Páginas

Friday, October 25, 2013

Lelah

Pernahkah pikiranmu tiba-tiba berhenti? Dan, kamu merasakan kepala dan matamu lelah amat sangat? Ya, Jumat pagi ini ketika tiba-tiba saya tak sanggup berpikir. Kepala saya berat. Kedua mata saya ingin terpejam lebih lama.

Di meja saya laptop masih menyala. Ada bejibun pekerjaan yang belum selesai. Bikin TOR kebebasan pers, peta riset kekerasan jurnalis, formulir keanggotaan AJI yang tercecer di email, editing buku, materi penulisan untuk siswa SMP. Dan, yah saya baru teringat nanti sore harus ke kampus menyelesaikan studi yang sudah 7 tahun tak beres-beres.



Saya harus mengakui sedang terserang lelah. Jujur terhadap diri sendiri adalah salah satu obat. Ini bukan lelah yang pertama. Tapi sudah kesekian kali. Tiba-tiba mata saya yang berat memandang kosong ke depan.

Lelah adalah manusiawi. Terutama bagi saya. Ketika semuanya terjadi dalam satu waktu: bekerja, menjadi ketua dua organisasi, dan kuliah. Sebagai perempuan, saya adalah istri dan seorang ibu. Betapa susahnya membagi waktu supaya menjadi perempuan yang adil terhadap tugas domestik dan sosialnya.

Terkadang saya sering menyalahkan masa lalu. Itu manusiawi juga. Saya berpikir bahwa perencanaan hidup saya yang salah. Menikah di usia 24 tahun saat kuliah saya masih semester 5. Dan, dua tahun kemudian saya hamil dan melahirkan bocah lanang. Di luar dugaan juga, saya diberi amanah dua kali menjadi pemimpin organisasi profesi dan komunitas sejarah yang saya bentuk 2010. Padahal saya ingin istirahat. Tapi begitulah, tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Menyalahkan masa lalu tentunya bukan solusi. Karena saya telah memilih dan memutuskannya dengan sadar. Saya sudah tahu konsekuensinya jauh-jauh hari. Baiklah, mengakui bahwa saya sedang lelah semoga lebih meringankan. Barangkali ini sinyal bahwa tubuh saya ingin berjeda sejenak saja. Semoga saya segera pulih dalam waktu yang tak terlalu lama.

#perempuan, 25 Oktober 2013.

Sumberfoto: Palingseru.com