Páginas

Tuesday, February 18, 2014

Bersiaga Menghadapi Bencana: Refleksi Ijen dan Raung

Entah untuk berapa kali saya menulis tentang Gunung Ijen. Bukan tentang keindahannya, tapi tentang ancaman bencana di balik danaunya yang berwarna hijau toska. Gunung di persimpangan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso itu masih berstatus Waspada sejak 26 Agustus 2013. Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Ijen pun kerap mengingatkan bahwa radius 1 kilometer dari puncak harus steril dari manusia.

Gunung Raung juga berstatus Waspada sejak 5 Januari 2014. Radius 2 kilometer tak boleh didekati manusia. Baik Ijen maupun Raung sama-sama pernah mencapai level Siaga. Aktivitasnya naik-turun, seolah menyimpan energi untuk dilontarkan suatu saat nanti.



Ketika Gunung Sinabung lalu disusul Gunung Kelud meletus saya jadi merinding. Saya membayangkan jika dua gunung di perbatasan Banyuwangi itu, Ijen dan Raung, sama-sama meletus. Bukan letusannya yang mengkhawatirkan, tapi siapkah pemerintah terutama pemerintah daerah dan masyarakatnya menghadapi bencana?

Saya yakin Anda sepakat bahwa tidak ada yang bisa menolak datangnya bencana. Namun kita bisa lega, karena kemajuan teknologi saat ini telah melahirkan berbagai sistem peringatan dini bencana. Teknologi telah menyelamatkan ribuan nyawa. Berbeda dengan puluhan tahun lalu saat teknologi belum semaju sekarang, ribuan manusia mati karena terlambat menyelamatkan diri saat bencana datang.

Teknologi hanyalah alat membantu memudahkan manusia mengenali perubahan alam. Selanjutnya pengelolaan bencana sangat tergantung bagaimana manusia memanfaatkan teknologi itu untuk meminimalkan dampak dan menyiapkan dirinya menghadapi bencana.

Tengoklah Gunung Ijen saat ini. Status Waspada tak menyurutkan gelombang manusia yang ingin mendaki hingga ke puncak. Baik penambang belerang maupun wisatawan dari berbagai penjuru Indonesia dan dunia. Bahkan saat status Siaga, Ijen memang tak pernah sepi dari lautan manusia.

Berbagai spanduk peringatan larangan mendaki sebenarnya sudah terpasang di pintu masuk. Tapi penyebarluasan informasi bencana ini tidak semasif promosi wisata Ijen yang digencarkan pemerintah daerah. Hasrat mengeruk pendapatan daerah telah mengesampingkan aspek-aspek keselamatan jiwa manusia.

Menurut Zaenudin Dkk dalam penelitiannya berjudul Prakiraan Bahaya Letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012), sejak tahun 1991
terjadi letusan freatik di Gunung Ijen setiap satu sampai tiga tahun. Sedangkan tahun 1917 sampai 1991 periode letusan tercatat 6 sampai 16 tahun. Letusan besar yang menelan korban manusia
adalah letusan tahun 1817.

Letusan freatik dan letusan di danau kawah berpotensi menghasilkan lahar. Sebab gunung setinggi 2.368 mdpl itu mempunyai danau kawah dengan kedalaman sekitar 190 m dan
mempunyai derajat keasaman yang hampir sama dengan air aki (pH < 0,2) serta volume air danau hingga 36 juta meter kubik.

Ada faktor mengapa penambang belerang dan wisatawan masih nekat mendaki. Penambang belerang yang berjumlah 300-an orang itu sebenarnya pihak paling terdampak dari aktivitas Gunung Ijen. Setiap hari dia harus menghirup gas CO dan Sulfur dari aktivitasnya mengambil belerang di kawah. Namun karena sempitnya lapangan kerja dan terbatasnya level pendidikan membuat mereka tak punya pilihan lain. Pemerintah daerah juga tak punya rencana jangka panjang untuk menyelamatkan nasib penambang.

Wisatawan berdatangan karena informasi promosi wisata tak mencantumkan aktivitas Gunung Ijen yang sebenarnya. Mereka berpatokan adanya penambang belerang yang sehari-hari bisa bekerja, naik-turun kawah. Apalagi tidak ada petugas yang melarang wisatawan untuk mendaki. Sejauh ini antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam saling melempar tanggung jawab mengenai kehadiran para wisatawan ini.

Kondisi tersebut merupakan wajah buruk penangggulangan prabencana di Indonesia. Padahal Gunung Ijen masih dalam status waspada. Saya tak bisa bayangkan bila letusan itu benar-benar terjadi, meskipun saya tak mengharapkan bencana ada dalam waktu dekat. Ada 9 ribu penduduk yang tinggal di kawasan rawan bencana yang akan terdampak langsung. Ancaman Gunung Raung lebih besar yakni  83 ribu penduduk di Banyuwangi, Jember dan Bondowoso.

Siapkah sistem penanganan bencana kita? Saya jawab belum. Sejauh ini penduduk yang tinggal di kawasan rawan bencana belum pernah dilatih menghadapi bencana. Belum ada jalur evakuasi, sistem peringatan dini, serta minimnya berbagai fasilitas pengungsian. Saya ingat, penduduk baru diberi sosialisasi saat status Ijen dan Raung menjadi siaga. Semua sibuk mengumpulkan massa, mengumpulkan tenda dan persiapan lainnya. Tapi setelah status gunung turun, semangat menghadapi bencana pun ikut lunglai.

Iri betul dengan pemerintah Jepang, walaupun saya hanya membaca-baca saja tentang penanggulangan bencana di Negeri Sakura itu. Bukan hanya meningkatkan teknologinya, Jepang juga serius memperbaiki sistem penangangan bencana mulai pra hingga pascabencana. Penduduk di kawasan sekitar bencana mendapatkan buku petunjuk mengenai bencana yang akan dihadapi. Warga bersama pejabatnya secara reguler menjalani latihan penyelamatan, dan membangun jalur-jalur evakuasi untuk menyelamatkan diri.

Terjadinya bencana alam menjadi bagian yang tak bisa kita hindarkan sesuai kondisi geografis Indonesia. Yang bisa dilakukan hanyalah berharmonisasi dengan alam. Manusia yang seharusnya bijak menyesuaikan diri.

Banyuwangi, 18 Februari 2014
Sumber Foto: Tempo/Fully Syafei