Páginas

Sunday, February 8, 2015

Tulisan Berkualitas Butuh Riset

Jangan berpikir bahwa riset hanya milik mereka yang mau nulis skripsi, tesis atau disertasi. Riset diperlukan untuk semua jenis tulisan. Sastra maupun karya ilmiah. Mengapa? Karena, riset akan memperkaya isi tulisan Anda. Menjadikan isi tulisan lebih berbobot.

Riset bisa dilakukan dengan beberapa cara. Mulai membaca buku atau artikel, berdiskusi dengan orang lain, menonton televisi atau film hingga mengunjungi tempat yang berkaitan dengan tulisan. Catat seluruh materi yang Anda perlukan dalam buku khusus.
Sederhananya begini. Anda ingin menulis cerpen yang berlatar Candi Borobudur. Tapi Anda sendiri tidak tahu persis bagaimana candi tersebut. Saya yakin tulisan Anda tidak akan menggambarkan Borobudur yang sebenarnya. Borobudur yang seharusnya candi Budha, ternyata Anda tulis candi Hindu. Wah, Anda malah membodohi pembaca, bukan?
Salah satu novel Ayu Utami yang saya sukai berjudul “Manjali dan Cakrabirawa”. Novel ini bercerita tentang beberapa candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ayu Utami menutup cerita ini dengan kisah  berlatar Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan.
Narasi Ayu tentang Candi Belahan cukup membekas di ingatan saya. Hingga akhirnya saya memulai lawatan mengunjungi candi demi candi. Termasuk besarnya hasrat untuk mengunjungi Belahan. Suatu saat kesempatan itu datang juga. Bayangan yang mengendap tentang Candi Belahan yang digambarkan Ayu akhirnya saya saksikan sendiri. Begitulah salah satu kekuatan riset, akan mengajak pembaca seolah-olah berada di tempat itu, meski belum pernah mengunjunginya. Tanpa riset, saya yakin novel Ayu Utami akan kering-kerontang.
Baiklah, saya lanjutkan contoh yang lebih sederhana dengan dua tulisan di bawah ini:
- Merokok itu membahayakan bagi kesehatan. Asapnya bisa merusak paru-paru. Oleh karena itu saya sarankan Anda untuk berhenti merokok sekarang juga!
- Anda perokok? Jika iya bersiap-siaplah menerima kabar buruk ini. Menurut Komnas Pengendalian Tembakau, ada 200 ribu jiwa orang Indonesia meninggal karena penyakit yang terkait rokok (Tempo, 26 Februari 2014). Jumlah kematian ini lebih besar dibandingkan korban bencana tsunami. Nah, Anda mau menambah angka kematian karena rokok?
Dari dua contoh di atas, tulisan mana yang lebih berbobot? Saya yakin, Anda pasti menjawab tulisan kedua. Nah, tulisan kedua adalah contoh sederhana menggunakan riset untuk memperkuat argumentasi tentang bahaya merokok. Sebab, sebaik-baiknya tulisan adalah tulisan yang bisa mempengaruhi pembacanya.
Terakhir, riset menjadi solusi agar tulisan Anda tak berhenti di tengah jalan. Dengan dukungan materi hasil riset, Anda memiliki banyak amunisi untuk mengembangkan kalimat per kalimat. Paragraf demi paragraf. Tapi tentunya sangat bergantung dengan kemauan keras Anda untuk menyelesaikan sebuah tulisan.
Selamat menulis!
by: Ika Ningtyas