Páginas

Monday, June 2, 2014

Kerajinan Bambu Ingin Ekspor Langsung

Dengan sebilah pisau, Santoso menyerut kerangka bambu yang telah dibentuk menjadi tudung wadah kue. Kerangka itu harus lebih ditipiskan lagi supaya bisa menutup wadah dengan sempurna. Hanya perlu sepuluh menit bagi Santoso untuk menyelesaikan proses akhir itu. Jadilah, sebuah wadah kue dari anyaman bambu dengan motif bunga berwarna merah yang cukup indah.

Selain berwarna merah, di sebelah Santoso ada tumpukan sepuluh wadah kue beraneka warna, mulai kuning, merah muda, biru, hijau serta oranye. Hampir sepekan ini Santoso menyelesaikan sekitar 30 wadah kue berbentuk bundar dengan diameter 60 sentimeter itu. "Sehari menyelesaikan lima unit," kata pria berusia 30 tahun itu.

Selain Santoso, dua perajin lainnya yakni Murdiono dan Sugeng Wahyudi juga berkutat dengan anyaman bambunya masing-masing. Murdiono, 47 tahun, perajin tertua di antara mereka kebagian membuat wadah buah berbentuk bundar dengan hiasan anyaman bunga sedang mekar. Sedangkan Sugeng, 25 tahun, nampak memotong-motong anyaman untuk dirangkai menjadi wadah tisu.

Ketiga perajin Hamid Jaya Handycraft Desa Gintangan, Selasa siang 22 April itu harus merampungkan 100 buah kerajinan pesanan dari Papua. Mereka kebagian membentuk rangka dan memproses hasil akhirnya sesuai pesanan. Sedangkan anyaman bambu berbagai motif dikerjakan oleh hampir semua perempuan di desa tersebut.

Hampir 75 persen warga di Desa Gintangan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur.  yang berpenduduk 6.700 jiwa itu bisa menganyam bambu. Keahlian itu mereka dapatkan secara turun-temurun. Mereka berhasil menciptkan ratusan produk dari bambu mulai peralatan dapur hingga hiasan dinding. Produk-produk tersebut dipasarkan mulai ke Bali, Surabaya, Medan, Papua dan beberapa di antaranya ke Eropa, Amerika Serikat dan Jepang.

Santoso bercerita awalnya dia belajar menganyam dari orangtuanya. Kemudian ketika duduk di bangku SMA, dia ikut-ikutan menganyam di sanggar bambu Karya Jaya milik Pak Rawuh, sanggar bambu pertama di desa itu. Kini telah 10 tahun, kerajinan bambu menjadi mata pencaharian utama baginya.

Pria beranak satu itu mendapat upah antara Rp 12 ribu hingga Rp 20 ribu per unit kerajinan. Besaran upah memang bergantung besar-kecilnya kerajinan yang dihasilkan. Dalam sehari, Santoso rata-rata bisa menghasilkan 5 buah kerajinan seperti tempat kue itu, sehingga per bulan dia bisa mendapatkan Rp 1 juta - Rp 1,5 juta. "Cukup untuk kebutuhan sehari-hari," kata pria lulusan madrasah ini.

Di rumah Santoso, Yati, istrinya juga menganyam. Dia mengerjakan lembaran persegi anyaman bambu berukuran 60 cm x 60 cm. Dalam sehari, perempuan 26 tahun itu bisa membuat 6 lembar anyaman. Anyaman-anyaman itu kemudian dibeli pengepul di desanya seharga Rp 4 ribu per lembar. "Uangnya buat bantu-bantu suami," kata Yati.

Selain menganyam lembaran motif, beberapa perempuan juga membuat kerajinan bambu menjadi peralatan dapur. Seperti yang dilakukan Elok Jumatin, 60 tahun. Di beranda rumahnya, Elok membuat wadah pencuci beras dan sayuran. Satu wadah dijualnya kepada pengepul seharga Rp 10 ribu - Rp 15 ribu. "Sehari bikin 2 wadah," kata perempuan beranak dua itu.

Pengepul kemudian menjual lembaran anyaman dan peralatan dapur itu kepada 5 sanggar bambu yang berdiri di Gintangan sejak tahun 1990an. Di sanggar itulah, oleh perajin pria anyaman kemudian dibentuk menjadi berbagai produk sesuai pesanan pasar.

Pemilik sanggar bambu Hamid Jaya Handycraft, Abdul Hamid, 41 tahun, bercerita awalnya warga setempat menganyam bambu secara tradisional untuk peralatan dapur seperti kukusan untuk menanak nasi dan tenong tempat cuci beras. Produk ini masih natural karena tak diberi pewarna serta motifnya yang seragam yakni liris, model anyaman rapat dengan serutan bambu selebar 0,5 senticemeter. Produk rumah tangga ini hanya laku di pasar lokal.

Sekitar tahun 1970-an, ayah Hamid bernama Rawuh mendirikan sanggar bambu Karya Jaya,sanggar pertama di Desa Gintangan. Sanggar tersebut menampung kerajinan dari warga dengan pasar yang lebih luas di Banyuwangi serta kabupaten tetangga seperti Jember. Setelah Rawuh meninggal pada 1999, dua dari tiga anaknya meneruskan usaha kerajinan. Hamid, anak bungsu Rawuh berhasil mengembangkan kerajinan bambu di bawah bendera Hamid Jaya Handycraft dan menjadi terbesar di desa itu.

Hamid berhasil mengekreasikan anyaman bambu menjadi berbagai fungsi. Ada 50 lebih produk yang diciptakannya mulai toples bambu, tempat buah, wadah tisu, tempat koran, kap lampu, wadah perhiasan, keranjang parcel, dan tempat minuman. Selain itu ada pula hiasan dinding seperti kipas raksasa yang ditempelkan di tembok. "Terserah pembeli ingin produk seperti apa," kata Hamid, 41 tahun, Selasa 22 April.


Motif anyaman juga berkembang sekitar 10 macam. Anyaman liris yang biasanya dipakai untuk peralatan dapur tetap diadopsi sebagai alas karena lebih kuat. Sementara motif bunga-bunga dipakai sebagai aksesoris pada bagian atas. Supaya terlihat lebih menarik, anyaman motif bunga diberi pewarna kain.

Di sanggarnya, Hamid mempekerjakan 4 perajin pria yang bertugas membentuk rangka dan mengkombinasikannya dengan anyaman bermotif. Selain mengirimkan produk-produk itu ke luar daerah, Hamid juga menjual kerajinan tersebut di showroom depan rumahnya. "Kalau hari libur barang di showroom bisa laku sampai Rp 2 juta," kata dia.

Harga produk kerajinan Hamid Jaya beragam tergantung besar kecilnya barang dan kerumitan motif anyaman. Harga termurah dibanderol Rp 7.500 untuk kipas kecil. Tempat buah dan satu set toples beserta wadahnya seharga Rp 75 ribu - Rp 85 ribu. Kap lampu gantung berbentuk kelopak bunga dibanderol Rp 85 ribu per buah. Produk paling mahal adalah kipas raksasa sepanjang 1 meter seharga Rp 250 ribu - Rp 300 ribu.

Hamid Jaya Handycraft menghasilkan 1.000-1.500 unit kerajinan tiap bulannya. Dia memasarkan barangnya mulai Jember, Surabaya, Bali, Medan dan Papua. Omzetnya tembus Rp 25 juta - Rp 30 juta per bulan. Melalui salah satu perusahaan di Bali, hampir 500 produk bambu itu diekspor ke Belgia.

Produk yang paling laris yakni toples, wadah kue dan kap lampu. Pada bulan Juli hingga Desember, Hamid Jaya akan kebanjiran pemesan karena bersamaan dengan liburan, Lebaran dan juga acara pernikahan.

Menurut Hamid, dia sering mengunjungi daerah-daerah yang memiliki kerajinan anyaman bambu seperti Bandung dan Yogyakarta untuk mendapatkan ide. Seperti kipas raksasa yang pernah ia lihat di Bandung. Setelah pulang, dia mengembangkan kreasi sendiri sehingga terciptalah kipas dengan variasi 3 motif anyaman. "Untuk produk yang rumit biasanya saya kerjakan sendiri," kata dia.

Sanggar bambu lainnya, Widya Handycraft juga mengirimkan produknya ke Surabaya, Jember, Bali. Sanggar ini pernah mengirimkan barangnya ke Jepang dan Amerika melalui perusahaan di Pandaan, Pasuruan. Widya Handycraft yang berdiri 1991 ini beromzet antara Rp 10 juta - Rp 15 juta per bulan.

Bayu Willy Pratama, pemilik Widya Handycraft, mengatakan, bahan baku produknya harus menggunakan bambu apus (Gigantolochloa apus) yang banyak tumbuh di hutan-hutan. Bambu apus ini unggul karena fisiknya lebih besar dan ruasnya lebih panjang. Setiap hari Widya Handycraft membutuhkan 60 gelondong bambu yang telah dipotong 2 meter. Satu gelondong bambu ini seharga Rp 4 ribu. "Bambu dikirim dari Kecamatan Sempu dan Genteng," kata pria 29 tahun ini.

Dalam empat tahun terakhir, kata Bayu, pembeli kerajinan bambu Gintangan memang lebih ramai. Bila sebelumnya hanya sekitar 700an yang laku, kini meningkat seribu unit per bulan. Para pengusaha kerajinan memang kesulitan untuk menembus pasar ekspor langsung. Mereka masih menggantungkan ekspor ke perusahaan-perusahaan lain terutama di Bali.

Namun Hamid harus menelan kenyataan pahit bila produknya diekspor. Nama sanggarnya tak lagi tertera melainkan berganti "Made in Bali". Dia tidak bisa protes karena belum mengantongi hak paten dari Kementerian Perindustrian. "Jalan lain ya biar saja, asalkan produk saya laku," katanya.

Dia berharap Pemerintah Banyuwangi memfasilitasi perajin supaya bisa mengekspor langsung produknya ke negara-negara lain. Sebab bila terus menggantungkan pada Bali, maka produk dari Banyuwangi tidak akan pernah dikenal.

Ketergantungan dengan Bali sempat membuat perajin terpuruk saat bom Bali melanda pada 2002. Usaha mereka sempat lesu selama dua tahun dan baru bisa bangkit kembali pada 2005.

Masalah serius lainnya saat ini makin susah mencari perajin pria. Saat ini ia memiliki 11 perajin yang telah bekerja di atas 5 tahun lebih. Namun bila pesanan sedang ramai, dia membutuhkan perajin sebanyak-banyaknya. "Akhirnya sering berebut dengan sanggar yang lain," katanya.

Di sanggar Hamid Jaya perajinnya tersisa 4 orang dari sebelumnya hampir 20 orang. Menurut Hamid, bila pesanan membludak perajinnya terpaksa bekerja siang hingga malam. Pemuda di desa itu kini lebih memilih pekerjaan lain seperti tukang bangunan atau pergi ke Bali, yang dianggap lebih menjanjikan.

Kepala Desa Gintangan, Rusdiana, mengatakan semakin berkurangnya jumlah perajin karena biaya hidup semakin tinggi. Untuk mengatasi hal itu, dalam waktu dekat dia akan memasukkan keterampilan menganyam sebagai muatan lokal di madrasah-madrasah desanya.

Selain itu pihaknya akan membentuk Badan Usaha Milik Desa yang memasok bambu ke sekolah-sekolah itu dan memasarkan hasilnya. Dengan demikian regenerasi perajin bambu di desanya tetap terjaga.

Kepala Seksi Industri Logam, Mesin dan Aneka Elektronika Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan, Tri Joko Putranto, mengatakan, pemerintah daerah siap untuk membantu Desa Gintangan membentuk BUMDes anyaman bambu.

Namun hambatan besarnya karena pemilik sanggar bambu terlibat persaingan tak sehat sehingga sulit bersatu dalam sebuah asosiasi. "Mereka saling menjatuhkan harga," katanya.

Padahal permintaan produk Gintangan cukup besar baik pasar lokal, nasional dan luar negeri. Hanya saja pengusaha tak bisa memenuhi permintaan pasar dalam jumlah besar. "Berbeda apabila pemilik sanggar bisa bersatu, maka berapa pun permintaan bisa dipenuhi bersama," kata dia.

IKA NINGTYAS