Páginas

Sunday, January 25, 2015

Sepotong Surga di Bumi Para Dewa



Sang Surya beranjak pelan dari peraduannya. Semburat jingganya memancar, menyingkap gelap. Tiga puluh menit, gulungan awan yang bergelantungan di kaki langit, menelan kembali bulatan jingga itu. Sang surya menyingkap dua gunung kembar di sebelah timur: Sindoro dan Sumbing yang menjulang lebih dari 3000 meter. Sementara di bagian barat, Gunung Prahu dengan bukit teletubiesnya bagai permadani hijau. Ceracau berbagai burung menyemarakkan pagi yang berkabut.


Saya menyaksikan pergantian hari yang sempurna itu di puncak Gunung Sikunir, bagian dari Dataran Tinggi Dieng. Saya memilih Sikunir sebagai awal menjelajahi Dataran Tinggi Dieng, di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Sikunir adalah salah satu tempat berburu Golden Sunrise, seperti yang baru saja saya nikmati.  Ketika pagi sudah bergayut, gugusan gunung-gunung dengan Prahu sebagai puncak tertingginya nampak mengepung rumah-rumah penduduk yang berjejalan.


Dieng sesungguhnya adalah jajaran gunung api raksasa. Terbentuk bertahap dari amblesan Gunung Prahu sejak jutaan tahun lalu, yang memunculkan gunung-gunung kecil lainnya seperti Sikunir beserta puluhan kawah. Aktivitas vulkanik ini memberi berkah bagi bumi Dieng, menyuguhkan keindahan sekaligus kesuburan pada tanahnya.



Saya menuruni Sikunir ketika suhu sudah mulai hangat. Sampai di kaki bukit, mata saya dimanjakan Telaga Cebong seluas 11 hektare. Dari kejauhan, telaga ini berwarna biru berkilauan karena diterpa sinar Sang Surya, dikelilingi hijau bebukitan. Inilah telaga di atas awan, karena berada di Desa Sembungan (2.300 mdpl), yang dinobatkan sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa. Semakin dekat, warna birunya memudar berganti kecoklatan.

Penduduk Desa Sembungan telah bergeliat, menyibukkan diri di sekitar telaga.  Sebagian hidup mereka  meraup berkah dari kunjungan wisatawan yang padat seperti libur panjang pertengahan April lalu. Mereka membuka warung, menjadi juru parkir, tukang ojek dan pemandu wisata sekaligus. Sebagian warga lainnya bergelut dengan ladangnya. Mereka melubangi tanah dan meletakkan kentang di dalamnya. Tujuh puluh lima persen lahan di lereng-lereng gunung ditanami kentang. Ini menjadikan Dieng sebagai penghasil kentang terbesar di Indonesia. “Pekan lalu panen 1 ton,” kata Rahayu, seorang petani yang sedang bertanam kentang di lahan setengah hektare.

Selain kentang, petani menanami pinggir lahan dengan tanaman carica alias pepaya  gunung. Sembungan merupakan desa penghasil carica terbanyak. Belasan buah carica berwarna hijau nampak bergerombol, dan siap dipanen pada Juni-Juli mendatang. Menurut petani, satu pohon bisa menghasilkan paling sedikit 10 kg carica. Buah ini mereka jadikan manisan dan sirup, yang bisa dibawa pengunjung sebagai oleh-oleh.

Puas mengamati aktivitas penduduk di Desa Sembungan, saya melaju bersama tukang ojek yang saya sewa dari penduduk setempat. Tarif mereka cukup murah, hanya Rp 150 ribu per orang, mereka siap mengantar kita ke 6-7 obyek wisata di Dieng. Mereka bisa kita temui di pangkalan ojek di pertigaan Dieng dan sejumlah homestay. Pakai ojek, selain memberi pemasukan untuk penduduk lokal juga lebih lincah di medan Dieng yang berkelok-kelok. Wawan, nama tukang ojek saya, bercerita, bila musim wisatawan sepi dia akan kembali bertani. Namun bila sedang ramai, ladang kentangnya akan dikerjakan istri. “Lumayanlah buat tambah-tambah dapur,” kata pria 35 tahun itu.


Saya tiba di Dieng Plateau Theater yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Desa Sembungan. Jalan setapak di belakang Dieng Plateau Theater ini adalah akses menuju batu pandang. Jalanan setengah menanjak, dan mengantar saya ke sebuah batu setinggi  5 meter. Saya berdiri di atasnya, dan terpukau dengan pemandangan dua telaga kembar yang terhampar: Telaga Warna dan Telaga Pengilon.  Telaga warna memantulkan warna hijau tua, kuning dan hitam sekaligus. Sementara Telaga Pengilon yang berwarna kehijauan layaknya cermin, memantulkan bayangan pohon-pohon pinus yang tegak di tepinya.  Dua telaga bekas kawah gunung api purba itu menampilkan jejeran gunung di atasnya yang sedang berselimut kabut.


Keelokan pemandangan dua telaga itu memang membuat saya malas beranjak. Hampir tak percaya bahwa keindahan alam ini memang milik Indonesia. Sambil bermandikan matahari pagi, saya bertahan di batu pandang itu sampai satu jam. Saya baru turun setelah pengunjung lainnya berdatangan dan ingin mengabadikan keindahan yang sama di tempat saya berdiri.

Turun dari batu pandang saya rehat sejenak dengan memasuki Dieng Plateau Theater dengan tiket Rp 4 ribu per orang. Theater ini didesain seperti bioskop mini yang bisa menampung sekitar 50 orang. Sebuah layar di depan saya memutar film dokumenter selama 30 menit, yang menceritakan riwayat terbentuknya Dataran Tinggi Dieng. Film documenter yang menarik, karena memberikan pemahaman tentang aktivitas vulkanologi di sekitar Dieng yang terus berlangsung hingga kini. Artinya dibalik keindahan yang saya nikmati, Dieng tetap menyimpan bencana yang suatu saat bisa mengancam manusia yang tinggal di dekatnya.

Ancaman bencana di Dieng bukan letusan magmatik seperti Gunung Merapi, melainkan letusan freatik yang mengeluarkan lumpur, uap air dan gas dari kawahnya. Dieng memiliki 8 kawah dengan 3 di antaranya berpotensi mengeluarkan gas beracun. Letusan gas beracun pernah terjadi di Kawah Sinila tahun 1979 silam sehingga mematikan 149 penduduk Dieng. Terakhir pada Mei 2011, status Gunung Dieng meningkat dari waspada ke siaga yang ditandai dengan keluarnya C02 beracun dari Kawah Timbang.

Tapi tidak seluruh kawah berbahaya.  Saya lantas mengunjungi Kawah Sikidang, salah satu kawah yang aman dikunjungi manusia. Letaknya sekitar 2 kilometer dari Dieng Plateau Theater. Bau belerang langsung menyengat begitu sampai di kawah aktif ini, dengan warna tanah kekuningan. Saya berjalan dengan hati-hati, karena banyak letupan sumber air panas bermunculan di tanah. Menurut Ahmad, tukang ojek saya, letupan air panas itu lokasinya berpindah-pindah seperti kijang atau dalam bahasa Jawanya Kidang. Karena itulah kawah ini dijuluki Sikidang.


Setelah berjalan kaki 500 meter, saya sampai di sebuah kawah yang lumpurnya mendidih dengan suhu hampir 100 derajat celcius. Lumpur mendidih ini memunculkan uap panas yang membubung tinggi. Sebuah pagar bambu mengelilingi tepi kawah agar pengunjung tidak mendekat. Penduduk setempat memanfaatkan kawah panas ini dengan berjualan telur yang direbus langsung dari kawah.

Di dekat Kawah Sikidang ini, saya melihat asap tebal membubung dari aktivitas geothermal PT Geo Dipa Energi. Potensi panas bumi yang terkandung di Dieng dimanfaatkan sebagai sumber energi. PT Geo memproduksi listri berkapasitas 1 x 60 Mwe yang dijual ke PLN. Kemajuan teknologi mampu mengubah karakteristik alam Dieng menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi kehidupan.

Matahari sudah tinggi. Saya menumpang ojek kembali meninggalkan Sikidang yang panasnya serasa membakar kulit. Jalanan berkelok-kelok menghadirkan keindahan Dieng di tiap sudutnya. Benarlah, bahwa Dieng memang sepotong surga hadiah para Dewata. IKA NINGTYAS