Páginas

Friday, December 19, 2014

Mendadak Pap Smear

Ratih Nur Cahyani keluar dari poli kulit dan kelamin dengan wajah sumringah. Dia langsung mendekati sahabatnya, Rudia Hartiningsih di ruang tunggu pasien. “Ternyata kamu bener, gak sakit. Prosesnya juga cepat,” kata Ratih sambil merapikan pakaiannya.

Bayangan Ratih tentang pap smear yang menakutkan dan sakit, akhirnya kandas. Rabu siang, 3 September, perempuan 46 tahun itu menerima ajakan sahabatnya untuk pap smear di Rumah Sakit Yasmin, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Ibu beranak tiga ini bersemangat setelah mengetahui layanan pap smear itu gratis bagi perempuan yang memegang kartu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


Menurut Ratih, sebelumnya dia tak mengerti manfaat pap smear yang bisa mencegah kanker leher rahim (serviks). Apalagi sebelum ada JKN, tes pap smear harus berbayar. Pikirannya kemudian berubah setelah berdiskusi dengan Rudia. “Akhirnya memberanikan diri periksa, usia saya tergolong rawan kena kanker,” kata ibu rumah tangga istri dari seorang polisi ini.

Rudia membenarkan cerita sahabatnya itu. Istri seorang guru PNS ini, mengatakan, sudah dua kali dia melakukan tes pap smear. Pap smear pertama, dia lakukan pada 10 tahun lalu. Saat itu, dia harus membayar karena asuransi kesehatan dari PT ASKES tidak mencakup layanan pap smear. “Setelah itu tak pernah lagi tes karena dikenai biaya,” katanya.

Ibu dua anak itu baru tergerak tes lagi setelah mendapatkan brosur dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang berisi layanan gratis untuk pap smear. Dia pun aktif mengajak kawan-kawan perempuannya, seperti Ratih, untuk memeriksakan diri. Proses administrasi pun tak ribet. Ratih hanya cukup membawa fotokopi kartu JKN, tes pap smear pun langsung dilayani.

Setiap harinya, Rumah Sakit Yasmin selalu didatangi 2-5 pasien untuk tes pap smear. Tes pap smear adalah pemeriksaan dengan mengambil contoh sel-sel leher rahim, kemudian dianalisa untuk mendeteksi dini kanker leher rahim.

Manajer Marketing rumah sakit tersebut, Agus Rianto, mengatakan, jumlah pasien tes pap smear meningkat drastis sejak digratiskan melalui program Jaminan Kesehatan Nasional pada awal Juli 2014. Sebelum gratis, hanya 1-2 perempuan yang pap smear dalam setiap bulannya. “Sekarang, satu bulan saja sudah ada 100 pasien pap smear,” kata Agus kepada Tempo, Rabu 3 September.

Agus menjelaskan layanan pap smear gratis ini sedikit demi sedikit mampu mengubah pola pikir perempuan. Sebelumnya, pasien melakukan pap smear bila muncul gejala seperti keputihan dan pendarahan. Setelah dites, rata-rata pasien itu sudah mengidap kanker leher rahim stadium lanjut. Namun saat ini, kata Agus, kondisinya lebih baik. Para pasien tersebut datang, murni sebagai bentuk pencegahan dini.

Rendahnya kesadaran memeriksakan diri, karena tes pap smear di rumah sakit swasta ini sebelumnya ditarik biaya Rp 89 ribu. Selain alasan biaya, Agus menjelaskan, karena ada anggapan bahwa pap smear itu sakit. “Padahal sama sekali tidak sakit, dan prosesnya hanya 2 menit,” katanya.

Tempo pun menjajal tes ini. Di kamar poli, Tempo diminta oleh dua perawat untuk berbaring di tempat tidur dengan posisi kedua kaki terangkat, menopang pada besi. Posisi ini mirip seperti proses melahirkan. Perawat kemudian mengoleskan gel, kemudian membuka liang vagina dengan alat bernama speculum vagina atau dikenal dengan cocor bebek. Ketika leher rahim terlihat, dimasukkan lagi semacam sikat halus untuk mengambil lendirnya. Lendir kemudian dioleskan pada kaca obyek untuk dianalisa di laboratorium. Benar, prosesi selesai kurang dari dua menit. Tempo tinggal menunggu hasil laboratorium yang akan keluar dalam satu pekan.

Agus mengatakan, pihaknya menargetkan ada 25.600 perempuan yang tes pap smear hingga akhir tahun 2014. Untuk mencapai target tersebut, RS Yasmin kini gencar sosialisasi ke komunitas-komunitas perempuan seperti melalui pengajian. Selain itu, RS Yamin melakukan tes pap smear keliling sejak awal September.

Syarat pap smear gratis ini, kata dia, ditujukan bagi perempuan pemegang kartu JKN yang telah berusia minimal 30 tahun. Syarat penting lainnya, sebelum pap smear, pasien dilarang berhubungan badan 2 hari sebelumnya, tidak haid serta tidak menggunakan sabun pembersih pada daerah kewanitaan.

Peningkatan pasien untuk tes pap smear juga terjadi di RS Bhakti Husada, Kecamatan Glenmore. Direktur RS Bhakti Husada, Zunita Ahmadah, mengatakan, pasien tes pap smear saat ini mencapai 500 orang per bulan. Padahal sebelum program pap smear gratis berlaku, pasien pap smear hanya sekitar 50 orang per bulan. “Pap smear gratis dari JKN baru efektif Agustus,” kata Zunita.

Selain menerima kunjungan pasien, RS Bhakti Husada juga menggelar pap smear keliling ke instansi dan kelompok ibu-ibu. Pada awal September, misalnya, RS Bhakti Husada melayani tes pap smear 100 istri TNI AD yang bertugas di Komando Distrik Militer 0825 Banyuwangi. Mereka juga berkeliling ke Dharma Wanita di PT Perkebunan Nusantara XII dan pengajian kampung.

Menurut Zunita, pap smear gratis membuat pasien antusias memeriksakan diri. Sebab  bila tanpa kartu JKN, dikenai biaya antara Rp 60 ribu untuk tes secara kolektif dan Rp 80 ribu bagi perseorangan. “Biaya tersebut bagi warga tak mampu tentu sangat berarti,” Zunita menuturkan.

Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, Adi Soenarno, mengatakan, pihaknya menyediakan alokasi anggaran Rp 2,3 miliar untuk program pap smear gratis ini. Menurutnya, ada 7 rumah sakit dan 2 klinik mobile yang memiliki layanan pap smear gratis bagi pemegang kartu JKN.

Bila kejauhan untuk mengakses rumah sakit, peserta JKN juga bisa melakukan tes IVA alias inspeksi visual yang bisa dilayani oleh 45 puskesmas dan 200 bidan di Banyuwangi. Tes IVA ini merupakan cara sederhana mendeteksi kanker leher rahim tanpa pengujian laboratorium.

Menurut Adi, layanan pap smear gratis ini diluncurkan untuk menekan angka kematian pada perempuan akibat kanker leher rahim. Bila kanker leher rahim bisa terdeteksi sejak dini, maka penyembuhannya juga lebih cepat. Selain pap smear gratis, peserta JKN akan tetap mendapat pengobatan dan rawat inap gratis bila positif menderita kanker leher rahim.

Untuk menggenjot tingkat pemeriksaan pap smear, BPJS Banyuwangi menggandeng pemerintah daerah setempat. Tujuannya, kata Adi, agar pemeriksaan pap smear bisa dilakukan lebih dulu oleh PNS dan keluarganya yang telah menjadi peserta JKN. Sebab peserta JKN dari jalur mandiri atau yang tak ditanggung oleh pemerintah, jumlahnya masih relatif kecil.

Data kepesertaan JKN hingga akhir Agustus 2014 di Banyuwangi mencapai 688.243 orang dan 9 ribu orang di antaranya peserta jalur mandiri.

Pemerintah Banyuwangi pun menyambut program pap smear gratis itu dengan cepat. Menurut Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan, Wiji Lestariono, pihaknya mengeluarkan surat edaran ke seluruh kecamatan dan puskesmas agar melakukan pap smear massal bagi perempuan pemegang kartu JKN. “Bisa dimulai dari keluarga PNS atau warga terdekat di sekitar kecamatan,” kata dia.

Beberapa kecamatan dan puskesmas telah menggelar pap smear gratis ini bekerja sama dengan rumah sakit. Pap smear massal yang digelar Puskesmas Klatak, Kecamatan Kalipuro, pada 2 September lalu, diikuti 30 perempuan. Sebagian besar dari mereka adalah keluarga PNS, TNI/Polri dan sebagian kecil peserta JKN jalur mandiri.

Dokter spesialis kandungan RSUD Blambangan, dr Haris Wibawanto SpOg, mengatakan, kanker rahim menjadi pembunuh nomor satu bagi perempuan. Mengutip data Yayasan Kanker Indonesia, setiap harinya muncul 40-45 kasus baru, dan 20-25 orang meninggal. Berarti setiap 1 jam diperkirakan 1 orang perempuan meninggal dunia karena kanker rahim. Alasannya, kata Haris, rata-rata pasien datang ketika menderita kanker stadium lanjut sehingga virus sudah menyebar ke bagian tubuh lainnya. “Setiap bulannya saya menangani 5-10 pasien kanker di atas stadium dua,” kata Haris.

Haris menjelaskan, kanker mulut rahim disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) yang menyerang leher rahim yakni bagian yang sempit antara kemaluan wanita dan rahim. Tingkatan kanker ini terbagi dalam stadium prakanker (stadium 1), stadium awal (stasium 1 dan 2A), dan stadium lanjut (stadium 2B sampai stadium 4).

Virus ini mudah menyebar kepada perempuan yang kurang menjaga kebersihan, berganti-ganti pasangan seks dan melakukan seks di bawah usia 16 tahun. Pada stadium awal, tidak ada gejala yang nampak. Namun pada stadium berikutnya, perempuan yang terinfeksi HPV akan mengalami keputihan yang terus menerus dan berbau serta perdarahan.

Hanya ada dua cara, kata Haris, untuk mencegah kanker mulut rahim ini. Pencegahan primer yakni dengan pap smear sedangkan pencegahan sekunder melalui imunisasi HPV. Bila diketahui sejak dini dengan pap smear, Haris menambahkan, maka penyebaran virus HPV pun secara cepat bisa dihentikan.

Mafijah, 52 tahun, mengidap kanker serviks sejak tahun 2011.  Perempuan dengan tiga anak itu, mengakui, baru melakukan tes pap smear setelah terjadi perdarahan terus-menerus selama satu bulan. "Setelah dites ternyata divonis kanker serviks stadium satu," kata perempuan asal Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi itu, Jumat 12 September 2014.

Menurut Mafijah, awalnya dia menjalani pengobatan alternatif selama sekitar 3 bulan, berharap bahwa penyakitnya sembuh. Tak ada tanda-tanda sembuh, Mafijah akhirnya kembali mendatangi dokter di salah satu rumah sakit di Banyuwangi. Pengobatan kanker serviks dengan kemoterapi ternyata tidak bisa ditangani di daerahnya , sehingga dia harus dirujuk ke RS dr. Soetomo, Surabaya.

Selama dua tahun, Mafijah menjalani kemoterapi setiap 21 hari sekali ke Surabaya. Padahal jarak Banyuwangi ke Surabaya dia tempuh selama 7 jam. Di Surabaya, Mafijah tinggal di rumah singgah penderita kanker yang didirikan Yayasan Kanker Indonesia. "Entah sudah habis uang berapa juta," kata dia.

Mafijah kini sudah dinyatakan sehat. Tapi dia harus menjalani kontrol rutin ke Dr Soetomo sebulan sekali. Dia juga wajib menjalani pap smear setiap 6 bulan. 

IKA NINGTYAS