Páginas

Thursday, January 15, 2015

Begini Kejamnya Perburuan Hiu

Keberadaan hiu di dunia dalam kondisi mengkhawatirkan bahkan terancam punah. Populasinya telah berkurang 70-99 persen1. Menurunnya populasi hiu itu disebabkan karena maraknya perburuan untuk kebutuhan restoran dan kosmetik. Indonesia menjadi negara dengan tingkat perburuan hiu tertinggi di dunia. Menurut data LIPI pada 2012, Indonesia memproduksi sekitar 60.000 ton ikan hiu dan 434 ton sirip ikan hiu yang diekspor selama 20122.



Menurut WWF, bila perburuan hiu terus berlangsung, maka hiu akan punah dalam waktu 55 tahun terhitung sejak 2013. Mengapa? Karena masa reproduksi hiu sangat lambat dibandingkan jenis ikan lainnya. Jumlah anak hiu kurang dari 100 ekor dan periode kelahirannya setahun sekali. Bandingkan dengan ikan cakalang, yang bisa memproduksi 100 ribu hingga 2 juta anakan dengan masa reproduksi 3-4 kali dalam setahun.

Menurunnya populasi hiu mengundang keprihatinan dari negara-negara dunia. Pada 2013 lalu, Para Pihak (COP) Ke-16 Perdagangan Spesies Flora-Fauna Terancam Punah (CITES) bertemu di Bangkok untuk mendorong peningkatan populasi predator itu di alam. Tiga jenis hiu (Sphyrna lewini, S mokarran, dan S zygaena) serta dua jenis manta (Manta birostris dan M alfredi) ditetapkan masuk daftar Apendiks II CITES. Sidang akhir CITES juga menyetujui masuknya hiu oceanic white tip (Carcharhinus longimanus) dan porbeagle (Lamna nasus) ke dalam Apendiks II. Artinya, dilarang ketat diperdagangkan, kecuali untuk penelitian3.

Salah satu daerah Indonesia yang tingkat perburuan hiunya tinggi yakni Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. Saya menelusuri bagaimana para nelayan Muncar berburu hiu pada 2011 lalu. Sudah lama memang. Tapi pada pertengahan 2014, ketika kawan saya jurnalis Surya ke Muncar, perburuan hiu ternyata masih berlangsung.

**
14 Februari 2011

Mahfud,46 tahun, bergegas menuju dermaga, setelah melihat kapal penuh tangkapan mulai merapat. Dia berteriak memanggil dua buruh angkut dan seorang tukang becak yang mangkal di dekatnya.


Para buruh angkut segera bersigap dengan membawa sebilah bambu dan tali. Setelah posisi kapal telah merapat sempurna,  para buruh angkut itu mendekat lalu memikul tiga ekor hiu sepanjang 2-3 meter ke darat. Ketiga hiu jenis kejen (Carcharias sp) tersebut kemudian ditumpuk ke dalam becak. Hiu-hiu itu dibawa menuju gudang pemotongan sirip yang letaknya tiga kilometer dari pantai. "Kemarin kita malah dapat hiu satu ton," Mahfud berujar.


Mahfud adalah anak buah Muhammad Sholeh, pemilik UD Barokah Laut, pengepul hiu terbesar di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. Dia yang bertugas mengawasi, sejak hiu diturunkan dari kapal hingga mengurusi pemotongan sirip.



Tiba di gudang pemotongan sirip, berat ketiga hiu ditimbang. Totalnya 2,5 kuintal. Barulah sirip hiu dipotong. Setelah dibersihkan, sirip hiu dibekukan dalam kotak-kotak pendingin yang berjejer di dalam gudang.



Selesai sirip dipotong, hiu-hiu itu kembali diangkut dengan becak menuju gudang pengasinan. Letaknya terletak di pinggir dermaga. Di gudang seluas sekitar 5x8 meter itu, ada puluhan hiu lain yang tergeletak di lantai. Tak hanya hiu dewasa, hiu-hiu anakan pun terlihat mati tak berdaya.


Seluruh bagian hiu tidak ada yang terbuang sia-sia. Atep Ruslan Hamdani, 28 tahun, salah satu pekerja, menjelaskan, kulit hiu diambil terlebih dulu. Tahap berikutnya, daging dipisahkan dari tulangnya. Kulit hiu kemudian dikeringkan di bawah matahari. Sedangkan daging dan tulang diasinkan ke dalam balok-balok yang berisi garam.


Muhammad Sholeh, 36 tahun, pemilik UD. Barokah Laut, mengatakan, bagian hiu yang telah diawetkan itu kini telah siap untuk dilempar ke pasaran. Sholeh menyuplai pasokan untuk sejumlah eksportir hiu di Surabaya, Bandung dan Jakarta. Dalam kondisi normal, pengiriman bisa dilakukan tiga kali sebulan. Sholeh mengirim paling sedikit 500 kilogram sirip dan 15 ton daging. “Tapi dalam setahun ini tangkapan hiu mulai turun. Sebulan hanya bisa kirim satu kali," kata dia.



Sholeh yang sudah tujuh tahun jadi pengepul ikan, mengatakan, berbisnis hiu lebih menguntungkan karena seluruh bagian tubuhnya laku di pasaran. Mulai Sirip, daging, kulit dan tulang. Namun dari seluruh bagian tubuh hiu, siriplah yang memiliki harga termahal. Untuk sirip basah harganya sekitar Rp 750 ribu per kilogramnya. Sedangkan harga sirip kering dibanderol lebih tinggi yakni Rp 2 juta per kilogramnya. 



Sementara harga daging Rp 90 ribu per kilogram. Harga kulit dan tulang hiu perkilogramnya masing-masing Rp 50 ribu dan Rp 38 ribu. Bahkan saat ini, hati hiu pun bisa diolah lagi menjadi minyak ikan. "Tapi suplainya hanya untuk pabrik-pabrik lokal di Banyuwangi," ungkapnya.



Di luar negeri seperti Cina, hiu memang sangat dicari untuk makanan olahan. Menurut Sholeh, hal itu tak lain karena hiu dipercaya bisa menambah vitalitas. Selain dikirim ke para eksportir, Sholeh mengolah sebagian kecil daging hiu untuk warungnya. Dia mendirikan rumah makan di Jalan Raya Srono Banyuwangi. Sate hiu menjadi menu andalannya. 



Dari empat pengepul hiu di Pelabuhan Muncar, Sholeh menguasai 75 persen tangkapan hiu. Pengepul lainnya kini mulai kolaps karena kekurangan modal. Menurut warga Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi ini, dia mendapat pasokan dari sekitar 60 kapal besar pencari hiu.


Untuk menjamin pasokan hiu dari para nelayan, Sholeh mengikat nelayan dengan perjanjian. Isinya, Sholeh akan memberikan pinjaman biaya melaut plus komisi 5 persen kepada nelayan. Dan imbalannya, para nelayan harus menjual tangkapan hiu kepadanya. 



Sholeh membeli hiu dari para nelayan dengan cara borongan seharga Rp 22.500 per kilogram. Dengan demikian, bila ada nelayan yang mendapat hiu, maka Sholeh hanya cukup membayar sisa pembeliaan hiu setelah dikurangi hutang biaya melaut plus komisi 5 persen.



Biaya melaut mencari hiu bisa mencapai Rp 30 juta. Ongkos ini untuk biaya BBM, makan, dan uang saku nelayan. Salah satu nelayan hiu, Rudiman, 39 tahun, mengatakan, musim hiu di perairan Selat Bali hanya berlangsung pada bulan Juli-Desember. Selain bulan tersebut, para nelayan akan memburu hiu ke perairan Kalimantan, Sulawesi bahkan ke perbatasan Australia. 



Pencarian hiu di Selat Bali membutuhkan waktu sekitar 10 hari. Bila harus keluar, nelayan biasanya akan kembali mendarat pada hari ke 22. Biasanya, nelayan bisa mendapatkan hiu hingga 3 ton. Namun saat ini, menangkap satu ton saja sudah hal langka. "Malah pernah tidak dapat sama sekali," kata lelaki asal Palembang ini.




Kapal penangkap hiu mereka sebut kapal sekoci karena bentuknya memang mirip sekoci. Kapal jenis ini memiliki mesin 300 yanmar dan kapasitas muatan hingga 4 ton dengan 6 ABK. Hiu yang sering mereka peroleh adalah jenis kejen. Ciri-cirinya, kulit berwarna lebih gelap. Hiu lainnya yang juga ditangkap yakni hiu karet, hiu macan, hiu pelen, dan hiu bekem.


Selain untuk ekspor, ada tiga rumah makan di Banyuwangi yang menyediakan menu daging hiu. Dari ketiganya, rumah makan Wisata Bahari paling ramai. Letaknya di Pantai Boom, sekitar 10 menit arah timur dari pusat kota Banyuwangi. Ya, hanya tersedia daging hiu karena harganya memungkinkan terjangkau dibanding menjual olahan sirip hiu.


Berbagai olahan daging hiu tersaji di rumah makan yang baru dua tahun berdiri ini. Mulai sate, sup, bistik, hiu bakar, dan bakso. Harga sate berisi 10 tusuk hanya dibanderol Rp 8 ribu. Sup Rp 10 ribu per mangkuk dan bakso Rp 4 ribu. Sedangkan bistik dan hiu bakar masing-masing Rp 15 ribu per porsi.



Tutik Wahyuningsih, 44 tahun, pemilik rumah makan Wisata Bahari, menuturkan, setiap harinya menghabiskan paling sedikit 2,5 kilogram daging hiu. Sate dan sup adalah menu yang paling laris diburu oleh pembeli lokal dan sesekali turis yang sedang berwisata di Banyuwangi.



Daging-daging hiu itu dia peroleh dari nelayan mulai Muncar, Situbondo dan Jember seharga Rp 15 ribu per kilogram. Tapi menurut Tutik, dia hanya membeli hiu anakan atau yang beratnya kurang dari 10 kilogram. "Rasanya lebih lunak," kata ibu tiga anak ini.



Perempuan yang juga menjadi penjual ikan di Pasar Banyuwangi ini, mengatakan, saat ini pasokan daging hiu mulai susah didapat. Bila sebelumnya bisa satu pekan sekali, saat ini jadwalnya malah tak pasti. 



Untuk menyiasati, Tutik selalu menyetok daging hiu dalam lemari pendingin. Setiap kali penjual datang, berapapun jumlahnya, Tutik selalu membelinya. "Kalau tidak begitu warung saya bisa tutup," ujarnya.


Belajar dari Raja Ampat

Raja Ampat adalah satu-satunya daerah yang secara resmi melarang perburuan hiu di Indonesia melalui Perda No. 92/2012 tentang Larangan Penagkapan Ikan Hiu, Pari Manta dan Jenis-Jenis Ikan Tertentu di Perairan Kabupaten Raja Ampat.

Pemerintah Kabupaten Raja Ampat mengumumkan bahwa seluruh wilayah perairan seluas 4 juta hektar dinyatakan sebagai wilayah perlindungan hiu. Raja Ampat kini bersama dengan Palau, Kepulauan Maldives, Bahama, Honduras, Kepulauan Marshall, dan Tokelau, menjadi kawasan yang berkomitmen untuk tidak memburu atau menangkap hiu4.

Perda tersebut cukup efektif menjadikan laut Raja Ampat sebagai tempat yang nyaman bagi hiu. Nelayan setempat mematuhi kebijakan itu, dan akhirnya berhasil mendapatkan pengganti setimpal dari sektor wisata. Sebab akhirnya wisatawan membajiri Raja Ampat hanya untuk menyaksikan keindahan bawah laut yang lengkap dengan hiunya. Terobosan ini layaknya ditiru daerah lain terutama yang memasok hiu seperti Banyuwangi.

***

Keterangan foto:

Nelayan Muncar saat berburu hiu (Ika Ningtyas)


Referensi:


4. http://savesharksindonesia.org/hiu-hidup-tenang-di-raja-ampat/