Páginas

Monday, June 2, 2014

Vaname Nusantara, Si Putih dari Situbondo

Jam tiga sore adalah saat penting bagi Sandy Afrianto. Dia menjalani rutinitas untuk mengawinkan ratusan pasang induk udang vaname yang berusia 6 bulan. Mula-mula, dari lima kolam berukuran 3,8 meter x 4,8 meter x 1,1 meter, dia mengambil masing-masing 45 ekor induk betina. Indukan betina itu kemudian dipindahkan ke lima kolam di depannya yang berisi 400an ekor induk jantan.

Pemuda 24 tahun itu menunggu empat jam hingga masa pembuahan udang selesai. Pada pukul tujuh malam dia memeriksa satu-persatu betina. Bila terjadi pembuahan, induk betina segera ia pindahkan ke bak peneluran. “Delapan puluh persen pembuahan biasanya berhasil,” kata Shandy karyawan di Unit Maturasi di Instalasi Pembenihan Udang Balai Budidaya Air Payau Situbondo, Jawa Timur, Selasa 20 Mei 2014.


Instalasi Pembenihan Udang dibawah Kementerian Kelautan dan Perikanan itu berpusat di Desa Gelung, Kecamatan Panarukan, Situbondo. Instalasi seluas 7,2 hektare ini dikhususkan untuk memproduksi induk dan benih udang vaname unggul yang diberi nama Vaname Nusantara 1 (VN-1). Pusat perbanyakan bibit udang vaname ini didirikan untuk menggenjot produksi udang nasional  yang sempat terpuruk di awal tahun 2000.

Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Budidaya Air Payau Situbondo, Made Yodriksa, mengatakan, vaname (Lithopenaeus vannamei) atau yang dikenal dengan udang putih sebenarnya berasal dari pantai barat Amerika Latin yang dibudidayakan secara intensif di Hawai. Indonesia mengenal udang varietas baru ini pada tahun 2000an. Sebelumnya petambak membudidayakan udang windu, yang hidup di perairan Indonesia. Budidaya windu marak sejak tahun 1980an dan mencapai puncaknya pada awal 1990an.

Namun 60 persen dari 410 ribu hektare tambak tradisional udang windu terpuruk di tahun 1997 karena serangan virus SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus) yang memicu penyakit bintik putih (white spot). “Sebagian besar petambak gulung tikar,” kata Made, Senin 19 Mei. Hancurnya budidaya udang windu kemudian memicu impor induk udang vaname secara illegal oleh perusahaan swasta pada tahun 1999-2000. Setahun kemudian, Pemerintah Indonesia akhirnya membolehkan impor udang vaname dari Hawai, Florida dan Amerika Latin untuk memenuhi kekurangan stok udang dalam negeri.

Made menjelaskan, Pemerintah kemudian berupaya melakukan rekayasa genetika menghasilkan benih vaname sendiri, dengan harapan tidak bergantung pada impor. Tugas itu dipikul BBAP sejak 2003 dengan melibatkan tim ahli dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, Universitas Padjajaran dan Universitas Brawijaya. Proses riset berjalan enam tahun dengan menghasilkan 240 ribu ekor induk udang Vaname Nusantara 1 yang disahkan melalui SK Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.78/MEN/2009.

Pengarah Budidaya Udang, Muhammad Affandi, mengatakan, udang vaname memiliki beberapa keunggulan dibandingkan windu. Masa panen vaname lebih cepat antara 60-100 hari, sementara windu 120 hari. Selain itu, vaname lebih tahan terhadap penyakit, daya tahan hidup 85 persen dan bisa direkayasa. “Sedangkan windu, belum satupun negara bisa merekayasa,” kata Affandi.

Pembudidayaan windu selama ini dengan mengambil indukan dari alam, sehingga rentan membawa penyakit. Berbeda dengan vaname, kata Affandi, melalui rekayasa genetika bisa memilih indukan yang sehat. Inilah yang membuat budidaya vaname lebih stabil, asalkan tetap memperhatikan cara perawatan yang tepat.

Kordinator Instalasi Pembenihan Udang di Desa Gelung, Gemi Tri Astuti, menjelaskan, Vaname Nusantara bukan proses yang sekali jadi. Hingga kini peneliti terus bekerja untuk menyempurnakan kualitas benih. VN-1 yang dirilis 2009 dihasilkan melalui perkawinan silang induk asal Hawai dengan induk lokal yang bebas penyakit.

Induk impor dipakai supaya mempertahankan genetik vaname d ari tempat asalnya. Kemudian dikawinkan dengan induk vaname yang telah berkembang di dalam negeri, karena dianggap telah beradaptasi dengan perairan Indonesia. Dari kawin silang itu, menghasilkan 6 populasi yang dipelihara sampai menjadi calon induk, yang dilanjutkan seleksi individu untuk mencari induk-induk yang unggul.
Dalam perjalanannya, metode ini dianggap kurang sempurna  karena tingkat kegagalan perkawinan tinggi. Pada 2012, peneliti mengubah dengan metode seleksi family. Menurut Gemi, generasi pertama dipilih 4 family terbaik dari 16 family yang dihasilkan dari perkawinan silang. Saat ini VN-1 telah memasuki generasi kedua yang dihasilkan oleh 5 family terbaik dari 48 family.

Instalasi Pembenihan Udang saat ini memiliki 150 ribu pasang calon induk usia 6-8 bulan. Indukan ini yang dilepas ke perusahaan-perusahaan pembenihan dengan harga Rp 25 ribu per pasang. Setelah proses pembuahan, satu induk betina menghasilkan sekitar 120 ribu larva atau naupli yang bisa dipanen dalam satu hari. Naupli kemudian dikembangkan di kolam pembenihan selama 18 hari hingga menjadi benih atau benur sebanyak 45-50 ekor. Perusahaan-perusahaan kemudian melepas benur ini ke petambak-petambak seharga Rp 30 – Rp 32 per ekor.

Menurut Gemi, indukan VN-1 produksi BBAP cukup murah dibandingkan indukan impor yang bisa mencapai Rp 1 juta – Rp 2 juta per pasang. Dengan demikian, kehadiran VN-1 menjadi alternatif yang bisa dijangkau oleh petambak-petambak bermodal kecil. “Induk impor hanya bisa diakses petambak besar dan rawan terjadi monopoli,.” Kata perempuan alumnus Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.

Awalnya memang tak mudah meyakinkan perusahaan yang sudah terbiasa memakai benih impor beralih ke VN-1. Pada 2009, induk yang terserap masih dibawah 30 ribu ekor. Pemakaian VN-1 memperoleh momentumnya sejak 2012 setelah tambak vaname di Thailand, Malasyia dan Vietnam diserang penyakit Early Mortality Syndrome (EMS), sehingga terjadi penurunan produksi vaname di dunia.

Akibatnya harga vaname ekspor asal Indonesia yang masih aman dari penyakit tersebut menjadi melejit. Untuk vaname ukuran 50 (isi 50 ekor dalam 1 kilogram) harganya antara Rp 70 ribu – Rp 100 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp 50 ribuan. Dengan harga ini cukup menguntungkan petambak, sebab biaya produksi vaname mencapai Rp 40 ribu per kg. Sementara dalam satu hektarenya, petambak bisa menghasilkan 15-20 ton ekor vaname.

Permintaan induk VN-1 kini meningkat hingga 50 ribu setahun. Induk VN-1 terserap hampir ke seluruh kota di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Aceh, Medan, Lampung, Makassar, Palu dan Gorontalo. Tambak-tambak udang yang sebelumnya mangkrak pasca-budidaya windu, kini telak aktif kembali. Benih VN-1 banyak terserap di tambak-tambak tradisional dan semi-intensif. Sayangnya BBAP tak bisa memenuhi seluruh permintaan induk yang total kebutuhannya mencapai 2,7 juta  karena kapasitas instalasi yang terbatas. Sehingga angka impor tetap tinggi.

Tahun 2015, BBAP akan merilis VN-2 yang berasal dari VN-1 generasi ketiga. VN-2 ini akan dikembangkan lebih spesifik yakni spesies yang tahan penyakit, cepat tumbuh dan adaptif terhadap perubahan lingkungan. “Proses penelitiannya sudah 75 persen,” kata perempuan berusia 40 tahun ini.
Pemilik PT Bathcery Jaya Ujung Indah yang berpusat di Makassar, Edi Susanto, mengatakan, tertarik menggunakan VN-1 setelah mendapat bantuan 400 pasang induk dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2008. Karena kualitasnya bagus dan murah, sejak 2011 dia akhirnya membeli langsung dari BBAP sebanyak seribu induk seharga total Rp 25 juta. “Kalau beli impor, saya bisa habis Rp 1 miliar lebih,” kata Edi melalui telepon.

Dari indukan itu, Edi menghasilkan 2 juta benur tiap hari yang diserap petambak-petambak di Maluku dan Gorontalo seharga Rp 30 – 32 per ekor. Hadirnya VN-1, kata dia, membantu petambak-petambak yang sebelumnya gulung tikar. Edi sendiri sejak 1992 memulai usahanya menjual benur udang windu, namun kolaps tahun 2000 karena penyakit. Saat itu dia merugi hingga Rp 628 juta.

Petambak-petambak kecil yang mengoperasionalkan budidaya dengan tradisional dan semi-intensif kini mulai bergairah kembali. Nur Mukit, salah satu petambak di Desa Wringinputih, Banyuwangi, Jawa Timur, mengatakan, dia membudidayakan VN-1 sejak 2010 dengan modal Rp 40 juta. Dalam satu siklus dia membeli 100 ribu benur yang dia tebar di satu kolam semi-intensif. Dia memanen vaname ketika berusia 60 hari dengan ukuran 70 sebanyak 1 ton. Vaname dia jual ke tengkulak seharga Rp 50 ribu per kilogram. “Dikurangi biaya produksi saya bisa untung Rp 10 juta,” kata Nur Mukit.

Mukit sebelumnya membudidayakan udang windu pada 2002. Namun karena pertumbuhan yang lama yakni 120 hari, akhirnya dia beralih ke vaname. Mulanya dia memakai vaname impor yang dia beli dari Lampung seharga Rp 70 per ekor. Sejak VN-1 hadir, kini ia cukup membeli benih dari perusahaan di Banyuwangi sehingga mengurangi biaya produksi. Langkah Mukit akhirnya ditiru oleh petambak lain di desanya sehingga sekarang ada 9 petambak dengan total 16 kolam. Kelompoknya telah mendapatkan bantuan pemerintah untuk merevitalisasi tambak yang semula dengan cara tradisional kini meningkat menjadi semi-intensif. “Kami diberi kincir, genset dan mesin,” kata pria 32 tahun ini yang juga ketua kelompok petambak di desanya.

Supervisor PT Panca Mitra Multi Perdana, perusahaan pembekuan udang di Situbondo, Anang Kurniawan, mengatakan, pasar ekspor udang vaname cukup besar. PT Panca mengekspor udang vaname antara 5 ribu – 6 ribu ton per bulan ke Jepang, Uni Eropa dan Amerika Serikat. Menurut Anang, perusahaannya mendapatkan pasokan vaname dari hampir seluruh petambak di Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Bali.

Vaname yang diekspor berukuran 40, dengan harga Rp 88 ribu dari supplier. Di Amerika, dia menjual vaname antara Rp 110 – 120 ribu per kg. Menurut Anang, krisis udang di Thailand dan Vietnam sangat menguntungkan bagi Indonesia. Sebelum kedua negara itu kolaps, perusahaannya hanya bisa mengekspor kurang dari 4 ribu ton per bulan. “Thailand sekarang ambil udang dari kami,” kata dia.
Menurut Anang, petambak udang mulai bergairah kembali terutama sejak setahun terakhir. Rival berat Indonesia saat ini hanyalah India. Saat India panen raya seperti bulan ini, pasar Eropa beralih ke negara itu karena harganya lebih murah. “Kalau India sepi, harga udang bisa meroket lebih dari Rp 150 ribu per kilogram,” katanya.

Direktur Jenderal Budidaya Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan,. Slamet Subijakto, mengatakan, pihaknya menargetkan produksi vaname di Indonesia tahun ini mencapai 511 ribu ton, meningkat dari 2013 sebanyak 480 ribu ton. Untuk mencapai target itu dibutuhkan induk 2,6 juta. Slamet mengakui, 85 persen  induk vaname Indonesia saat ini masih impor dan sisanya dihasilkan oleh BBAP dan induk lokal. Oleh karena itu, Kementerian akan memperbesar kapasitas pembenihan vaname di BBAP Situbondo serta membangun pusat pembesaran naupli di daerah lainnya. “Kami tak ingin terus-menerus bergantung kepada impor,” kata dia.

Selain memproduksi benih sendiri, kata Slamet, sejak 2012 pemerintah telah merevitalisasi 130 ribu tambak di Pulau Jawa yang sebelumnya menganggur. Bersama Kementerian Pekerjaan Umum, anggaran revitalisasi mencapai Rp 99 miliar untuk perbaikan saluran air dan fasilitas lainnya. IKA NINGTYAS