Lagi sakit?" tanyaku. Dia menjawab, "Sudah lebih baik sekarang," kata dia.

Lelaki itu, Moukwelle Ebanga Sylvian. Bertubuh hitam dan berambut kribo. Dia warga negara Perancis yang sudah setahun lebih tinggal di Banyuwangi, memperkuat Persewangi dalam Divisi Utama sejak 15 November 2011-2012.

Moukwelle duduk di hadapan saya. Berbicara panjang lebar selama 1,5 jam tentang sepakbola. Tentang pengurus klub sepak bola Banyuwangi (Persewangi) yang terus menerus memberinya janji untuk membayar tunggakan gajinya yang kurang Rp 160 juta.

Dia membuka cerita itu dengan kabar yang baru dia terima lewat handphone. "Ibu saya kena kanker. Saya diminta kirim uang. Ibu ingin ketemu saya," suaranya gemetar, ada nada putus asa di sana.

Dia lalu berkisah tentang berbagai upaya untuk menagih haknya.  Lewat sms, telepon, menemui langsung. Tapi nihil. Dia hanya mendapat janji.  "Mereka jawab sedang berusaha, masih cari pinjaman. Begitu terus. Tapi sampai sekarang gaji tetap tidak dibayar"

"Mungkin sudah 20 surat saya kirimkan ke Persewangi, ke Pengcab PSSI, ke PSSI, ke Dinas Pemuda dan Olahraga, kepada bupati. Tapi tidak ada itu jawaban. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi caranya".

Dalam surat perjanjian bersama Persewangi, Moukwelle seharusnya mendapatkan imbalan total Rp 297.500.000 yang terdiri dari gaji, sign fee dan ticket. Namun sejak Januari 2012 hingga Juli 2012, Persewangi belum membayar hak Moukwelle senilai Rp 167.500.000.

Sejak Januari tahun lalu, Moukwelle hanya hidup dari sisa tabungan. Suatu ketika tabungannya mulai menipis. Dia malah jatuh sakit. Hampir selama sepekan dia dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Banyuwangi. Dalam kondisi sakitpun ternyata tak membuat pengurus Persewangi tergerak untuk melunasi gajinya.

Persewangi lolos ke Divisi Utama pada awal 2011. Selama berada di Divisi 1, Persewangi menggantungkan dananya dari APBD. Alokasi anggarannya hingga Rp 4 miliar dalam setahun. Saat masuk ke Divisi Utama --yang syaratnya tidak boleh dibiayai APBD, tak lantas menjadikan keuangan Persewangi mandiri.

Tanpa suntikan APBD, menjadikan pengurus kalang kabut mencari uang. Pemda setempat pernah beberapa kali minta saweran ke sejumlah pengusaha. Tetapi tak satupun sponsor berminat membiayai Persewangi.

"Waktu masih bermain, saya tanyakan itu kondisi keuangan Persewangi. Pengurus bilang supaya saya tenang saja. Katanya ada sponsor yang mau masuk. Tapi ternyata tak pernah ada itu sponsor. Saya heran, katanya ketua Persewangi itu pengusaha. Tapi kenapa tidak berhasil mencari sponsor. Pengusaha macam apa kalau begitu." Moukwelle kembali berkisah.

Yang lebih mengherankan saya, adalah kenapa para pengurus Persewangi itu begitu nekat melanjutkan kompetisi di tengah kondisi keuangan yang tak pasti? Hingga berani pula merekrut pemain asing yang gajinya berkali-lipat lebih mahal itu?

"Suatu hari saya sedang pusing di kamar. Saya coba lihat itu seleksi pemain di stadion. Ternyata juga ada pemain asingnya. Dia lalu menghampiri saya, dan bertanya, katanya gaji saya sudah dilunasi. Saya terkejut, tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa bilang kalau gaji saya sudah lunas".

Ya, bisa dibilang Moukwelle geli bercampur marah. Bagaimana bisa, disaat gajinya belum dibayar, Persewangi ternyata berani melakukan seleksi pemain untuk kompetisi akhir Januari nanti.  Dia pun mengingatkan pemain baru itu, "Saya tidak ingin mengganggu latihan kalian. Tapi yang perlu kalian tahu, kalau Persewangi sudah bayar gaji saya, saya tak perlu lagi ada di sini. Sampai sekarang mereka belum lunasi gaji saya. Terserah keputusanmu, kalau ingin bernasib sama seperti saya."

Cerita Moukwelle kemudian meluas tentang dunia sepakbola di Indonesia. Bagaimana kebingungannya dengan dualisme PSSI dan KPSI yang juga merambet hingga ke daerah-daerah. Dan, pengurusnya yang sama-sama ngotot menganggap organisasi sepakbolanya yang paling benar. Dia tertawa getir.

"Tapi pemain-pemainnya cukup antusias. Mereka beramai-ramai gabung ke ISL, kelompok lain memilih IPL. Mereka senang, meski bermain tanpa kontrak. Selama ini cuma saya yang bermain dengan kontrak. Kalau tidak ada kontrak, bagaimana mereka akan menuntut ke hukum bila kasus seperti saya terjadi. Tapi mereka tak pernah mempersoalkan itu. Bagi pemain lokal, mungkin dibayar satu juta- dua juta mereka sudah senang."

"So, kamu akan menuntut hukum?" tanya saya. Pada pertemuan dua minggu lalu, saya pernah menanyakan ini. Tapi saat itu dia menjawab tidak akan menuntut karena prosesnya sangat panjang dan melelahkan. Rupanya jawaban dia sore kemarin sudah berubah.

"Ya mungkin itu cara terakhir, semua dokumen dan bukti lengkap saya kumpulkan,"

"Kamu menyesal sudah ke Indonesia?"

Matanya lekat memandang lantai. "Dari banyak daerah saya main, baru di Banyuwangi seperti ini. Daerah ini kaya, sangat kaya. Semua ada di sini. Daerahnya bagus. Tapi kenapa pengurusnya tak mampu menghidupi sepakbola. Sepakbola itu butuh organisasi. Organisasi butuh manajemen. Kalau manajemennya tidak bagus, sepakbola tidak bisa kuat."

"Saya hanya meminta hak saya. Saya sudah bermain, saya sudah melakukan tugas saya. Kalau dilunasi, saya akan pulang, saya punya satu anak."

Lalu, hening...
Saat hening itu saya pamit undur diri. Saya yakin Moukwelle sudah menceritakan semuanya untuk saya olah jadi tulisan.  Tapi, sudah ratusan tulisan tentang Moukwelle yang beredar di internet, toh tidak membuat pengurus Persewangi itu terbuka hatinya.

Ah, sebagai orang Indonesia saya benar-benar malu. Acakadut dunia sepakbola Tanah Air ini telah memakan banyak korban, dan Moukwelle hanyalah salah satunya.