Páginas

Sunday, November 16, 2014

Berebut Gunung Ijen

Supriyantoro dan Jumhar berboncengan menapaki tanjakan erek-erek di kaki Gunung Ijen dengan sepeda motor bebeknya. Mereka hanya berhenti merokok selama 30 menit, kemudian melanjutkan perjalanan kembali yang penuh tanjakan dan berkelok-kelok. "Dulu kalau lewat erek-erek, sepeda motor harus didorong sampai tiga kilometer," kata Supriyantoro, 49 tahun, warga Desa Srono, Banyuwangi, 12 November 2013.

Setiap dua hari sekali, Supriyantoro dan Jumhar menempuh jalur 42 kilometer menuju tempat kerjanya di Kabupaten Bondowoso, melewati jalur alternatif di kaki Gunung Ijen. Sebelum tahun 2012, erek-erek adalah tanjakan tertinggi hingga 30 meter dengan kemiringan tanah 70 derajat dan kelokannya mirip huruf "S". Hanya kendaraan berjenis offroad yang mampu menempuh tanjakan neraka itu dengan mulus.



Pemerintah Banyuwangi pada 2012 mengucurkan anggaran Rp 7 miliar untuk menurunkan ketinggian erek-erek menjadi 15 meter dan kemiringannya 15 derajat. Tebing di kanan-kirinya diperkuat, jalannya diaspal mulus. Saat ini, tak hanya mobil biasa yang melintas, sepeda motor bahkan sepeda biasa pun bisa melampaui jalur itu.

Mudahnya akses menuju Gunung Ijen itu bersamaan dengan turnamen balap sepeda internasional, Tour de Ijen yang dihelat sejak 2012. Event itu dilanjutkan tahun ini pada 2-5 November lalu. Ada 20 tim yang bertanding, terdiri dari 14 tim asing dan 6 tim nasional. Pemkab menggelontorkan Rp 7 miliar demi turnamen ini. "Kita ingin menunjukkan kepada dunia kalau Gunung Ijen itu punya Banyuwangi," kata Kepala Bagian Pemerintahan Anacleto Da Silva, Senin 11 November.

Banyuwangi dan Bondowoso yang bertetangga di bagian barat itu, sejatinya masih memperebutkan gunung setinggi 2.368 mdpl tersebut. Sengketa tapal batas yang muncul sejak 2006 itu tak kunjung mencapai titik temu dan kini masih ditangani oleh Kementerian Dalam Negeri.

Kedua kabupaten bertanding dokumen dan peta. Pemkab Banyuwangi mengajukan 6 peta era kolonial Belanda yang memasukkan Ijen sebagai bagian Banyuwangi. Peta tersebut yakni Besoeki Afdeling 1895, Idjen Hooglan 1920, Java Madura 1942, Java Resn Besoeki 1924, Java Resn Besoeki 1924 Blad XCIII C, dan Java Resn Besoeki 1925.

Sementara Pemerintah Bondowoso berdasarkan peta yang diterbitkan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) tahun 2000. Dalam peta tersebut, kawah Gunung Ijen seluas 1.160 x 1.160 meter dari permukaan laut dibagi dua, masing-masing menjadi milik Banyuwangi dan Bondowoso.

Anacleto bercerita sejak 2011-2013, sedikitnya tiga kali pertemuan dimediasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Dalam Negeri. Namun ketiga pertemuan itu tak pernah dihadiri oleh Bondowoso. "Akhirnya masalah jadi berlarut-larut," kata dia.

Banyuwangi berkukuh mempertahankan gunung yang kawahnya terluas di Asia Tenggara ini, karena setiap tahunnya didatangi ribuan wisatawan asing dan domestik. Penambangan belerang secara tradisional di gunung itu juga menjadi satu-satunya di Indonesia.

Potensi panas bumi di Gunung Ijen, saat ini juga sedang dieskplorasi oleh PT Medco Geothermal Indonesia, anak perusahaan PT Medco Energy Internasional Tbk. PT Medco memegang kuasa eksplorasi seluas 62.620 hektare. Potensi panas bumi diperkirakan menghasilkan energi listrik sebesar 270 megawatt yang nantinya akan dijual ke PT PLN.

Keseriusan Banyuwangi mempertahankan Ijen tak hanya dengan menyelenggarakan Tour de Ijen. Tahun ini Banyuwangi menganggarkan Rp 6,3 miliar untuk memperbaiki fasilitas obyek wisata. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Banyuwangi, Mujiono, mengatakan, anggaran itu di antaranya untuk pengadaan air bersih sebesar Rp 4 miliar. "Air bersih di Ijen terbatas, kita cari sumber air baru lalu bangun pipanisasi, " kata dia.

Tak hanya itu, Banyuwangi membangun dua shelter di kilometer 10 dan kilometer 5 dengan anggaran Rp 700 juta; pembangunan gedung informasi dan souvenir senilai Rp 800 juta, pavingisasi area parkir paltuding Rp 200 juta; pemeliharaan jalan dan plengsengan erek-erek Rp 400 juta dan pembangunan sarana promosi Rp 80 juta; dan rest area Rp 200 juta.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Muhammad Yanuarto Bramuda, mengklaim, angka wisatawan hingga bulan November 2013 ke Gunung Ijen telah mencapai 14 ribu orang. "Bulan yang sama tahun 2012 hanya 8 ribu wisatawan," kata dia.

Peningkatan jumlah wisatawan itu, kata Bramuda, memang belum menaikkan angka pendapatan asli daerah. Namun dia memastikan efeknya langsung ke masyarakat seperti pemilik warung dan penambang belerang yang juga menjadi pemandu wisata.

Bramuda mengakui wisatawan ke Ijen selama ini lebih banyak melewati Kabupaten Bondowoso yang terangkai dengan paket wisata Gunung Bromo. Oleh karena itu, Banyuwangi sedang menggagas kerjasama dengan travel untuk paket wisata dengan rute Borobudur, Bromo, Banyuwangi dan Bali.

Khomsiyah, 58 tahun, pemilik warung di Dusun Jambu atau 10 kilometer dari Gunung Ijen, mengakui jika jumlah pembelinya lebih ramai dalam setahun terakhir. Dalam sehari, Khomsiyah bisa mengantongi Rp 500 ribu - Rp 1 juta dari wisatawan yang melintas. Mereka biasanya membeli bensin, minuman, dan madu. "Hampir tiap hari ramai apalagi kalau musim liburan," kata Khomsiyah yang sudah 15 tahun berdagang ini.

Namun anggota DPRD Banyuwangi, Nasiroh, memberi penilaian lain terhadap gencarnya promosi wisata Gunung Ijen tersebut. Menurut dia, cara-cara tersebut terkesan sepihak dan tidak efektif untuk memperkuat legitimasi Ijen milik Banyuwangi. Seharusnya, Banyuwangi menempuh cara legal-formal dan memperbanyak komunikasi dengan Bondowoso. "Kalau akhirnya Bondowoso menang, anggaran sebegitu banyak menjadi sia-sia," kata dia.

Menurut Nasiroh, besarnya promosi Ijen tersebut tidak sebanding dengan potensi riil lainnya seperti pertanian dan perikanan. Dia yakin bahwa dampak penyelenggaran Tour de Ijen misalnya, hanya dinikmati oleh masyarakat kelas menengah atas seperti pemilik restoran dan hotel. "Dampak langsung ke masyarakat menengah bawah tidak ada," katanya. IKA NINGTYAS

Sumber foto: Arie Basuki/Tempo