Páginas

Thursday, October 31, 2013

Diplomasi Meja Makan

Kejutan itu tak selalu bernilai besar. 
Mendapat seperangkat meja makan pun adalah kejutan bagi saya....

Kemarin petang, setiba di rumah, saya terkejut karena di dapur sudah ada empat kursi kayu melengkapi meja makan. Pemberinya pasti ayah saya tercinta. Meja makannya telah tiba lebih dulu dua bulan sebelumnya. Berukuran 2x3 meter, berwarna coklat dari kayu sengon. Tak menyangka jika ayah akan melengkapi dengan kursinya sekaligus, dengan warna dan jenis kayu yang sama.



Saya lalu berpikir bagaimana ayah bisa masuk rumah saya yang terkunci. Setelah saya tanya ternyata dia memiliki kunci cadangan. Saya baru menempati rumah ini Mei 2013, lima bulan lalu. Dan sebelumnya memang tak punya meja makan. Ayah pernah bilang kalau harganya sekitar Rp 800an ribu. Awalnya saya menolak ditawari meja makan itu. Tapi diam-diam ayah memesankannya juga ke salah satu tukang kayu.

Bangun tidur pagi tadi, saya menjajal salah satu kursi itu. Duduk sendiri sambil menikmati segelas energen hangat. Saya mengelus meja di depan saya, yang penuh debu karena seminggu lebih tak saya bersihkan. Mejicom yang terbuka karena sebelumnya saya lupa menyimpan nasi selama tiga hari. Penutup makanan, gelas kotor, sendok, bungkus energen dan beberapa uang logam. Berantakan, sungguh!

Saya yakin, pasti ketika ayah melihat mejanya kotor, dia hanya bisa menghela napas. Dia sudah mahfum kalau saya ini memang malas bersih-bersih rumah. Tapi ada yang lebih menyedihkan lagi. Bahwa saya tak pernah bisa memanfaatkan meja makan ini sesuai fungsinya. Jarang ada makanan yang terhidang, karena saya tak bisa memasak. Saya anak warung. Mulai sarapan sampai makan malam, semuanya beli di warung!

Saya juga tak pernah bisa menjadikan tempat ini untuk makan bersama suami dan bocah lanang saya. Suami saya kerja di Surabaya dan pulang ke Banyuwangi sebulan sekali. Bocahku lebih banyak tidur bersama neneknya. Ya, keluarga saya memang tak punya budaya makan bersama dalam satu meja makan. Kalaupun ada, biasanya hanya saat puasa Ramadhan, tempatnya pun di meja ruang tamu :). Makan, buat kami, bisa dimana saja, termasuk tempat tidur sekalipun.

Beruntunglah yang punya kebiasaan makan bersama keluarga dalam satu meja. Anggota keluarga akan bertemu secara rutin, bercanda, berkomunikasi, bersyukur atas makanan yang diberikan, meski waktu makan hanya berlangsung 15-30 menit. Romantis, nampaknya...

Makan bersama dalam satu meja/tempat (sepertinya) bukan hanya baik untuk kehidupan keluarga. Cara ini juga positif diterapkan dalam kehidupan sosial. Jokowi, mantan Walikota Solo yang kini gubernur DKI Jakarta menjadikan makan bersama dalam satu meja sebagai salah satu bentuk pendekatan dengan warganya. Dia melakukan "diplomasi meja makan" ini untuk memecah kebuntuan komunikasi dengan rakyatnya.

Cara Jokowi memang efektif. Sebelumnya nyaris tak ada pemimpin yang mau makan bersama --dalam satu meja dan makanan yang sama-- dengan rakyatnya. Sebagai pemimpin, dia tak berjarak!

Kebanyakan dalam kegiatan-kegiatan pejabat yang saya ikuti, warganya cuma kebagian nasi bungkus. Tapi pejabatnya makan dengan menu-menu mewah yang dikemas prasmanan. Saya pernah melihat di dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, biaya makan-makan pejabat bisa mencapai miliaran rupiah dalam setahun. Ah, mereka makan enak, toh dari duit rakyat juga!

Dan, diplomasi meja makan menjadikan Jokowi bisa menata pedagang kaki lima tanpa pergolakan.

Dalam bentuk lebih luas sebenarnya masyarakat punya budaya makan bersama dalam satu tempat. Tradisi-tradisi selametan untuk menunaikan hajatan tertentu (perkawinan, sunatan, kehamilan, kematian dll), tak mengenal strata sosial. Seluruh warga -pejabat atau tidak, kaya atau miskin-- duduk bersama dan menikmati hidangan yang disajikan setelah ritus-ritus tertentu. Sajian makanan itu dibuat secara bersama-sama pula, yang biasanya ditugaskan kepada para perempuan.

##

Saya meneguk energen terakhir hingga tak tersisa. Saya langsung bangkit, meraih kain, membersihkan debu-debu yang tercecer di meja makan. Satu-persatu perkakas di atasnya saya cuci bersih. Meja saya tata rapi. Keempat kursinya saya rapatkan. Sudah bersih kembali. Meski tak pernah ada makan bersama dalam satu meja, paling tidak dia layak untuk dipandang.

Makasih ayah....
Doakan suatu saat ada kehidupan "normal" di meja makan coklat ini.

Banyuwangi, 30 Oktober 2013.


**Keterangan foto: Itu meja makanku sebelum dibersihkan. Berantakan banget kan? :)