Páginas

Friday, December 19, 2014

Menjelajahi Bawah Laut Selat Bali

Menjelajahi alam bawah laut Selat Bali yang terkenal berarus kuat itu ibarat menguji nyali. Apalagi dilakukan saat bulan Agustus, periode angin kencang yang mengundang gelombang tinggi. Tapi kemudian saya mengabaikan bayangan ngeri tentang Selat Bali. Bersama tujuh orang kawan, saya berhasrat menaklukannya juga pada Minggu 17 Agustus lalu.

Ada dua spot di Selat Bali yang kini dikembangkan sebagai wisata bawah laut, yakni di Desa Bansring, Kecamatan Wongsorejo dan Pulau Tabuhan. Kedua spot wisata yang baru populer tiga bulan lalu tersebut dikelola oleh Kelompok Nelayan Samudera Bakti.


Saya memulai penjelajahan alam bawah laut dari Desa Bansring, sekitar 15 kilometer arah utara kota Banyuwangi. Sebagai pemula, saya hanya menyelam permukaan alias snorkeling. Seperangkat alat antara lain snorkel, masker, pelampung dan sepatu katak bisa disewa dengan tariff Rp 25 ribu.

Spot yang saya coba ini memang belum terkenal seperti Pulau Menjangan, Bali, meski lokasinya sama-sama berada di Selat Bali. Kelebihannya, saya tidak perlu menempuh jauh ke tengah laut seperti di Menjangan untuk snorkeling. Dari pantainya saja, saya sudah bisa melihat terumbu karang yang hidup  di balik air laut yang jernih. Terumbu karang di spot ini memang tersebar mulai kedalaman setengah meter hingga 30 meter.

Terumbu karang di wilayah ini pernah hancur akibat pemakaian potassium yang sering dipakai nelayan ikan hias. Banyuwangi memang menjadi pengekspor ikan hias nomor wahid di Jawa Timur, yang rutin mengirim ke Jepang, Taiwan, Cina hingga Eropa. Sayangnya, nelayan sering menggunakan cara-cara instan untuk mendapatkan ikan hias walau harus dibayar mahal dengan kerusakan ekosistem  lautnya.

Menurut Wakil Ketua Kelompok Nelayan, Sukirno, baru pada 2008, ada sekitar 31 nelayan yang akhirnya ‘bertobat’. Mereka menyadari bahwa pemakaian potassium telah menyebabkan terumbu karang rusak, yang efeknya juga mengurangi populasi ikan hias. Mereka lantas membentuk Kelompok Nelayan Samudera Bakti yang berkomitmen berhenti menggunakan potas dan menggantinya dengan jarring yang lebih ramah lingkungan. “Kami juga membuat terumbu karang buatan dan menebarkan benih ikan ke laut,” kata Sukirno, matan nelayan ikan hias ini.

Upaya itu akhirnya memulihkan populasi ikan hias. Bila sebelumnya penghasilan nelayan hanya Rp 50 ribu sehari, saat ini bisa mencapai Rp 500 ribu. Keberhasilan upaya ini, akhirnya menarik nelayan lainnya sehingga ada 150 nelayan yang bergabung.

Saya berenang kesana-kemari, sesekali menyelam lebih dalam. Menyaksikan terumbu-terumbu karang beraneka warna diterpa matahari. Beberapa jenis ikan seperti nemo, lion fish, dan kepe merah seolah menyambut kedatangan saya. Terumbu karang alami itu mulai tumbuh, menjadi rumah yang nyaman bagi ratusan jenis ikan. Meski saya juga melihat masih banyak terumbu karang yang  rusak sisa eksploitasi besar-besaran.

Berdampingan dengan terumbu karang alami tersebut, masih terdapat bekas-bekas transplantasi alias terumbu karang buatan yang pernah ditenggelamkan para nelayan. Inilah nilai lebih menyelam di Selat Bali. Selain bisa menikmati keindahan alamnya, saya bisa menyaksikan bagaimana perjuangan para nelayan untuk menyelamatkan biota laut.

Gelombang setinggi satu hingga satu setengah meter disertai arus, memang menjadi kesulitan tersendiri snorkeling di Selat Bali. Karena saya harus berenang sekuat tenaga agar tidak terbawa arus terlalu jauh. Termasuk, agar bisa kembali ke pantai. Tapi, capek dan napas yang ngos-ngosan terbayar lunas dengan rasa takjub karena bisa menyelesaikan spot pertama tanpa hambatan berarti.

Beristirahat setengah jam, saya melanjutkan perjalanan menuju spot kedua ke Pulau Tabuhan. Pulau kosong ini terletak sekitar 5 mil dari spot pertama. Letaknya berada di antara Pulau Bali dan Pulau Jawa. Saya dan rombongan menyewa kapal nelayan berkapasitas 10 orang, dengan tarif sewa Rp 500 ribu.

Ini pengalaman pertama juga menyeberangi Selat Bali dengan kapal kecil begini. Ombak dan angin kencang, membuat kapal bergoyang-goyang ekstrem menciutkan nyali. Hempasan ombak yang menghantam kapal mengguyur tubuh saya. Di situasi seperti ini, bersikap tenang alias tak panik adalah obat yang manjur. Toh, ada pelampung di tubuh saya sehingga tetap merasa aman.

Pulau Tabuhan dengan pasirnya yang bersih dan putih berkilau dari kejauhan. Semakin dekat, air lautnya berwarna kehijauan bening, sehingga saya bisa melongok ribuan ganggang laut yang melambai-lambai. Setelah kapal berhenti, saya tak sabar langsung memakai snorkel dan berenang. Dari pantai hingga berjarak 300an meter, kedalaman lautnya hanya sepaha, cukup oke untuk penyelam pemula dan anak-anak sekalipun.  

Pulau Tabuhan seluas 5 hektare ini hanya dihuni sekelompok burung pantai berwarna putih. Ditumbuhi lebat pepohonan, dengan sebuah mercusuar yang sepertinya sudah tak aktif. Ada pula reruntuhan bangunan dari batu bata, yang menurut para nelayan dibangun di era Belanda. Reruntuhan bangunan yang menghadap persis ke Pulau Bali itu diperkirakan menara pengintai. Ya, perpaduan yang sempurna: laut yang eksotis dengan pulaunya yang cantik.

Ketua Kelompok Nelayan Samudera Bakti, Ikhwan Arief, mengatakan, sejak wisata menyelam dibuka 3 bulan lalu itu, respon pengunjung sangat tinggi. Setiap bulan, mereka melayani sekitar seribu penyelam yang datang dari berbagai kota. “Ada yang dari Surabaya hingga Jakarta,” kata dia.

Teguh Siswanto, 55 tahun, seorang penyelam, mengatakan, dia sudah menyelam di 40 lokasi mulai Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Menurutnya, laut di Banyuwangi sebenarnya punya potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata menyelam, tak kalah dengan Bali atau Lombok. Hanya saja, riwayat laut di Banyuwangi pernah rusak sehingga keanekaragaman biota lautnya tak selengkap di Bali dan Lombok. “Di Bali, biota lautnya sangat dijaga,” kata lelaki asal Banyuwangi ini.

Menurut dia, menyelam adalah salah satu wisata yang banyak diminati wisatawan. Namun syarat untuk mengembangkan wisata ini, mutlak harus menjaga keutuhan biota lautnya. Dia mengapreasiasi upaya yang dilakukan nelayan Desa Bansring yang mengembangkan wisata menyelam sebagai salah satu penghasilan alternatif.

Ya, saya sepakat dengan Teguh. Laut sangat penting bagi kehidupan manusia dan sebagai penjaga keseimbangan alam. Menyaksikan keindahan biota laut adalah salah satu cara untuk menikmati karunia Tuhan yang tiada taranya itu. Dan akhirnya, kita akan tergerak untuk ikut menjaganya.

IKA NINGTYAS