Páginas

Friday, March 1, 2013

Anak: Dalam Bayang-bayang Kekerasan


Akhir-akhir ini saya sungguh tak tahan menonton televisi atau membaca berita. Hampir tiap hari selalu ada saja berita tentang kekerasan pada anak-anak.

Bagaimana sanggup mendengar ada balita yang dianiaya ibunya sendiri hingga tewas. Bocah yang kepalanya dibenamkan di ember karena ibunya malu kemaluan anaknya kecil. Anak yang diculik kemudian dibunuh karena orang tuanya tak sanggup membayar uang tebusan. Bayi-bayi malang yang dijual hingga luar negeri.



Di berita yang lain masih sering saya menjumpai bayi baru lahir dibuang bapak ibunya di tong sampah hingga akhirnya kaku dan mati.

Anak laki-laki yang disodomi. Balita perempuan yang diperkosa hingga meregang nyawa.

Duh Gusti, negeri apa ini? Saat naluri manusia sudah lebih rendah dari binatang. Kebanyakan pelaku-pelaku kekerasan pada anak justru dilakukan orang-orang terdekatnya. Ironis!

Permasalahannya memang cukup kompleks, klise tapi tak kunjung selesai. Kemiskinan yang membuat orang tua tak sanggup membesarkan bayinya. Kemiskinan yang membuat si ibu depresi sehingga melampiaskan pada anaknya. Kontruksi sosial yang memberi label hitam pada gadis-gadis yang hamil di luar nikah.

Tapi, tak sedikit pula anak-anak dari keluarga mapan menjadi korban kekerasan. Ini karena, mereka berpikir dengan menghajar anak-anak itu bagian dari mendidik. Toh, si anak tak akan mampu melawan. Dan orang dewasa pun puas!

Tentunya masih banyak lagi anak yang jadi korban kekerasan yang lain: tidak bisa sekolah, tidak mendapat fasilitas kesehatan memadai, hidup di sanitasi yang buruk, dan bekerja mencari rupiah.

Saya baru saja menyelesaikan novel Ayu Utami berjudul "Si Parasit Lajang". Ada tulisan menarik pada halaman 193:

"Kalau kita mau menjebloskan anak ke dunia ini, yang harus dipikirkan adalah anak itu sendiri. Anakmu bukanlah milikmu, begitu kata Khalil Gibran. Tapi, ingat anakmu adalah kamu yang menyebabkan. You play god, beneran! Kamu pula yang menyebabkan kebahagiannya atau penderitaannya. Di zaman ini, tak ada anak durhaka. Adanya orangtua durhaka. Jadi, kita tidak harus beranak. Kita boleh beranak asal kita berjanji tidak akan jadi orangtua durhaka."

Pesan yang menyentak bagi orangtua. Tapi, dengan kerentanan yang dimiliki anak, dia tidak lagi menjadi urusan domestik saja. Perlindungan terhadap anak menjadi tugas negara.

Indonesia telah memiliki UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dengan undang-undang ini, sudah seharusnya pemerintah melakukan langkah nyata untuk mengurangi kekerasan pada anak dan menyelamatkan masa depan anak-anak yang telah jadi korban.

Mengapa harus negara? Karena kepada anak-anak itulah negara ini dititipkan. Jika mereka hidup dalam bayang-bayang kekerasan, bagaimana kelak nasib Tanah Air ini?

sumber foto: wirawan-bima.blogspot.com

3 comments:

  1. Pesan yang menyentak semua pihak,ya mbak. Seharusnya kini orangtua lebih mewaspadai dan memperhatikan tumbuhkembang anak dengan dibekali mental rohani yang kuat. Maaf ya mb kalo gak nyambung.Slm kenal:)

    ReplyDelete
  2. iyah kuncinya memang pada orangtua
    tapi lagi2 memang tidak sesederhana itu. Miskin ekonomi kadang harus mencerabut orangtua dari anak2 mereka. Seperti para TKW yang meninggalkan keluarga demi kelangsungan hidup orang2 yang mereka sayangi. Pendidikan yang baik dan kesehatan layak umumnya tak pernah tersedia untuk keluarga2 miskin. Bagaimana mereka bisa hidup berkecupukan dengan hanya lulusan sd atau smp? jadi ini memang urusan negara

    ReplyDelete
  3. selain yang kamu sebutkan, aku juga sangat muak melihat tingkah pola anak di beberapa sinetron. mereka macam robot yang menyukai kekerasan. boleh jadi, itu mereka tampil di sinetron karena desakan orangtuanya.

    orangtua kadang suka memaksakan kehendak dan ambisinya pada sang anak. itu juga bentuk kekerasan psikologis pada anak-anak.

    ReplyDelete