Páginas

Wednesday, January 22, 2014

Merkuri yang Mengancam Laut Selatan

Mariono berulang kali melempar pancingnya di muara sungai Lampon, Banyuwangi, Jawa Timur. Belasan ikan terongan yang sesekali berlompatan ke atas sungai, masih enggan memakan umpannya. Selama dua jam memancing itu, masih dua ekor ikan terongan yang ia dapatkan.

Lelaki pembuat gula kelapa itu, menyalurkan hobi memancingnya di Sungai Lampon tiap sepekan sekali. Paling sedikit ia bisa membawa pulang satu kilogram ikan terongan. Di rumah, ikan-ikan tersebut ia goreng untuk makan anak-istrinya. "Kalau malam hari yang mancing bisa dua puluhan orang," kata warga Kecamatan Siliragung, Banyuwangi, Selasa 18 Juni 2013.



Secara kasat mata, kondisi sungai yang bermuara ke laut selatan itu nampak baik-baik saja. Airnya bening, pantainya berwarna hitam mengkilat diterpa sinar matahari. Jejeran mangrove yang tumbuh di sepanjang aliran sungai menambah elok pemandangan yang berjarak sekitar 90 kilometer arah selatan kota Banyuwangi itu.

Pandangan mata ternyata tak menjamin sungai itu aman. Baru-baru ini peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Susintowati,  merilis bahwa sungai Lampon mengandung merkuri melebihi batas aman. Dia meneliti kualitas sungai tersebut secara intens sejak 2010-2012, untuk tesis pascasarjana di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Susintowati mengatakan, akumulasi merkuri dalam sedimen muara mangrove di sungai itu mencapai 0,45 ppm, sedangkan di bibir muara yang berbatasan dengan laut selatan, kandungan merkurinya hingga 1,17 ppm. Padahal menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 51 Tahun 2004, batas aman merkuri di alam  hanya 0,1 ppm dan dalam air sungai 0,07 mg/liter. "Merkuri merupakan pencemar yang membahayakan," kata dia, Kamis 20 Juni 2013.

Merkuri tersebut telah merasuk ke tubuh kerang dan siput yang hidup di sungai Lampon.  Pada siput mangrove (Terebralia sulcata), kandungan merkuri mencapai 3,1 ppm. Dalam tubuh siput pantai (Nerita argus) hingga 3,03 ppm dan dalam tubuh siput batu (Patella intermedia) sebanyak 0,44 ppm. Akibatnya, sel-sel otak dan paru-paru ketiga mollusca itu mengalami kerusakan.

Bentangan sungai yang terpapar merkuri diperkirakan hingga 2 kilometer ke arah hulu. Hal ini berdasarkan uji tingkat keasinan air sungai pada radius 1 kilometer ke hulu dan tegakan mangrove hingga dua kilometer. "Meski begitu masih harus ada pengujiaan lagi," kata dosen Pendidikan Biologi ini.

Menurut Susintowati, pemisahan bijih emas rakyat yang berdiri 100 meter dari sungai Lampon menjadi penyumbang pencemaran ini. Pemisahan bijih emas atau yang disebut warga lokal dengan penggelondongan tersebut beroperasi sekitar 2008 lalu dan ditutup 4 Juni 2011. Selama beroperasi tiga tahun, limbah yang mengandung merkuri langsung dibuang ke sungai Lampon.

Pusat penggelondongan itu berupa bangunan berukuran 9 meter x 35 meter yang terbuat dari batako dan masih berdiri hingga saat ini. Di dalamnya ada 20 bak berukuran 1 x 2 meter sebagai wadah mesin penggelondongan emas. Bagian bawah, empat kolam sedalam satu meter dipakai untuk menampung limbah. Sementara puluhan karung berisi material masih teronggok di lantai.

Di dalam dan luar bangunan ini, Tempo masih menjumpai sisa-sisa limbah berupa lumpur berwarna kekuningan yang telah mengering di tanah. Penelitian Susintowati, menunjukkan, kadar merkuri di rumah penggelondongan ini mencapai 65,52 ppm. Sementara pada bekas saluran pembuangan limbah di belakang bangunan, kandungan merkurinya tertinggi yakni 634,19 ppm.

Pusat penggelondongan emas ini hanya berjarak satu kilometer dari Markas Marinir Lampon. Sehingga untuk menuju tempat penggelondongan dan sungai lampon itu, warga harus melewati markas yang ditutup dengan palang pintu.

Salah satu penambang tradisional, Junaedi, bukan nama sebenarnya, mengatakan, pusat penggelondongan tersebut milik seorang juragan emas bernama Paino, warga Pesanggaran.  Dulunya, pusat penggelondongan emas itu beroperasi 24 jam dan ribuan penambang datang ke rumah itu.

Untuk menggelondongkan satu karung berisi 15 kilogram material, kata dia, dibutuhkan lima ons merkuri dan 20 liter air. Seluruh merkuri disediakan dengan cuma-cuma oleh pemiliknya. Para penambang hanya diwajibkan menjual hasil emasnya ke si juragan plus potongan 10 persen untuk biaya sewa gelondongan. "Satu gram emas dibeli Rp 280 ribu," kata lelaki berusia 60 tahun ini.

Tempo menghitung, bila terdapat 20 mesin gelondongan dengan waktu proses setiap mesin 2 jam, maka setiap hari ada 240 kali proses penggelondongan. Dengan 20 liter air yang dipakai, berarti setiap hari ada 4.800 liter limbah yang mengandung merkuri dibuang ke sungai Lampon.
sekali proses, maka limbah yang terbuang mencapai 360 kilogram setiap hari. "Limbahnya langsung dibuang ke sungai," kata Junaedi, asal Kabupaten Situbondo, Jawa Timur ini.

Tempat penggelondongan itu akhirnya berhenti beroperasi setelah polisi mengobrak-abrik tempat itu pada 2011 karena dianggap ilegal. Pemilik dan puluhan penambang yang berada di lokasi tersebut ikut ditangkap. Seluruh mesin gelondongan diangkut menggunakan truk.

Rohim, penambang lainnya, mengatakan, saat penggelondongan masih beroperasi mereka mendapat pasokan merkuri atau yang mereka kenal dengan air raksa, dari penambang asal Bogor, Jawa Barat. Saat itu ada seratus lebih penambang asal Bogor yang eksodus ke Banyuwangi. Mereka kerap menjual merkuri dan berbagai peralatan penggelondongan emas. Satu kilogram merkuri biasanya dijual Rp 1,6 juta. "Mereka cari emas, sekalian berdagang," kata dia.

Menurut Susintowati, meski aktivitas pertambangan telah berhenti, ternyata efek cemar merkuri tetap berlangsung. Meskipun sisa-sisa limbahnya di sungai kini telah terdeposisi amblas ke bawah endapan sungai, sehingga tak kasat mata. Dia yakin butuh waktu lama untuk mengurangi tingginya kadar merkuri sebab umur merkuri di tanah bisa mencapai seribu tahun bahkan hingga 3.200 tahun di samudera.

Meski belum ada penelitian kandungan merkuri di tubuh ikan, dia menyarankan supaya warga tidak memakan ikan yang hidup di sungai Lampon. Dulu saat penggelondongan beroperasi, banyak ikan ditemukan mati. Sehingga tidak menutup kemungkinan, ikan-ikan di sungai Lampon juga telah terpapar merkuri. "Sejumlah warga ada yang mengandalkan mangrove untuk cari ikan belanak dan bandeng," kata perempuan berjilbab ini.

Pemancing seperti Mariyono tak mengetahui adanya pencemaran merkuri yang mengincarnya.  "Saya tak tahu," kata dia. Eko, nelayan setempat juga tak mengetahui kalau merkuri berbahaya bagi kesehatan. Bahkan bila tak ada ikan, dia terpaksa mencari kerang pantai. "Saya belum dengar kalau ada pencemaran," kata Eko.

Susintowati menyimpulkan, bahwa tambang rakyat dengan skala kecil ternyata mampu memberikan efek cemar yang begitu besar. Dia khawatir tingkat pencemaran di laut selatan akan tinggi, bila ada eksploitasi pertambangan emas dalam skala besar yang saat ini diusahakan oleh perusahaan PT Bumi Suksessindo.

Pertambangan rakyat mulai beroperasi pada 2008, setahun setelah perusahaan pertambangan emas, PT Indo Multi Niaga (IMN) mengantongi kuasa eksplorasi perusahaan emas seluas 11.621,45 hektare di kawasan hutan blok Gunung Tumpang Pitu, Kecamatan Pesanggaran. Hampir tujuh ribu penambang dari masyarakat lokal maupun luar daerah seperti Bogor, Kalimantan, dan Sumbawa mencari emas di hutan-hutan yang masuk konsesi perusahaan.

Hasil eksplorasi PT IMN pada 2009, memperlihatkan potensi emas di Tumpang Pitu mencapai 2 juta ounce dan perak 80 juta ounce. Nilai tambangnya ditaksir sekitar US$ 5 miliar atau sekitar Rp 50 triliun. Namun karena konflik internal perusahaan, konsesi pertambangan sejak Juni 2012 dialihkan ke PT Bumi Suksesindo. Masa eksplorasi perusahaan tersebut habis pada pertengahan 2014 dan dijadwalkan akan meningkat ke eksploitasi.

**

Sepuluh mesin gelondong berbentuk tabung berdiameter 30 centimeter, telah berputar selama dua jam. Enam orang lelaki, langsung berbagi tugas. Mula-mula tutup satu tabung dibuka, kemudian mengalirlah cairan berwarna abu-abu dari lubang saluran bawah. Cairan-cairan itu disaring dan airnya ditampung dalam sebuah bak berdiameter 60 centimeter.

Dalam saringan, butiran-butiran halus bercampur dengan cairan merkuri berwarna silver. Butiran berkilauan itu dibersihkan lagi dalam dua bak lainnya berisi air jernih. Proses terakhir, adalah memeras cairan merkuri menggunakan kain. Beberapa menit, Andi Suherman yang membuka isi kain menggeleng kepada teman-temannya. "Kosong, tidak ada emasnya, " ucap dia dengan kecewa.

Proses tersebut merupakan pemisahan bijih emas rakyat milik bekas juragan ikan, Sarjiono, di Dusun Pulau Merah, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Sarjiono mendirikan penyewaan penggelondongan emas itu di belakang rumahnya sejak 2012 lalu dengan modal Rp 26 juta.

Sejak pusat penggelondongan emas milik Paino ditutup, dalam dua tahun terakhir muncul penggelondongan di  rumah-rumah. Ada sekitar 70 penggelondongan yang dipakai pribadi, dan 20 yang disewakan alias rental seperti milik Sarjiono. Penggelondongan pribadi memiliki 1- 3 mesin sedangkan rental 5 - 10 mesin.

Suparjiono, 50 tahun, bercerita, dalam sebulan memakai 5 kilogram merkuri untuk 20 kali proses pemisahan bijih emas. Satu mesin biasanya menghaluskan 3 kilogram material, 20 liter air dan 0,3 kilogram merkuri. Dengan demikian limbah yang dihasilkan untuk 10 mesin, mencapai sekitar 200 liter sekali proses. Limbah cair berwarna abu-abu langsung dibuang ke belakang rumahnya, berupa sebuah kebun seluas setengah hektare.

Setahun beroperasi, limbah yang telah padat dan kering menumpuk di halaman belakang rumah Suparjiono. Tempat penampungan limbah itu hanya berjarak 10 meter dari sumur yang dipakai untuk minum dan MCK.

Dari usaha rental itu, Suparjiono bisa mendapat penghasilan hingga Rp 10 juta sebulan. Penghasilan itu didapat dari 10 persen total harga emas hasil gelondongan serta untung menjual emas. Bila emas dibeli seharga Rp 280 ribu per gram, Suparjiono bisa menjual lagi ke pengepul seharga Rp 310 ribu per gram. "Gelondongan kadang dapat 1 gram hingga 40 gram emas," kata dia.

Total pemasukan itu, kata Suparjiono, lebih besar dibandingkan saat dia menjadi juragan ikan. Apalagi di saat cuaca tak menentu, ikan jarang didapat. Selain itu, hampir seluruh nelayan di wilayah Pesanggaran kini telah beralih menjadi penambang emas. "Jadi saya ikut beralih ke emas," kata lelaki yang telah 10 tahun menjadi juragan ikan.

Suparjiono membeli merkuri dengan harga Rp 1.750.000 per kilogram lewat beberapa pemasok di wilayahnya. Dia berdalih bahwa bahan kimia ini aman bagi lingkungan. "Sudah lima tahun ada tambang rakyat, tidak ada yang tercemar dan sakit," katanya.

Dia mengatakan sebenarnya bisnis ini ilegal karena pertambangan emas rakyat belum berijin. Namun dia tak takut, karena aparat keamanan setempat telah mengetahui bisnis tersebut dan rutin menyambangi rumahnya.

Kordinator penambang rakyat Pesanggaran, Imam Asrofi, menjelaskan, peredaran merkuri di daerahnya dipasok oleh dua orang. Namun dia enggan menyebutkan namanya. Merkuri biasanya didatangkan dari Jember dan Surabaya. Tetapi beberapa penambang membeli sendiri ke sebuah toko bahan kimia di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Imam menyadari, bahwa merkuri sebenarnya berbahaya. Namun pemakaian merkuri tidak bisa dikontrol karena pertambangan rakyat belum berijin. Sehingga penggelondongan emas belum terpusat dan banyak penambang yang belum memahami bagaimana memakai merkuri secara aman. "Solusinya, pertambangan rakyat harus dilegalkan," katanya.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur, Ony Mahardika, mengatakan, pola aktivitas pertambangan rakyat tersebut juga terjadi di seluruh pertambangan di Indonesia. Dia menyebut, ada upaya mobilisasi penambang rakyat yang awalnya dari luar daerah yang kemudian diikuti warga lokal. "Tidak mungkin penambang itu tiba-tiba ada, kemungkinan ada yang mengerahkan," katanya.

Menurut Ony, limbah merkuri pada penggelondongan emas di rumah-rumah sangat berbahaya karena dapat meresap ke sumur melalui pori-pori tanah. Merkuri juga berpotensi masuk ke pori-pori kulit manusia, karena penambang tidak memakai alat saat memproses emas.

Bahaya merkuri, kata dia, tidak terjadi seketika melainkan  bersifat akumulatif dalam waktu minimal lima tahun. Gejala awalnya seperti penyakit kulit dan inspeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Jangka panjangnya, merkuri bisa menyebabkan kanker dan rusaknya sel-sel syaraf.

Namun, limbah pertambangan rakyat sebenarnya kecil dibandingkan limbah yang akan dibuang bila perusahaan pertambangan emas di wilayah itu beroperasi. Dia menyebut  tailing yang akan dibuang perusahaan sebesar 2.361 ton ke laut selatan. "Adanya pencemaran yang disalahkan selalu pertambangan rakyat," kata dia.

Pelaksana tugas Kepala Badan Lingkungan Hidup, Husnul Chotimah, mengatakan, belum mengetahui adanya pencemaran merkuri di Lampon. Bila penelitian itu benar, kata dia, maka sangat membahayakan bagi lingkungan dan manusia. Rencananya, dia akan meneliti sungai Lampon pada 2014 mendatang. "Saat ini belum bisa banyak komentar, karena belum tahu hasil penelitiannya," kata Husnul.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan, Hary Cahyo Purnomo, mengatakan, seluruh aktivitas pertambangan tradisional itu ilegal. Tahun 2010 lalu, sejumlah penambang tradisional memang pernah mengajukan ijin namun tak dapat diproses. Para penambang itu, kata dia, belum memiliki ijin pemakaian kawasan hutan untuk kegiatan tambang dari Menteri Kehutanan.

Menurut Hary, aktivitas pertambangan tradisional termasuk peredaran merkuri saat ini menjadi tanggung jawab aparat keamanan. "Kalau ilegal sama sekali tak boleh beroperasi," kata dia.

IKA NINGTYAS