Páginas

Tuesday, January 27, 2015

Sudut Lain Jakarta di Pengujung Orde Baru



Pergantian rezim selalu meninggalkan luka dan darah. Pergantian Orde Lama ke Orde Baru pada 1965, meninggalkan kisah pembantaian orang-orang yang dituduh PKI. Demikian pula yang terjadi saat pergantian Orde Baru ke Reformasi tahun 1998. Empat mahasiswa Trisakti tewas terkena pelor saat mereka berunjuk rasa menuntut Soeharto turun. Serta, rumah-rumah milik warga Cina yang dibakar dan perempuan-perempuanya diperkosa.


Lukman Sardi menghadirkan kembali ingatan tentang pergolakan di penghujung masa Orde Baru itu melalui film “Di Balik 98”. Ini film layar lebar pertama yang disutradarai aktor 43 tahun itu. Sebagai aktor, kemampuan akting Lukman tak perlu diragukan lagi. Lukman membintangi lebih dari 15 judul film, dengan peran yang beragam dan menantang.

Lukman tampil memukau sebagai Soe Hok gie, dalam film Gie (2005) besutan Riri Riza. Di film Berbagi Suami, Lukman berperan menjadi suami yang berpoligami. Dia tampil mengesankan sebagai pemuda yang mengejar mimpi kuliah di Perancis dalam film Sang Pemimpi. Penghargaan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik Indonesian Movie Award 2013 hanyalah salah satu dari sederet penghargaan yang berhasil disabetnya. Lalu bagaimana ketika Lukman Sardi bermetamorfosa menjadi sutradara?

Di Balik 98 berkisah tentang kehidupan Diana (Chelsea Islan) yang serba kompleks. Sebagai mahasiswa Trasakti dia dan kekasihnya Daniel (Boy William) terlibat aktif dalam unjuk rasa menurunkan Soeharto. Di sisi lain, kakak Diana, Salma (Ririn Ekawati) adalah pegawai dapur Istana yang bersuamikan Bagus (Donny Alamasyah), seorang tentara berpangkat letnan dua. Bagian cerita yang lain tentang seorang pemulung dan anaknya, yang menggambarkan kehidupan warga miskin di tengah-tengah krisis ekonomi dan politik yang terjadi.

Diana, yang meyakini idealismenya, memberontak kepada kakaknya yang meminta dia berhenti berunjuk rasa. Dia akhirnya memutuskan pergi dari rumah dan melanjutkan mengikuti unjuk rasa. Sehari setelah peristiwa penambakan mahasiswa Trisakti terjadi, Salma yang sedang hamil tua memutuskan mencari Diana. Dia akhirnya terperangkap di pemukiman warga Cina ketika peristiwa pembakaran pemerkosaan perempuan Cina terjadi. Keluarga Daniel yang Cina juga menjadi korban dari kerusuhan itu. Rumahnya dibakar. Beruntung ayah dan adiknya berhasil mengungsi. Diana akhirnya berpisah dengan Daniel yang memilih menyingkir ke Singapura.

Konflik keluarga Diana tersebut berakhir seiring ketika Soeharto (Amoroso Katamsi) meletakkan jabatannya pada 21 Mei. Mereka berkumpul di rumah sakit menemui Salma yang melahirkan. Lima belas tahun kemudian, Daniel kembali ke Jakarta untuk membawa abu ayahnya, lalu menaburkannya ke rumah yang pernah dibakar massa. Daniel dan Diana kembali bertemu bercerita tentang kehidupannya masing-masing.

Secara teknis, Lukman Sardi cukup berhasil menghadirkan suasana Jakarta 15 tahun silam. Dia membuka filmnya dengan antrian panjang warga membeli sembako yang harganya melangit. Kemudian, unjuk rasa mahasiswa di kampus Trisakti –almamater Lukman Sardi, terasa hidup. Tank-tank militer beserta tentara yang menghiasi jalanan Ibu Kota. Lukman juga piawai mendandani beberapa orang agar mirip dengan BJ Habibie, Gus Dur, Wiranto, Prabowo Subianto dan lain-lain.

Sebagai aktris pendatang baru, kemampuan akting Chelsea Islan tak mengecewakan. Chelsea tampil berbeda dengan film sebelumnya Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar. Kali ini dia berperan sebagai mahasiswi idealis, keras kepala, tetapi labil.

Namun jangan berharap ada kejutan karena isi film ini tak segarang judulnya. Lukman Sardi tidak memberikan sesuatu yang baru tentang peristiwa di akhir masa Orde Baru itu. Alih-alih membongkar kisah di balik penembakan mahasiswa Trisakti atau tentang pemerkosaan perempuan-perempuan Tionghoa. Seluruh rangkaian kejadian kelam di masa 1998 itu, sesungguhnya telah diketahui khalayak. Bahkan bisa dibaca di buku maupun tayangan berita televisi.  

Bahkan beberapa scene justru kontradiktif. Seperti saat Bagus meminta izin cuti ke komandannya untuk menemani Salma. Scene yang lain saat perdebatan antara Diana dan Bagus dalam sebuah unjuk rasa. Diana memaki Bagus sebagai seorang tentara yang hanya memikirkan karir karena tega meninggalkan Salma yang akan melahirkan. Kemudian Bagus menjawab: “Kamu pikir enak jadi tentara? Saya juga ingin ada di rumah”

Percakapan ini menjadi bias karena bercerita tentang kehidupan tentara secara personal. Tentu saja berlawanan dengan semangat Reformasi yang dituntut pengunjuk rasa serta rentetan tembakan tentara yang akhirnya membunuh empat mahasiswa Trisakti.

Lukman bersama penulis Samsul Hadi dan Ifan Ismail barangkali ingin berada di posisi aman dengan membuat film yang tak beresiko.