Páginas

Friday, September 20, 2013

Pahitnya Nasib Petani Kedelai

Membawa sebuah ember, Samijan berkeliling ke lahan tanaman kedelai milik juragannya. Bulir kedelai yang tua, dia petik lalu dimasukkan ke ember itu. Namun wajahnya tak terlalu sumringah. Tanaman kedelai seluas 0,7 hektare atau sebahu itu tumbuh lebih pendek, sekitar 25 centimeter. "Terlalu sering hujan," kata lelaki 55 tahun ini, Selasa sore, 17 September 2013.

Samijan memprediksi hasil panen hanya 6 kuintal. Padahal bila hujan jarang datang, tinggi kedelai varietas anjasmoro itu bisa satu meter dan hasil panen pun hingga 12 kuintal. Tapi untunglah, anjloknya panen terbantu dengan harga kedelai yang sedang melonjak hingga Rp 8 ribu per kilogramnya. Pada panen triwulan sebelumnya, harga kedelai lokal hanya Rp 6.200 per kilonya.

Tanaman kedelai di Desa Curahjati, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Jawa Timur itu ditumpangsari dengan tanaman jeruk siam. Pemilik lahan, Buntas Triono, 46 tahun, mengatakan, itu adalah lahan terakhirnya yang ditanami kedelai. Buntas sejatinya memiliki empat bahu atau 2,8 hektare sawah yang sejak tahun 1994 ditanami kedelai. Kemudian pada tahun 2000an, tiga bahu sawahnya beralih ke jeruk siam. 

Sebahu sisanya yang ditumbuhi kedelai itu juga mulai beralih ke jeruk. Setahun lalu, Buntas telah menanam bibit jeruk di antara tanaman kedelai tersebut. Saat umur jeruk tiga tahun pada 2015 nanti, maka seluruh tanaman kedelai sudah harus dibersihkan. "Saat ini umur jeruk masih satu tahun, bisa ditumpangsari dengan kedelai," kata Buntas.

Alihfungsi kedelai ke jeruk siam, kata Buntas, sedang jadi trend di desanya. Hal itu karena komoditas kedelai tak lagi menjanjikan. Tak stabilnya harga menjadikan petani mereguk untung pas-pasan. Dia mencontohkan, harga kedelai bisa jatuh ke Rp 5.000 per kilogramnya saat panen raya. Padahal supaya bisa untung, harga kedelai harus berada dikisaran Rp 7 ribu - Rp 8 ribu.

Menurut Buntas, sebahu tanaman kedelai membutuhkan biaya tanam mulai ongkos buruh, benih, pupuk dan pestisida sebesar Rp 2 juta. Dalam kondisi ideal, panen kedelai mencapai 12 kuintal setiap tiga bulan. Bila harga jual Rp 5 ribu perkilonya maka pendapatan kotor petani Rp 6 juta. Setelah dikurangi biaya tanam, penghasilan bersih Rp 4 juta. "Berarti per bulannya kita hanya mendapat Rp 1,3 juta," katanya.

Padahal bila hujan lebih banyak turun seperti saat ini, panen kedelai tinggal separuhnya. Buntas memperkirakan, dengan harga jual Rp 8 ribu perkilonya, pendapatan kotor bulan ini hanya Rp 4,8 juta. Padahal dia yakin meroketnya harga kedelai ini tak akan berlangsung lama. "Setelah kedelai impor masuk, harga pasti terjun bebas lagi," keluh bekas kepala desa Curajati ini.

Dibandingkan kedelai, hasil jeruk siam lebih menggiurkan bagi petani. Sekali panen, kata Buntas, petani jeruk bisa mendapatkan Rp 125 juta untuk sehektare lahan. Harga jeruk selama ini lebih stabil pada kisaran Rp 6 ribu - Rp 6.500 per kilogramnya. Meskipun biaya tanam jeruk lebih mahal yakni Rp 20 juta per hektare, tapi hasil panennya bisa membuat petani kaya-raya. "Jeruk juga lebih tahan hujan," katanya.

Buntas menyambut baik terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 25 yang menetapkan harga beli kedelai melalui Bulog sebesar Rp 7 ribu perkilogramnya. Meski dia menilai peraturan ini terlambat sebab petani kedelai sudah mendesakkan peraturan tersebut lima tahun lalu. Dia pun enggan untuk beralih kembali ke kedelai. "Sudah terlanjur enak tanam jeruk," kata Buntas yang pernah jadi tengkulak kedelai ini.

Bila warga Desa Curahjati beralih ke jeruk, di desa tetangganya, Glagahagung, sebagian besar petani masih mempertahankan kebiasaannya menanam kedelai. Menurut Karno, salah satu petani, kedelai ditanam dua kali setahun setelah padi. Saat musim penghujan bulan November - Februari, petani menanam padi. Enam bulan berikutnya petani memilih kedelai. "Di sini sulit air," kata dia.

Menurut Karno, petani masih menanam kedelai karena biaya tanam dan perawatannya lebih murah yakni Rp 1 juta, dibandingkan beralih ke jeruk seperti desa tetangganya. Meskipun, dia mengakui keuntungan menanam kedelai pas-pasan dan tak tahan hujan. Dengan lahan kedelai seperempat bahu, Karno hanya mendapatkan 2 kuintal kedelai saat panen hari itu. Hujan yang sering datang membuat panennya jeblok dari triwulan sebelumnya yang mencapai 3,5 kuintal. Beruntunglah harga kedelai di tengkulak naik dari Rp 6.200 ke Rp 8.150 ribu. "Untungnya tipis," kata dia. 

Sejak tahun 2010, Karno memang tak hanya mengandalkan kedelai. Untuk mensiasati keadaan, Karno yang memiliki setengah bahu sawah, menanami separuhnya dengan jagung dan cabe rawit. Kedua komoditas itulah yang memberinya pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari. 

Ayah tiga anak ini meminta pemerintah untuk menjaga kestabilan harga kedelai seperti saat ini, paling rendah Rp 8 ribu per kilonya. Di bawah itu, kata dia, petani akan mudah beralih ke tanaman lain. Selain itu, pemerintah diharapkan membuat benih unggul kedelai yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca. 

Lahan kedelai Kabupaten Banyuwangi merupakan terluas di Jawa Timur. Namun dalam tiga tahun terakhir, luasan lahan kedelai terus menyusut. Data Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan dan Holtikultura menunjukkan pada 2009 luas lahan kedelai Banyuwangi mencapai 37.677 hektare. Namun pada 2010 dan 2011, lahannya menjadi 36.912 ha dan 36.068 ha dengan produksi sebesar 66.094 ton. 

Kepala Bidang Pertanian Pratmadja Gunawan, mengakui, menyusutnya lahan kedelai ini karena petani beralih ke komoditas jeruk. Sebab, sekali panen tanaman jeruk bisa menghasilkan 34 ton per hektare sedangkan kedelai hanya 2 ton per hektare. "Tanaman jeruk lebih menjanjikan," katanya. IKA NINGTYAS