Páginas

Wednesday, January 21, 2015

Revolusi Babu

Di halaman rumah yang ditumbuhi pohon mangga, Eni Kusumawati melatih lima bocah membuat aneka souvenir dari daun pisang kering. Ada vas bunga, tempat pensil, wadah kosmetik dan bak sampah yang seluruhnya terbuat dari barang bekas. Eni melatih para bocah dari kampungnya itu untuk mengisi liburan sekolah. “Daripada mereka habiskan waktunya untuk nonton televisi,” kata Eni Rabu 31 Desember 2014.


Saat liburan usai, sekitar 30 bocah di kampungnya juga menghabiskan malamnya untuk belajar di rumah Eni. Mereka mulai belajar membaca untuk usia TK hingga belajar pelajaran sekolah bagi yang SD dan SMP. Dia juga telah membuka cabang dengan siswa hingga 120 orang. Bimbingan belajar itu gratis bagi anak yang tak mampu.

Sejak 2010, Eni mendirikan perpustakaan dan pusat belajar anak-anak di rumah sederhananya dari kayu, di Jalan Belitung Gang III No 21, Kelurahan Lateng, Banyuwangi, Jawa Timur. Pusat belajar itu ia namai Rumah Cerdas. Sejak menjadi tenaga kerja wanita di Hongkong pada 2001, Eni telah bercita-cita punya pusat belajar bagi anak-anak di kampungnya.  “Agar mereka tidak hidup susah seperti saya,” kata dia.

Rumah Cerdas adalah salah satu mimpi yang dibawa Eni sepulang dari Hongkong. Oleh-oleh lainnya adalah buku motivasi berjudul “Anda Luar Biasa!!!”  yang diterbitkan Fivestar Publishing tak lama setelah ia menghirup napas di tanah kelahirannya pada 2007. Buku itu dinobatkan sebagai buku motivasi pertama yang ditulis oleh seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia di Hongkong. “Sebagian dari royalti buku itulah saya pakai bikin Rumah Cerdas,” kata istri Hisam ini.

Bungsu dari tiga bersaudara ini lahir dari orang tua penjual kerupuk.  Kemiskinan yang membelit, membuat Eni sering menunggak uang sekolah. Meskipun akhirnya ia mampu menyelesaikan hingga ke bangku SMA.  Selepas sekolah, Eni bekerja sebagai petugas administrasi di sebuah  usaha dagang ikan di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi. Enam tahun bekerja, perusahaannya gulung tikar.

Eni akhirnya nekad menjadi TKW setelah melihat iklan di koran. Perempuan kelahiran 27 Agustus 1977 itu, terpaksa bekerja sebagai pembantu rumah tangga di negara lain karena orang tuanya terbelit hutang. “Orang tua saya itu suka hutang untuk beli isi rumah dan dagang,” kata ibu dari Natasya Ensa Motivani, 7 tahun ini.

Tanpa bekal pengetahuan dan bahasa, Eni mendaftar TKW secara ilegal. Namun dia hanya tertarik bekerja di Hongkong karena dianggapnya lebih aman ketimbang Malasyia atau Saudi Arabia. Selama tiga bulan dia berada di penampungan di Riau, Eni kenyang dengan buruknya fasilitas PJTKI. Mulai makan nasi basi dan tidur dengan alas seadanya.

Eni baru lepas dari penampungan begitu ada majikan yang memilihnya. Eni tinggal bersama keluarga Chan Kwok Hung  dan bertugas sebagai baby sister hingga mengurus rumah tangga. Tiga tahun pertama, Eni bekerja tanpa libur. Dia baru mendapatkan libur setelah balita yang dirawatnya berusia 3 tahun.

Perempuan berjilbab itu memanfaatkan hari libur untuk menekuni hobinya sejak anak-anak yakni membaca. Dia selalu nongkrong di perpustakaan kota setiap jatah libur yang hanya 2 kali dalam sebulan itu tiba. Karena seluruh buku perpustakaan tersebut berbahasa Inggris, Eni pun terpaksa melahap buku cerita bergambar untuk anak-anak. “Sambil belajar bahasa Inggris,” katanya terbahak. Gajinya yang Rp 3 juta saat itu, dia sisihkan untuk membeli buku-buku berbahasa Indonesia di salah satu toko buku. “Saya suka baca buku motivasi dan La Tahzan.”

Eni mulai suka menulis ketika pada 2005 bergabung ke Cafe de Kossta, milis untuk para TKI Hongkong yang hobi menulis. Di milis itu, Eni rutin memposting cerpen dan puisi dengan nama pena Eni Kusuma. Tapi dia tak pernah berkecil hati karena karyanya selalu sepi dari tanggapan. Suatu hari, dia mengikuti workshop kepenulisan di Hongkong yang menghadirkan Bonari Nabonenar, seorang sastarawan Jawa modern, sebagai pembicara. 

Dari Bonari, Eni mendapatkan hadiah dua buku yang masih disimpannya hingga sekarang, yakni buku tentang jurnalistik dan buku Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller karya Edy Zaques. “Buku Edy Zaques membuat saya makin semangat menulis,” kata peraih penghargaan She Can Award pada 2009 dari Tupperware ini.

Dari perkenalannya dengan penulis lain di Hongkong, Eni akhirnya bergabung ke situs pembelajar.com yang diasuh trainer motivasi, Andrias Harefa. Dari situs ini, Eni banyak melahap tulisan motivasi dan akhirnya tergerak menulis tentang motivasi hidup dari kacamata seorang pembantu rumah tangga. Postingan Eni akhirnya mendapat banyak apresiasi dari penulis-penulis Indonesia seperti Lan Fang (almarhum) dan Edy Zaques.

Pada 2006, puisinya berjudul Ajari Aku Kaya Om terpilih bersama karya 100 penyair lain dalam buku Jogya 5,9 Skala Richter. Selanjutnya, cerpen dan puisi-puisi Eni sering termuat di Majalah Peduli asuhan Bonari Nabonenar yang terbit di Hongkong. Suatu hari, Eni mendapatkan email dari Edy Zaques, penulis bestseller Indonesia yang telah melahirkan sedikitnya 25 buku. “Dia meminta saya lebih banyak menulis untuk diterbitkan buku,” kata anak ketiga dari pasangan Muhammad Yasin dan Asfiah ini.

Eni menulis sekitar 40 artikel motivasi.  Sebanyak 26 tulisan diterbitkan sebagai buku pertamanya yang tercetak 3 ribu eksemplar. Di penghujung 2007, Eni memilih pulang ke Indonesia. Dia lalu menikah dengan tetangganya, Hisyam. Eni semakin mantap ‘berevolusi’ dari seorang pembantu rumah tangga menjadi penulis dan motivator. Cerpen dan tulisan motivasinya juga sering dimuat di Intisasi. Eni juga telah mengisi banyak acara yang pesertanya dari berbagai kalangan, mulai mahasiswa, guru, santri, pengusaha, hingga dosen.

Dari sekian banyak pengalamannya berbicara di depan umum, Eni paling grogi saat diundang oleh Universitas Gajah Mada. Saat itu, pesertanya adalah dosen yang gelarnya melampaui pendidikannya yang hanya SMA. “Tapi saya berusaha pede, karena saya sudah punya buku,” katanya mengenang.

Menjadi motivator memang tak disangka oleh Eni. Sebab ketika kecil, dia termasuk anak yang gagap berbicara. Gagapnya sedikit demi sedikit hilang ketika Eni menginjak bangku SMP.

Buku kedua Eni “Mitra Kerja Tanpa Pamrih” yang ditulisnya bersama Melly Kiong, penulis buku-buku parenting, terbit pada 2014 lalu. Eni pun saat ini sedang menyusun buku ketiganya tentang hubungan ibu dan anak, pendidikan anak serta motivasi hidup.

Motivasi yang banyak ditekankan Eni yakni apapun profesi yang dijalankan harus tetap bermanfaat bagi orang lain. Tak terkecuali seorang pembantu rumah tangga atau babu seperti dirinya.  Selain harus memberikan pelayanan terbaik bagi majikan, seorang babu bisa bermanfaat bagi orang lain dengan menulis. “Bermanfaat bisa lewat pintu mana saja, termasuk tulisan,” Eni menuturkan.

Bagi Eni yang hanya lulusan SMA, menulis adalah perkara gampang-gampang susah. Selama ini dia tak pernah tahu bagaimana teori menulis yang baik. Menurutnya, syarat mudah menulis adalah dengan sering berlatih menulis dan banyak membaca. “Begitu ada ide, langsung saya tulis, pokoknya logis,” katanya.

Eni memang tak pernah minder sebagai seorang babu. Bahkan dia justru bangga. Dalam tulisannya berjudul Revolusi Babu di buku Anda Luar Biasa!!!, Eni menulis, bahwa para babu sebagai abdi dalem yang mengabdi dengan kesabaran seharusnya dicontoh oleh para pemimpin bangsa ini. Seandainya, kata dia, pemimpin, cendekiawan, dan ulama mempunya etos kerja mengabdi maka Indonesia pasti bisa makmur.


***