Páginas

Monday, August 19, 2013

Berkah Perahu Bekas

Tossan mengamplas sebuah rak botol di bagian belakang bengkel meubelnya. Rak setinggi dua meter itu harus diperhalus setelah sebagian body-nya yang berlubang didempul dengan lem kayu. Setelah halus, rak tersebut memasuki tahap akhir yaitu divernis dengan warna coklat salak.

Bentuk rak kayu tersebut berbeda dari yang lain. Bagian alas hingga tengah memiliki lebar 40 centimeter dan meruncing pada bagian atasnya. Beberapa lajur besi untuk tempat gelas terpasang di bagian bawah. Sedangkan bagian atas terdapat dua sekat untuk menempatkan botol-botol minuman. 

Rak seharga Rp 1,1 juta itu terbuat dari perahu bekas yang dipotong menjadi dua di bagian tengahnya. Benda itu merupakan produk andalan Usaha Dagang Barokah yang berada di Jalan Raya Banyuwangi, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Mempertahankan bentuk perahu, UD Barokah memodifikasinya menjadi meubel rumah tangga yang cukup unik. Selain rak minuman, produk lain yang laris dipesan adalah rak buku dan sofa perahu. Ketiga jenis produk ini memakai perahu layar bekas yang memiliki panjang 4 meter.

Rak buku berbentuk hampir sama dengan rak minuman, memiliki empat sekat dari atas ke bawah, namun tanpa lajur-lajur besi. Sofa perahu tak kalah uniknya. Setelah perahu dipotong dua, bagian tengahnya yang terbuka ditutup dengan papan kayu. Sofa ini dimodifikasi dengan menambahkan kayu pada bagian belakang dan samping untuk bersandar punggung serta tangan. Harga sofa kayu ini dibanderol Rp 1,5 juta.

Selain itu, UD Barokah juga memanfaatkan perahu jaring bekas sepanjang 12 meter menjadi berbagai furniture lain seperti meja, almari, kursi dan rak dapur. Untuk furniture tersebut perahu hanya diambil kayunya saja tanpa mempertahankan bentuk aslinya.

Keunikan bentuk meubel dengan memanfaatkan perahu bekas ini, mengantar UD. Barokah ke sejumah negara. Menurut pemilik UD Barokah, Muhammad Abdullah Farid,  sebagian besar produknya dikirim ke Jerman, Perancis, Belgia dan Taiwan. Sementara pasar nasional merambah ke Bali dan Yogyakarta. "Rata-rata setiap negara ekspor 300 unit per bulan," kata dia kepada Tempo, Selasa 4 Juni 2013.

Lelaki 27 tahun itu, merintis usaha tersebut pada 2007. Dia mendapat keterampilan mengelola meubel, saat bekerja sebagai marketing di seorang pengusaha asal Jerman yang membuka usaha di Situbondo tahun 2006. Namun usaha tersebut hanya bertahan tujuh bulan karena sepi. Farid akhirnya memutuskan membuka meubel sendiri.

Dua tahun memulai usaha, daur ulang perahu bekas hanya terjual sekitar 30 unit per bulan. Farid kemudian terpikir untuk menawarkan produknya ke mantan bosnya di Jerman. Ternyata instingnya membuahkan hasil. Sejak 2009 dia mulai ekspor ke Jerman. Memanfaatkan internet, dia menggencarkan promosi ke beberapa negara serta mengikuti pameran nasional. Dari jalan inilah, Farid mendapatkan jaringan ekspor ke sejumlah negara tersebut. Kini omzetnya mencapai Rp 10 juta per bulan dengan jumlah karyawan 15 orang.

Menurut pria lulusan SMAN 1 Panji ini, dia memakai perahu bekas sebagai bahan karena daerahnya pesisir. Selama ini perahu-perahu yang rusak milik nelayan hanya teronggok di pantai. Sebagian bahkan langsung dibakar oleh pemiliknya. "Saya tertantang untuk mengubahnya menjadi barang bernilai," kata dia.

Satu perahu layar bekas berukuran empat meter dia beli seharga Rp 500 ribu. Sedangkan perahu jaring yang berukuran 12 meter dibeli dengan harga Rp 5 juta - Rp 10 juta. Sebagian besar perahu-perahu tersebut dibuat dengan kayu trembesi atau dikenal dengan kayu suwar. Harga perahu bekas sebagai bahan baku ini jauh lebih murah dibanding menggunakan kayu lain seperti jati yang harganya bisa mencapai Rp 3 juta per meter kubik.

Secara kualitas, Farid mengklaim, perahu bekas itu mampu bertahan hingga 20 tahun, tak kalah dengan jati, sengon maupun mahoni. Sebab, kadar air pada kayu trembesi yang telah lama dipakai menjadi lebih sedikit sehingga rayap tak mudah hidup. Berbeda pada kayu yang baru ditebang, memiliki kadar air lebih banyak. Rayap pun menjadi cepat menyerang. 

Farid memburu perahu-perahu bekas itu mulai kabupaten tetangga seperti Banyuwangi dan Probolinggo hingga ke Pulau Bawean dan Madura. Dia mengerahkan 20 anak buahnya untuk mencari perahu-perahu bekas itu karena setiap bulan dia membutuhkan paling sedikit 100 unit. Setelah transaksi, perahu-perahu bekas itu dikirim melalui laut menuju Pelabuhan Panarukan, Situbondo. Kemudian diangkut menggunakan truk ke bengkel UD Barokah yang berjarak sekitar 10 kilometer. 

Pengiriman bahan  terkadang memakan waktu hampir dua pekan. Penyebabnya sering terkendala cuaca buruk atau mesin rusak. Lamanya pengiriman ini menjadi hambatan serius bagi usaha Farid. Padahal dia dituntut mengirim order tepat waktu. "Belum ada solusinya," kata ayah satu anak ini.