Páginas

Friday, May 9, 2014

Manisnya Bertani Manggis

Muchdor berlompatan lincah dari dahan ke dahan pohon manggis setinggi hampir sembilan meter. Membawa sebuah galah yang ujungnya berkantong, dia menggapai buah manggis yang ranum. Beberapa manggis berhasil masuk ke kantong kainnya, tapi tak sedikit pula yang berjatuhan di tanah. "Banyak semutnya," teriak lelaki 50 tahun ini.

Pohon manggis tersebut adalah pohon ke sepuluh yang Muchdor panjat. Selasa siang 14 April itu, dia memperoleh order sebagai juru petik buah manggis di lahan milik pemerintah desa seluas seperempat hektare. Total ada 15 pohon manggis yang telah hidup lebih dari 100 tahun di lahan belakang kantor desa itu.


Ada 60an kilogram manggis telah Muchdor petik. Hasil panenan itu ia letakkan dalam dua keranjang besar di sepeda motornya. Setelah menyelesaikan tugasnya, dia segera beralih memenuhi panggilan pemilik kebun manggis yang lain. Atas jasanya, Muchdor mendapat upah Rp 25 ribu per 6 jam.

Sebagian petani di Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, hari itu sedang bergembira menyambut panenan buah manggis. Hampir setiap hari mereka mempekerjakan juru petik seperti Muchdor atau lainnya untuk memanen buah bernama latin Garcinia mangostana itu. Manggis yang telah dipetik kemudian dibawa ke gudang induk yang sudah 5 tahun berdiri di Desa Pesucen.

Di gudang induk itu, manggis disortir untuk dipisahkan antara yang berkualitas super satu dan super dua. Super satu berarti kulit manggis harus mulus dan daun di tangkainya utuh berjumlah empat berwarna hijau muda. Sedangkan manggis yang kulitnya burik masuk kategori super dua.


Selain menyortir kualitas, manggis juga dipilah berdasarkan jenisnya yakni AAA, AA dan A. Jenis AAA berarti manggis yang berdiameter 10 sentimeter, AA berdiameter 8 sentimeter sedangkan A memiliki diameter 5 cm.

Manggis berkualitas super satu seluruhnya dikirim ke Tiongkok, Singapura, dan Abudabi melalui PT Alamanda Indonesia yang berpusat di Bandung. Pasar di Tiongkok dan Singapura lebih senang mengkonsumsi manggis jenis AAA dan AA. Sementara manggis A menjadi favorit penduduk Abudabi. Manggis A atau disebut manggis bayi disukai karena semakin kecil manggis rasanya lebih manis dan berkulit tipis. "Kalau dimakan tak berbiji," kata Ketua Kelompok Petani Manggis Desa Pesucen, Abdul Rohim.

Masa panen manggis antara bulan April-Juni. Harga manggis super satu dari petani ke supplier sebesar Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan untuk pasar lokal Rp 10 ribu per kilogram. Bila saat panen raya harga untuk pasar lokal akan melorot hingga Rp 6 ribu - Rp 7 ribu per kilogram. Di pasaran, harga buah manggis bisa meroket mencapai Rp 20 ribu per kilogram.

Kabupaten Banyuwangi menjadi sentra manggis di Jawa Timur dengan total produksi sebanyak 20.199 ton pada 2013. Sebesar 40 persen atau sekitar 9 ribu ton dari produksi dikirim ke luar negeri. Luasan tanaman manggis di Banyuwangi pada 2013 mencapai 1.590,5 hektare yang tersebar di 6 kecamatan yakni Kalipuro, Glagah, Licin, Songgon, Sempu, dan Glenmore. Dari 6 wilayah itu, 60 persen produksi manggis disumbang oleh Kecamatan Kalipuro.

Di Kecamatan Kalipuro ada 3 desa yang menjadi sentra manggis yakni Desa Pesucen, Bulusari dan Telemung. Ketiga desa ini terletak 10-15 kilometer arah barat kota Banyuwangi dengan ketinggian 400 meter dari permukaan laut. Letak geografis desa ini memang cocok untuk tanaman manggis yang membutuhkan suhu sejuk.

Di Desa Pesucen saja terdapat 150an petani manggis dengan total luas lahan sekitar 100 hektare. Rata-rata per tahun desa ini memproduksi 1.000 ton buah manggis. Sekitar 200 ton untuk memenuhi pasar ekspor, sedangkan sisanya 800 ton terserap untuk pasar lokal.

Rohim bercerita sebagian besar pohon manggis di lahan tersebut merupakan warisan dari buyut sehingga berusia lebih dari 1 abad. Pohon manggis tua itu tingginya hampir setinggi pohon kelapa. Dalam satu lahan, pohon-pohon manggis itu ditanam tumpang sari dengan pohon kelapa dan cengkeh. Kemudian pada 2008, kelompok petani mendapatkan 2.500 bibit manggis dari pemerintah pusat untuk pengembangan manggis di desa mereka.

Rohim sendiri memiliki 20 pohon manggis di seperempat hektare lahan. Saat panen, satu pohon bisa menghasilkan 125 kilogram buah sehingga total dia mendapatkan 2,5 ton. Omzetnya lebih dari Rp 25 juta per tahun. Perawatan tanaman manggis cukup mudah dengan biaya produksi untuk pupuk dan pestisida hanya Rp 3.750.000 per tahun. "Manggis itu kalau dibiarkan tetap tumbuh dan berbuah sendiri," kata pria 55 tahun ini. 

Desa tetangga yakni Desa Bulusari juga penghasil manggis. Ada 100 hektare lahan manggis di desa ini yang juga berasal secara turun-temurun. Riyanto, petani manggis di Desa Bulusari bercerita dia memiliki 1 hektare lahan yang berisi 60 pohon manggis. Penghasilannya Rp 132 juta per tahun. "Kalau panen raya harga bisa turun drastis," kata dia.


Manggis Banyuwangi baru tembus pasar dunia sekitar tahun 2009. Menurut Rohim, setahun sebelumnya banyak perusahaan yang datang ke desanya untuk melihat kualitas manggis. Perusahaan pertama yang bekerja sama dengan petani Banyuwangi adalah PT Manggis Elok yang mengekspor manggis ke Tiongkok.

Kerjasama itu hanya bertahan hingga 2011 setelah Tiongkok menolak manggis Banyuwangi. Petani terlalu banyak memakai pestisida sehingga residu pada buah manggis dianggap terlalu tinggi. "Akhirnya manggis hanya terserap untuk pasar lokal," kata Rohim.

Kemudian pada akhir 2011, Pemerintah Banyuwangi memfasilitasi PT Alamanda datang ke Banyuwangi. Pemerintah dan perusahaan menggelar sekolah lapang untuk memberikan bekal pada petani mengurangi pemakaian pestisida. Buah manggis Banyuwangi akhirnya mendapatkan Sertifikasi Prima III dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang berisi jaminan aman konsumsi. Setelah sertifikat tersebut terbit, buah manggis kembali ekspor pada 2012.

Petani sendiri saat ini diuntungkan dengan besarnya minat pasar lokal pada manggis. Riyanto bercerita sejak 2012, permintaan pasar lokal seperti Surabaya dan Malang cukup tinggi yakni antara 5-8 kuintal per hari. Itu disebabkan pamor manggis kini bukan hanya dikonsumsi sebagai buah, tapi kulitnya bisa dipakai untuk jamu. "Petani mulai bergairah memperluas lahan manggisnya," kata Riyanto yang juga menjadi Ketua Kelompok Petani Manggis Desa Bulusari.

Bahkan Kelompok Tani Desa Pesucen saat ini sedang bernegosiasi dengan salah satu produsen jamu di Indonesia. Bila negosiasi berhasil, produsen akan mengambil kulit manggis dari Banyuwangi sedangkan isi buahnya akan dikemas dalam bentuk lain. Tingginya kandungan anti oksidan pada manggis, menurut Rohim, dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kanker. "Warga di desa ini mulai terbiasa membuat jus kulit manggis untuk mengobati kanker," Rohim bercerita.

Pengepul manggis dari PT Alamanda, Yahya, menjelaskan, setiap hari perusahaanya mengambil 3 ton manggis dari Banyuwangi. Manggis-manggis tersebut dikepak dalam 400 keranjang yang dilapisi spon basah serta plastik. Pengiriman dari Banyuwangi ke Bandung menggunakan truk yang dilengkapi pendingin atau termoking.

Menurut Yahya, permintaan pasar dunia atas buah manggis sebenarnya cukup tinggi. Hanya saja manggis tergolong buah langka karena produksinya di Indonesia masih terbatas. Hanya beberapa daerah yang menghasilkan manggis antara lain di Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali. "Asal kualitasnya bagus, berapa pun banyaknya manggis akan terserap semua di luar negeri," kata Yahya ditemui di gudang induk manggis di Desa Pesucen.

Selain produksinya kecil, sebagian besar manggis tak layak diekspor karena kualitasnya rendah. Konsumen luar negeri, kata dia, akan menilai manggis dari penampilan luarnya sehingga menolak manggis berkulit burik. Nyatanya, produksi manggis petani Indonesia lebih banyak yang burik alias tak mulus.

Manggis burik, menurut Yahya, karena pola tanam petani yang belum monokultur, perubahan cuaca dan cara pemetikan yang salah. Kebanyakan manggis yang dipanen lebih banyak berjatuhan ke tanah sehingga kulit luarnya menjadi cacat. "Meskipun sebenarnya burik atau tidak rasa manggis Banyuwangi tetap manis," katanya.

Manggis Thailand menjadi pesaing berat manggis Indonesia di pasar luar negeri. Pola tanam dan perawatan yang maju membuat kualitas manggis Thailand jauh lebih diminati. Oleh karena itu, bila Thailand telah panen raya manggis pada bulan Mei, ekspor manggis Banyuwangi ke Tiongkok langsung tiarap. Ekspor akhirnya dialihkan ke Singapura.

Besarnya peluang pasar manggis menjadikan Pemerintah Banyuwangi berupaya memperluas lahan. Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan dan Holtikultura, Syaifullah, mengatakan, perluasan lahan sudah digalakkan sejak 2008 dengan pertambahan 10-50 hektare per tahun. Pada 2015 mendatang lahan manggis ditargetkan mencapai 8.294,18 hektare dan produksi 23.761 ton. "Kami mendapatkan bibit dari Kementerian Pertanian," kata Syaifullah.

Menurut dia, masih sulit mengubah kebiasaan petani untuk bertanam manggis secara monokultur. Secara turun-temurun petani memang menanam manggis bersama dengan tanaman lainnya seperti kelapa. Hal inilah membuat manggis berkualitas ekspor masih sulit ditingkatkan.


Kendala lainnya, kata dia, petani kurang fokus pada perawatan karena beranggapan manggis tetap bisa dipanen meski dengan perawatan ala kadarnya. Namun kendala-kendala ini, kata dia, bisa diatasi dengan memperbanyak sekolah lapang untuk meningkatkan pengetahuan petani. IKA NINGTYAS