Páginas

Monday, August 19, 2013

Serba Banyuwangi di Dapur Oesing

Lagu daerah Banyuwangi menghentak-hentak dari pengeras suara. Beraliran dangdut koplo, lagu itu menemani santap siang Niklas Andreas bersama enam orang koleganya, Kamis 13 Juni 2013. Beberapa mangkuk rujak soto telah terhidang di atas meja.

Di wisata kuliner Dapur Oesing itu, Niklas menjamu tamunya sekaligus menggelar rapat kecil membahas klub sepak bola daerahnya, Persewangi. "Meeting maupun acara keluarga sering saya gelar disini," kata Humas Persewangi ini, 13 Juni 2013.


Dapur Oesing menjadi satu-satunya pusat kuliner terbesar di kabupaten paling timur Pulau Jawa ini. Oesing sendiri merupakan nama etnis asli Banyuwangi. Lokasinya cukup strategis di jalan utama kota. Terletak di Jalan Ahmad Yani, sekitar 1 kilometer utara kantor Pemerintah Banyuwangi.

Dapur Oesing menempati area seluas hampir satu hektare. Bangunan utamanya berada di bagian depan, berupa rumah kuno dua lantai peninggalan kolonial Belanda. Hampir setiap hari ratusan orang mampir ke pusat kuliner yang baru berdiri 2011 lalu ini. Sebab, selain masakan tradisional, Dapur Oesing juga menyediakan oleh-oleh dan berbagai kerajinan tangan khas Banyuwangi. 

Konsep wisata kuliner Dapur Oesing dengan melibatkan usaha kecil menengah. Ada 20 UKM yang menjajakan masakan tradisionalnya, lengkap dengan gerobak-gerobak yang didesain seperti rumah mini. Menu tradisional yang terkenal antara lain  rujak soto, sego tempong, dan pecel rawon. 
 
Merujuk pada namanya, rujak soto berarti rujak yang dicampur soto. Rujak terdiri dari aneka sayuran, lontong, yang dicampur bumbu kacang. Kemudian disiram dengan kuah soto berisikan kulit sapi. Makanan ini paling sedap disantap untuk makan siang dengan harga hanya Rp 8 ribu per mangkok. 

Sego alias nasi tempong berarti nasi yang 'menampar'. Maksutnya adalah rasa pedas sambal yang akan membuat wajah memerah seperti kena tampar. Sego tempong terdiri dari berbagai sayuran, ikan asin, perkedel jagung, serta sambal. Per porsi hanya Rp 5 ribu. 

Sedangkan pecel rawon berarti perpaduan pecel dan rawon. Pecel juga terdiri dari sayuran yang diberi bumbu kacang kemudian disiram dengan kuah rawon daging. Berbeda dengan rujak soto yang menggunakan lontong, pecel rawon memakai nasi. Harganya pun murah meriah, cukup Rp 10 ribu per porsi.

Bila lidah Anda tidak cocok dengan menu tradisional Banyuwangi, jangan kuatir. Menu lain yang lebih populer seperti soto, ikan bakar, dan ayam panggang juga tersedia. Atau kuliner khas daerah lain seperti rujak cingur khas Surabaya pun tersaji. 

Setelah kenyang menyantap makanan, Anda bisa bergeser ke pusat oleh-oleh dan art shop yang bangunannya menempel dengan tempat kuliner. Ada 50an jenis camilan, batik Gajah Uling serta berbagai kerajinan tangan. 

Camilan yang paling dicari pengunjung adalah kue bagiak, sale pisang dan krupuk cumi. Namun kue bagiak paling laris. Kue sepanjang jari telunjuk orang dewasa ini bahan utamanya dari tepung terigu dan susu yang kemudian dioven hingga kering. Rasanya bisa dipilih sesuai kesukaan mulai rasa durian, kacang, keningar, stroberi, wijen, nangka dan jahe. Harga paketnya bervariasi, terendah Rp 5.800 dan paling mahal Rp 40 ribu per kotak. 

Bila hobi mengkoleksi batik, maka batik khas Banyuwangi bermotif dasar gajah uling akan memperkaya koleksi Anda. Motif ini berbentuk bunga yang menyerupai belalai gajah. Jenis batiknya tersedia mulai cetak, semi cetak dan batik tulis dengan ukuran dua meter. Harganya masing-masing Rp 85 ribu, Rp 150 ribu dan Rp 750 ribu.

Oleh-oleh terakhir yang bisa dibawa pulang adalah kerajinan tangan yang terbuat dari bambu, kayu manis dan kerang. Namun souvenir yang paling diburu adalah patung gandrung. Gandrung merupakan tarian khas Banyuwangi yang bercirikan memakai mahkota di kepala, jarik batik, dan selendang berwarna merah. Patung setinggi setengah meter dijual seharga Rp 700 ribu. 

Pemilik Dapur Oesing, Made Utari, mengatakan, jumlah pengunjungnya pada hari normal berkisar 100 orang. Namun bila musim libur sekolah, jumlah pengunjung membludak tiga kali lipat. Letak Dapur Oesing, kata dia, diuntungkan karena menjadi perlintasan wisatawan yang akan menuju Pulau Bali atau Kabupaten Jember. "Setiap hari selalu ada pembeli dari Bali dan Surabaya," kata dia. IKA NINGTYAS