Páginas

Saturday, February 15, 2014

Rumah Sunyi WR Supratman

Saya berdiri terdiam di depan rumah itu. Sekitar 10 menit, hanya bisa memandangi rumah mungil itu dari sudut ke sudut. Pintu dan jendelanya rapat tertutup. Sebuah gembok mengatupkan dua daun pintunya yang berwarna kuning pucat.

Patung pria memegang biola berdiri di terasnya. Seluruh tubuhnya bercat hitam-legam, warna kesunyian. Dia tak asing. Saya menghapal namanya sejak kelas 1 sd: Wage Rudolf Supratman. Saya mengingat nama itu bersamaan dengan menghapal lagu kebangsaan ciptaannya, Indonesia Raya.

Di rumah yang beralamat di Jalan Mangga No 21 Surabaya ini, pada 17 Agustus 1938,  WR. Supratman meninggal. Dia menghembuskan napas terakhirnya dalam usia 35 tahun lantaran sakit. Sejak 2009, Pemerintah Kota Surabaya menjadikan rumah ini sebagai Museum Rumah Wafat WR. Supratman.



Tapi saya merasa tak beruntung karena menjumpai rumah ini tertutup. Mungkin kesalahan saya yang tak memulai kunjungan ini dengan riset terlebih dahulu di internet. Pikir saya, museum senantiasa terbuka. Terlebih pada hari Minggu, hari libur, yang seharusnya akan banyak pengunjung datang.

Saya masih tercenung bersama sunyi di rumah itu. Di temboknya tertempel pengumuman bahwa rumah sedang diperbaiki. Tapi saya tak melihat ada bagian yang direnovasi. Ada nomor telepon tertera di kertas itu. Rupanya itu nomor telepon kantor Dinas Pariwisata setempat. Pengunjung diminta lebih dahulu menelpon bila ingin berkunjung. Ah, ribet sekali. Dari internet saya baru tahu museum ini memang lebih sering tutup semenjak ada konflik kepemilikan.

Museum wafat Wr Supratman berada di kompleks perumahan yang banyak dihuni keturunan Tionghoa. Jalanan di depan rumah ini hanya selebar dua sepeda motor. Sempit, maka memang layak disebut gang. Kondisi sekeliling tak kalah sepinya. Atau karena saya berkunjung di jam tidur siang  sehingga tak seorangpun berada di luar rumah.

Arsitektur rumah wafat berbeda dengan rumah di kanan-kirinya yang masih seragam mempertahankan bentuk ala perumahan. Rumah wafat beratap kayu menjulang seperti arsitektur rumah gadang. Jendela dan pintu kunonya masih dipertahankan. Halamannya juga mungil, hanya cukup untuk parkir satu sepeda motor, dan sebuah taman mini yang ditumbuhi beberapa jenis tanaman.

Melihat rumah ini saya makin yakin sedang berada di sebuah negara yang abai pada sejarahnya. Negara yang tak menganggap penting peninggalan pahlawannya. Pasti suatu saat nama WR Supratman makin asing bagi warganya sendiri, senasib dengan karyanya yang barangkali kalah ngetop dengan lagu 'oplosan' yang tiap hari tampil di televisi.

Saya meninggalkan rumah itu dengan langkah berat. Saya menuju rumah abadi WR Supratman di Jalan Kenjeran, Kapasan, sekitar 2 kilometer dari rumah wafatnya. Rumah abadi ini adalah sebuah makam sepanjang dua meter yang diatasnya berbentuk biola. Notasi dan lirik lagu terpahat di makam berkeramik kuning pucat itu:

Indonesia Tanah Airku
Indonesia Tanah Jang Mulya
Indonesia Tanah Jang Sutji

Lirik lagu itu adalah cara WR Supratman mencintai Indonesia. Salah satu karyanya yang penting adalah lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan pada Kongres Pemuda di Jakarta 28 Oktober 1928 yang akhirnya melahirkan Sumpah pemuda. Perjuangan melalui lagu dan biola itu menjadikan pria kelahiran 9 Maret 1903 ini dikejar-kejar polisi Hindia-Belanda.

Sekitar tahun 1930 dia dipindah saudaranya ke Surabaya karena sakit. Melemahnya tubuh, tak membuatnya berhenti berkarya. WR Supratman terus memproduksi lagu-lagu perjuangan hingga 10 lagu banyaknya. Terakhir, ketika dia membawakan lagu Mata Hari Terbit pada Kepanduan Bangsa Indonesia di Jl Embong Malang Surabaya, dia ditangkap lalu dijebloskan ke penjara Kalisosok. Tubuhnya makin melemah hingga akhirnya dia dirawat kerabatnya di rumah Jl Mangga No 21 hingga wafat, tanpa istri dan tanpa anak.

Makam WR Supratman berada di area seperempat hektare, kondisinya rindang banyak pepohonan. Pemugaran makam ini dilakukakan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 18 Mei 2003. Makam ini dilengkapi monumen patung WR Supratman memegang biola beserta deskripsi perjalanan hidup.

Selain saya, ada sekitar 4 pengunjung lain. Ah, sunyi untuk kedua kali. Padahal dengan menjadikan museum dan makam sebagai obyek wisata akan menjadi jalan menghadirkan WR Supratman terus hidup di tengah-tengah bangsanya, melintasi sekian generasi. Sehingga nama dan karya WR Supratman tak sekedar dihapal, tapi kita bisa meneladani perjuangan hidupnya.

Barangkali di balik kubur itu, WR Supratman sudah terbiasa berkarya dalam kesunyian. Dia tak pernah meminta generasi saat ini untuk mengingatnya. Karena tujuannya hanya satu: Indonesia merdeka. Itu seperti ucapannya sebelum terpejam:

"Nasipkoe soedah begini. Inilah yang di soekai oleh Pemerintah Hindia Belanda. Biar saja meninggal, saja iclas. Saja toh soedah beramal, berdjoang, dengan tjarakoe, dengan biolakoe. Saja yakin Indonesia pasti merdeka”.


Banyuwangi, 15 Februari 2014.