Páginas

Wednesday, March 13, 2013

Kejutan dari Dalam Lembaga Pemasyarakatan

Sugianto membuka mushaf raksasa yang berdiri di depan aula Lembaga Pemasyarakatan. Dia memilih surat Al Fatihah, surat pertama di kitab suci Al Qur'an itu. Dia kemudian melantunkan ayat demi ayat, yang menyihir ratusan narapidana yang menontonnya.

Senin pagi, 4 Maret, lelaki berusia 32 tahun itu memberi dua kejutan. Selain lantunan indah Al Qur'an, mushaf berukuran 1,1 meter x 80 centimeter itu adalah karyanya. Itu adalah mushaf terbesar pertama di Indonesia yang dibuat oleh seorang narapidana.

Sebelum masuk ke LP Banyuwangi 2,5 tahun lalu, mantan satpam ini sama sekali tak bisa baca-tulis Al Qur'an. Namun dia punya bakat membuat sketsa yang tak terlalu ia dalami. Saat berada di jeruji, Sugiyono dengan intens berdiskusi soal agama dengan dua ustad yang juga mendiami LP, Mahmud dan Yusuf Nuris "Tiba-tiba saya ingin menulis Al Qur'an berukuran besar," kata dia kepada Tempo, Senin 4 Maret 2013.

Ide itu disambut baik oleh sejumlah narapidana lain, termasuk Kepala LP Banyuwangi Krismono yang saat ini telah menjabat Kepala LP Sidoarjo. Para narapidana sepakat saweran hingga terkumpul uang Rp 10 juta. Dari uang itulah dibelanjakan untuk membeli 310 lembar kertas berukuran jumbo, tinta, dan pena. "Yang belanja bahan biasanya titip ke supir LP," kata lelaki yang divonis 6 tahun karena pencabulan terhadap anak.

Sugiyono memulai menulis mushaf pada 7 Maret 2012. Pekerjaan itu ia lakoni di masjid At Taubah yang berada di lingkungan LP. Dia memanfaatkan waktu istirahat untuk menulis antara 3 hingga 4 lembar. Setiap lembarnya butuh waktu dua jam. Ada dua narapidana lain yang membantu membuat garis-garis pada keempat sisi kertas.

Setiap lembar tulisan yang dibuat, diperiksa langsung oleh dua kyai tersebut. Begitu seterusnya, hingga sembilan kemudian pada 23 November, lelaki asal Desa Wongsorejo itu merampungkan seluruh mushaf dengan sempurna. Kantor Kementerian Agama Banyuwangi pun membubuhkan stempel peresmian. 

Namun bagi Sugiyono dia seperti tak percaya Al Qur'an di depannya itu adalah hasil tangannya. "Ini semua mujizat dari Allah," katanya. Dia berniat ingin tetap menulis mushaf asalkan ada orang yang mau membiayainya. "Saya tak kuat biaya sendiri," kata lelaki yang harus menjalani hukuman penjara 3,5 tahun lagi.

Mushaf raksasa karya Sugiyono langsung menyedot perhatiaan Kementerian Hukum dan HAM. Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham, Mochammad Sueb, datang langsung ke Banyuwangi Senin, 4 Maret lalu untuk melihat karya Sugiyono. 

Mushaf itu akan ditempatkan di masjid milik Kemenkumham di Jakarta. "Ini karya yang luar biasa," kata Sueb yang baru dilantik Januari 2013 lalu. IKA NINGTYAS