Páginas

Saturday, May 24, 2014

Saatnya Membelah Durian Merah Banyuwangi

Dua puluh durian itu tertata di meja kayu, dengan menguarkan aroma khasnya yang menusuk. Kulitnya terbuka separuh, sehingga nampak dagingnya yang menggoda: berwarna merah, merah muda, oranye, serta pelangi.

Mohammad Reza Tirtawinata kemudian berkeliling, mencicipi durian-durian itu dengan sendok kecil. Sebelum berpindah ke durian berikutnya, dia meneguk air putih hingga lidahnya netral. Setelah seluruhnya tercicipi, dia kembali menikmati 7 durian yang ia anggap punya citarasa. Direktur Taman Buah Mekarsari Research Station, Bogor itu melumat satu biji untuk menikmati rasa durian sepenuhnya.  


Selain Reza, ada 4 juri lainnya dalam Kontes Durian Merah Banyuwangi yang digelar Jumat 25 April lalu di Jalan Brawijaya. Juri-juri itu berasal dari Durian Research Center Universitas Brawijaya, Balai Penelitian Buah Tropika, Forum Pemerhati Holtikultura Banyuwangi, serta juri tamu seorang peneliti durian asal Swis. Kontes durian merah ini sudah tiga kali digelar oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Durian Merah Banyuwangi. Kontes sebelumnya digelar pada tahun 2009 dan 2012.

Seluruh skor juri kemudian dijumlah, lalu munculah juara 1,2 dan 3. Reza bercerita, penilaian kontes durian merah itu meliputi kemolekan bentuk, warna serta citarasa. Durian yang bagus, kata dia, punya warna yang cerah, berdaging tebal, tekstur lembut dan rasanya manis. Reza sendiri sudah 30 tahun malang-melintang menjadi juri kontes durian di berbagai kota. Namun baru sekali ini dia menjadi juri kontes durian merah. Dia merasa takjub melihat banyaknya varian durian merah di Banyuwangi, yang jarang dimiliki daerah lainnya. “Rasanya enak-enak,” kata pakar buah tropis Indonesia ini.

Dari ketiga juara itu, ingatan Reza  melekat pada durian yang diberi nama balqis, milik peserta nomor 86. Beratnya sekitar 2 kilogram, dengan warna dagingnya merah darah. Sementara durian juara lainnya berwarna oranye. “Rasa durian balqis legit dan gurih,” kata doktor lulusan Institut Pertanian Bogor ini.
Durian Balqis hanya berhasil mendapatkan juara tiga dengan skor 800. Meski paling buncit, durian Balqis menjadi perhatiaan lebih dari dewan juri. Usai kontes, seluruh juri beserta panitia melihat langsung pohon durian balqis mil.ik. Sahroni di Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah. Menurut Reza, kekurangan durian balqis hanya karena dagingnya agak tipis. “Pohonnya tak dirawat alias semi liar,” kata Reza.

Durian balqis tumbuh dari pohon setinggi 15 meter di pekarangan belakang rumah Sahroni. Pohon durian berusia 20 tahun itu, warisan dari orang tuanya. Saat panen, pohon itu menghasilkan 80 durian merah tiap tahunnya. Sahroni masih mengingat peristiwa Jumat 25 April lalu. Saat itu, sekitar pukul 8 pagi tiba-tiba ada empat durian jatuh. Saat dibuka, warna keempatnya berbeda-beda mulai merah, oranye dan merah muda. Dengan sukacita, Sahroni langsung memboyong keempat durennya ke arena kontes dan mendaftarkan durian yang berwarna merah. “Tak nyangka ternyata menang,” katanya sumringah.

Sahroni mendapatkan hadiah uang Rp 1,5 juta. Uang itu dia jadikan modal untuk warung kelontongnya. Menjadi petani sekaligus pedagang durian, memang hanya pekerjaan sampingan. Bila panen telah habis, pria 30 tahun itu bekerja sebagai tukang bangunan.

Selain durian merah, dia juga memiliki 5 pohon durian berwarna putih dan kuning, namun tinggal 2 pohon yang bisa berbuah. Sahroni membenarkan pohon duriannya memang tumbuh liar sebab ia tak paham dengan cara merawatnya. Tanpa dirawat pun, kata dia, dua pohon durian tetap menghasilkan buah. “Paling hanya membersihkan rumput,” katanya yang baru tahun ini ikut kontes.

Pamor durian merah, kata dia, baru populer sejak tahun 2010 setelah kontes pertama berlangsung. Sebelumnya, harga durian merah tak berbeda dengan durian putih atau kuning seharga Rp 15 ribu – Rp 20 ribu. Itu pun lebih banyak durian merah yang dikonsumsi sendiri. Namun sejak publikasi durian merah Banyuwangi marak, harga durian merah melejit menjadi Rp 50 ribu untuk ukuran 1/2 kilogram dan Rp 150 ribu ukuran 2 kilogram.

Di Banyuwangi, durian merah ini dijuluki “dubang” alias duren abang. Meroketnya pamor dubang berkat kegigihan Pusat Penelitian dan Pengembangan Durian Merah Banyuwangi yang digawangi Eko Mulyanto. Mereka aktif mengiventarisasi dubang Banyuwangi kemudian mengenalkan kepada publik, baik lewat media sosial, media massa dan kontes. Menurut Eko, dubang Banyuwangi  berbeda dengan di Kalimantan yang rasanya pahit, matang di atas pohon, serta tidak berbau. “Sementara di Banyuwangi dubang berasa manis dan berbau,.” Kata lulusan diploma Fisiologi Tanaman dari Institut Pertanian Bogor ini.

M. Reza Tirtawinata menambahkan, dubang Banyuwangi hasil persilangan durian merah spesies Durio Graveolus dari Kalimantan dan Durio zibhetinus yang dilakukan oleh alam ratusan tahun lalu. Varian Zibhetinus ini secara umum menghasilkan durian warna putih atau kuning yang banyak tumbuh di Indonesia serta paling sering dikonsumsi. “Dari persilangan alami ini menghasilkan zibhetinus berwarna merah yang enak dimakan,” kata Reza.

Rasa dubang yang manis juga didukung karena kondisi geografis Banyuwangi lebih lengkap dibandingkan Kalimantan . Yakni mendapat sinar matahari penuh, dekat dengan laut, suplai air cukup, serta kandungan sulfur pegunungan Ijen atau Gunung Raung yang terlarut di aliran sungai dan tanah. “Kondisi Banyuwangi sangat ideal,” Reza menjelaskan.

Di zaman kerajaan, Eko Mulyanto melanjutkan, durian sering dipertukarkan sebagai cinderamata kepada tamu dari kerajaan lain. Kemungkinan dulunya banyak pohon dubang yang tumbuh di Banyuwangi. Namun saat era kolonial Belanda, terjadi penebangan pohon dubang secara besar-besaran untuk bantalan lori pengangkut tebu. “Kayu durian merah dikenal kuat,.” Kata pria kelahiran Banyuwangi, 1972 lalu.

Kemudian hanya tersisa tiga pohon dubang indukan. Pohon tertua berada di Desa Kemiren berumur 277 tahun. Satu pohon lagi berada di Kecamatan Songgon berusia 150 tahun. Dan satu pohon lainnya yang berusia 100-an tahun telah ditebang pemiliknya karena rebutan warisan. Dari pohon induk ini kemudian menyebar ke desa yang lain. Penyebaran biji dubang diperkirakan melalui kera dan oleh kerabat si empu pohon induk. Oleh karena itu, jangan heran bila pemilik pohon dubang yang berusia muda, sebagian besar memiliki hubungan kekerabatan dengan pemilik tiga pohon induk.

 Hingga 2014, sekitar 200 pohon durian yang berbuah. Mereka tersebar di lima kecamatan yakni Licin, Glagah, Giri, Songgon, dan Kalipuro. Dari hasil inventarisasi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Durian Merah menemukan sedikitnya 62 varian dan 32 di antaranya telah dipublikasikan. Dari 32 varian itu, hanya 25 jenis yang bisa dikonsumsi. Sisanya berasa sedikit pahit dan dagingnya terlalu tipis. Eko membagi 25 varian itu menjadi tiga kelompok berdasarkan corak, yakni merah penuh (blocking), pelangi yang terdiri dari warna merah-kuning-oranye serta grafis yang warna merahnya membentuk motif.

Corak warna merah dan motif diduga silangan Durio zibethinus putih dan Durio graveolen. Sedangkan corak pelangi diduga silangan Durio zibethinus kuning dan Durio graveolens. Dari ketiga jenis corak ini, harga durian pelangi paling mahal. Ukuran ½ kg saja, harganya Rp 150 ribu /butir. Sedangkan ukuran 2 kg, pernah mencapai Rp 1.,5 juta. Sementara harga durian grafis sama dengan durian merah blocking yakni antara Rp 50 ribu – Rp 150 ribu. Dalam satu pohon, bisa dihasilkan berbagai varian durian dari tiga kelompok warna itu.

Membedakan dubang dan durian biasa memang gampang-gampang susah. Menurut Eko, ujung duri pada kulit dubang biasanya berwarna kehitaman, dan ada benjolan pada tangkainya. Namun untuk memastikan agar tak tertipu, pembeli bisa meminta pedagang membuka sedikit durian di bagian bawah tangkainya.

Pohon durian tertua  berusia 277 tahun adalah milik Serad yang dijaga turun-temurun oleh 5 generasi sebelumnya. Menurut Eko, tuanya usia pohon durian itu bisa dilihat dari diameter batangnya yang mencapai 4 meter dan tingginya 50 meter. Diameter batang terbentuk dari pertumbuhan kambium sebesar 1 cm per tahun. “Bila dipeluk butuh 3 orang dewasa,” kata alumnus pascasarjana Agronomi dari Universitas Sam Ratulangi, Manado ini.

Durian merah milik Serad diberi nama “Siwayut”, kependekan dari durian warisan buyut. Setiap panen di bulan Januari-Maret, Siwayut yang hanya berbuah 300-an butir selalu jadi buruan. Hampir setiap hari, 4-5 orang menunggu semalaman suntuk hingga Siwayut jatuh sekitar pukul 2 dini hari. Serad akhirnya mendirikan pondok bambu berukuran 1,5 x 2 meter sebagai tempat ‘pemburu’ itu menunggu. Para pemburu Siwayut kebanyakan laki-laki, karena durian merah dipercaya bisa meningkatkan vitalitas. Harga durian merahnya dibanderol Rp 50 ribu – Rp 100 ribu per butir. Supaya Siwayut bisa dinikmati banyak orang, Serad membatasi pembeli maksimal 4 butir. “Saya juga tak melayani pengepul atau pedagang,” kata kakek, 74 tahun ini.

Dalam perkembangannya, para pemburu tak hanya mencari Siwayut. Mereka juga ingin menanam Siwayut. Sejak 2012, Serad memenuhi permintaan itu dengan menanam biji Siwayut di pekarangannya. Harga bibit yang berusia 3 bulan dibanderol Rp 50 ribu per batang. Setiap bulan dia bisa menjual 50 bibit Siwayut yang legendaris itu.

Eko Mulyanto mengakui dubang kini paling diburu konsumen. Kandungan vitamin dubang lebih lengkap dibandingkan durian putih atau kuning yang hanya mengandung karbohidrat dan glukosa. Vitamin pada dubang terdiri dari fitosterol yang mendorong relaksasi, fitohormon yang bisa mencegah penuan dini, serta afrodisiak. “Afrodisiak inilah yang bisa memperkuat tubuh,” kata Reza yang juga Kepala Riset Forum Pemerhati Holtikultura Banyuwangi ini.

Sayangnya panenan dubang baru mencapai 700 butir setahun. Padahal untuk bisa memenuhi pasar nasional dan ekspor, harus tersedia paling sedikit 10 ribu butir dubang. Membaca besarnya peluang ini, Pusat Penelitian dan Pengembangan Durian Merah Banyuwangi melakukan pembibitan sejak 2010. Mereka menggunakan tunas pucuk ranting dari indukan Siwayut milik Serad. Tunas itu kemudian disambungkan pada batang bawah bibit yang berusia 2 bulan. Bibit tersebut diperoleh dari penanaman biji 11 varian durian yang dipilih sebagai plasma nutfah. Metode ini dianggap bisa menghasilkan bibit lebih banyak dalam waktu cepat dengan tetap mempertahankan mutu genetiknya.

Perbedaan bibit dubang dengan bibit duren biasa, bisa dilihat pada daunnya. Bentuk daun bibit dubang lebih lebar, berwarna silver, serta ujungnya lancip. Sedangkan bibit durian biasa, daunnya panjang dan berwarna tembaga.

Kini Eko bisa menghasilkan 10 ribu bibit durian merah dengan harga Rp 250 ribu per bibit. Bibitnya telah tersebar ke Papua, Bogor, dan Lampung. Pada 2012, sejumlah peneliti dari Thailand dan disusul Malasyia di awal tahun ini datang ke Banyuwangi untuk mempelajari budidaya durian merah. Untuk menyiapkan Banyuwangi sebagai sentra durian merah, Eko membagikan seribu bibit secara gratis kepada petani dan pedagang durian. Seribu bibit lagi akan dia sebarkan ke petani pada pertengahan tahun ini. Bibit-bibit itu diperkirakan akan berbuah pada 4 tahun mendatang. “Semoga 4-5 tahun lagi semakin banyak orang datang ke Banyuwangi untuk cari durian merah,.” Kata ayah dua anak ini.

Bertambahnya pohon dubang, berarti akan meningkatkan penghasilan petani dan pedagang. Namun yang paling penting, kata Eko, pembibitan ini bisa menyelamatkan plasma nutfah dubang yang tak dimiliki negara lain. Dia khawatir, bila dubang tak diselamatkan, maka tanaman tropis ini hanya tinggal cerita.

Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi, Ikrori Hudanto, mengatakan, pada akhir April lalu, pihaknya telah membagikan 351 bibit durian kepada petani di Kecamatan Kalipuro untuk menambah hasil panen durian. Meski begitu, kata Ikrori, durian belum menjadi prioritas utama holtikultura di Banyuwangi. “Durian ada di urutan ke-8,” kata Ikrori.

Durian belum jadi prioritas utama karena petani hanya menjadikan durian sebagai penghasilan sampingan. Panen durian selama ini lebih besar dinikmati oleh pedagangnya. Dia mencontohkan, sebelum panen, para pedagang menebas satu pohon durian yang berisi 100-an buah seharga Rp 1 juta – Rp 2 juta. Sementara di pasaran, harga sebutir durian paling murah Rp 25 ribu per butir.

Khusus durian merah, kata Ikrori, cenderung ekslusif. Dengan harganya yang mahal, durian merah hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya. Hal ini yang membuat pasar durian merah masih sangat terbatas. IKA NINGTYAS