Páginas

Monday, January 5, 2015

Belajar Video Jurnalisme



Sebulan ini saya (terpaksa) belajar tentang video jurnalismeMulanya sih karena mendapat penugasan dari redaktur video di portal tempat saya bekerja, Tempo.co.  Penugasan datang saat Banyuwangi menghelat Thanksgiving Day Amerika dan Banyuwangi Ethno Carnival pada akhir November lalu


Ini protes saya kepada redaktur setelah mendapatkan penugasan tersebut via email: "Ha, serius? Kenapa mendadak? Kan saya belum pernah bikin video? Handycam juga gak punya, lalu aku nyutingnya pakai apa?" 

Wajar saya kaget. Tapi tepatnya, bingung bagaimana harus mengerjakannya

Baiklah, akhirnya saya tertantang mengeksekusinya. Saya pinjam handycam ke salah satu teman wartawan, dan kursus singkat kepadanya tentang teknik mengambil video

Video pertama yang saya ambil akhirnya hanya event Banyuwangi Ethno Carnival. Mempraktikkan apa yang diajarkan kawan saya: long shoot, medium shoot dan close upSetiap shoot paling lama 15 detik. Kalau ingin overall maksimal 30 detik.  Ya, teknik dasarnya cuma itu

Untungnya, kantor  tak mewajibkan saya harus mengedit video. Jadi cuma kirim file mentah dan naskah. Malam itu, saya mengirim 90 file sekaligus hingga jam 12 malam. Selesai. Dan akhirnya saya jingkrak-jingkrak begitu melihat video saya tayang.

Berikutnya tertantang lagi saat keliling Sumatra awal Desember lalu. Enaknya lagi, saya bisa ambil video dari kamera hp samsung galaxy saya. Maklum saya belum punya banyak duit buat beli handycam. Saya membuat dua video sekaligus, tentang kopi daun dan menjelajah Batanghari. Dua video telah tayang, meski dengan banyak catatan kekurangan.

Hem, era konvergensi saat ini memang menuntut jurnalis punya banyak keterampilan. Media cetak sudah, radio sudah, online sudah, dan sekarang belajar video.....

Belajar terus, terus belajar