Páginas

Sunday, April 5, 2015

Ketika Genjer-genjer Mengalun di Jerman



Kepedulian terkadang datang dari orang yang tak disangka-sangka. Dari orang yang tak dikenal. Bahkan, yang terpaut jarak ribuan kilometer. Kenyataan seperti ini seperti menampar saya, yang sesungguhnya berjarak lebih dekat, tapi tak berusaha sungguh-sungguh untuk peduli.

Kesadaran ini datang di sebuah sore, pertengahan Maret 2015. Saya menyaksikan pasangan suami-istri di hadapan saya menyimak dengan takjub video youtube yang saya putar dari ponsel. Saya memutar lagu ‘genjer-genjer’ yang dimainkan Tomi Simatupang, musisi asal Yogyakarta yang kini tinggal di Jerman. Tomi memainkan lagu bersejarah itu dengan berbagai aransemen. “Ooo ini jazz,” Sinar Syamsi berseru kepada saya.


Istrinya, Tatik, tak mau ketinggalan berkomentar. “Mas Tomi masih muda sekali ya. Mungkin usianya sama dengan anak pertama kita.”

Dua pasang manusia itu sumringah. Mata mereka terus melihat ke arah ponsel, mendengarkan seksama setiap aransemen yang dimainkan. Saya menikmati kebahagiaan yang terpancar dari mata mereka. Paling tidak, baru kali ini saya menyaksikan mereka tertawa. “Jadi benar ya, lagu ini tampil di Jerman,” tanya Tatik. Saya mengangguk mantap.

**
Sinar Syamsi adalah anak tunggal Muhammad Arief, pencipta lagu legendaris, Genjer-genjer. Entah sudah berapa kali saya mengunjungi rumah lelaki berusia 64 tahun ini. Seperti biasa, kami duduk lesehan dengan selembar karpet hijau kumal. Tidak ada kursi tamu. Barang mewah di rumah itu, hanya dua meja dan kursi kayu. Satu meja di sudut utara, dulunya yang sering dipakai Pak Arief mengarang lagu. Cuma meja dan kursi itu, plus tiga buku lagu yang selamat setelah massa mengepung rumah Muhammad Arief pada 1965.

Saya menyodorkan sebuah map plastik merah yang baru saja saya beli di toko buku. Saya meminta Pak Syamsi mengambil tiga buku penting peninggalan ayahnya. Dia menurut, lalu menyerahkan bungkusan plastik putih kepada saya.

Saya menarik nafas. Ini bukan pertama kali saya memegang bundelan plastik ini. Tapi sudah sejak 2007. Ya, puluhan tahun sejak M. Arief ditangkap, naskah penting ini cuma dibungkus dengan koran dan kresek. Kalau kresek itu dibuka, bau debu dan pengap kertas melebur jadi satu.

Ketiga buku itu saya pindahkan ke map merah. “Sudah ya Pak, kertas dan koran ini dibuang saja,” kata saya sambil menyingkirkan kedua benda itu. Saya menarik napas lagi sambil menatap balutan map merah . Ah, sejak lama saya tahu ketiga buku ini dirawat ala kadarnya, tapi baru 2015 saya membelikannya map. Seandainya, delapan tahun lalu saya sudah melakukannya barangkali naskah bersejarah tersebut tidak menjadi seburuk ini.  

Harga map ini cuma Rp 30 ribu. Saya baru tergerak setelah mendapatkan pesan di Facebook dari akun bernama Adieu Berulina, sekitar sebulan sebelumnya.  Dia memperkenalkan diri bernama Tomi Simatupang. Dia menghubungi saya setelah membaca beberapa artikel tentang Genjer-genjer dari blog saya. Dia meminta bantuan agar saya membagi nomor hp Sinar Syamsi. Dia ingin meminta izin ke Sinar Syamsi akan membawakan lagu Genjer-genjer pada pertunjukan musik di Jerman dan Polandia. Pertunjukan musik tersebut, sekaligus memperkenalkan kekejaman Orde Baru dan pentingnya Reformasi Indonesia pada masyarakat Eropa.


Saya membalas dan memberikan nomor hp Sinar Syamsi, tanpa bertanya lebih jauh tentangnya. Toh selama ini saya menerima banyak pertanyaan dan permintaan ini-itu dari pembaca blog. Sampai akhirnya Tomi mengunggah sebuah poster di Facebook dan mencolek nama saya. Poster itu berisi informasi tentang “Tomi Simatupang Perform: Genjermania” di sebuah cafe di Berlin, Jerman pada 6 Maret 2015. Melalui pertunjukan tersebut, Tomi berniat menggalang dana untuk keluarga Muhammad Arief yang menjadi salah satu korban genosida 1965.

Semula, ketika Tomi menghubungi, saya masih mengsangsikan rencananya itu. Alasannya sederhana, karena ini bukan pertama kali lagu ‘genjer-genjer’ dinyanyikan dan diaransemen oleh musisi di luar negeri. Di tahun 2011, Dengue Fever, sebuah band musik asal Los Angles, meluncurkan lagu Genjer-genjer dalam bahasa Khmer, Kamboja. Di satu sisi, saya ikut berbangga karena lagu yang pernah diharamkan selama Orde Baru tersebut justru disukai di luar negeri. Ini menandakan, lagu ini tak pernah mati, meskipun penciptanya dihilangkan paksa. Tapi di sisi lain, para musisi itu tak peduli dengan nasib keluarga Muhammad Arief, padahal (barangkali) mereka telah menangguk keuntungan materi dari lagu ‘Genjer-genjer’ tersebut.

Maka ketika Tomi berencana menggalang dana dan berniat menghubungi Sinar Syamsi, di situlah saya menganggap kali ini ada musisi yang serius peduli. Saya mulai mencari tahu tentang sosok Tomi Simatupang melalui google karena pengetahuan bermusik saya memang dangkal. Ups, dari sejumlah laman, saya baru ‘ngeh’ ternyata Tomi adalah anak Landung Simatupang, aktor dan sutradara teater Indonesia. Tomi Lahir di Yogyakarta pada 1981, tapi sejak usia 10 tahun ia tinggal di Belanda dan kini menetap di Berlin, Jerman. Riwayat bermusiknya cukup panjang baik sebagai komposer dan vokalis. Sedikitnya Tomi telah merilis empat album: Blame It On monyet Anda (2005), Suara Depan Tema (2007), Purgatory Pada Ranting "(2010) dan Agape (2012).

Dalam sebuah percakapan melalui FB, dia bercerita kalau sudah membawakan lagu Genjer-genjer sejak 5 tahun lalu. Lewat youtube, saya juga baru mengetahui kalau Tomi telah banyak mengaransemen lagu ‘Genjer-genjer’ menjadi berbagai warna musik. Akan tetapi, selama ini dia belum menemukan jalan bagaimana cara menghubungi keluarga Muhammad Arief di Banyuwangi. Sampai akhirnya dia menemukan blog saya.  

Tomi menjuluki dirinya dan para penggemar lagu ‘Genjer-genjer’ dengan sebutan "genjermania". Untuk mengekspresikan kecintaannya pada lagu yang diciptakan tahun 1940an itu, Tomi memberi nama emailnya: “genjerman” kependekan dari “Genjer-Jerman”. “Habis ngefans berat,” kata Tomi. Saya terbahak.

Berikutnya, Tomi mengabarkan lagi bahwa pertunjukan musiknya sukses dengan jumlah penonton 50 orang. Yang membahagiakan lagi, jumlah dana yang terkumpul Rp 3,5 juta. Tomi kembali meminta bantuan agar saya menanyakan nomor rekening Sinar Syamsi untuk penyaluran donasi tersebut. Dari percakapan inilah saya langsung punya ide membelikan map merah, yang tidak seberapa harganya itu.

Yah, kedatangan saya ke rumah Sinar Syamsi, Jumat sore itu, dalam rangka menyambungkan kabar dari Tomi Simatupang. Saya menyetel video-video pertunjukan Tomi agar Sinar Syamsi dan keluarganya percaya bahwa Tomi Simatupang bukan sosok imajiner. Tatik, istri Sinar Syamsi, mengatakan, awalnya dia tak percaya ketika suaminya itu bercerita tentang rencana Tomi membawakan lagu genjer-genjer di Jerman. Tatik sudah memaklumi, akibat trauma berkepanjangan pasca-peristiwa 1965, Sinar Syamsi terkadang suka mengkhayal sesuatu yang berlebihan.  “Maklum, hidup suami saya cukup susah karena sejak kecil diolok-olok sebagai anak PKI,” kata Tatik, perempuan asal Magelang.

Usai menonton beberapa video, Tatik lalu menelepon salah satu anaknya yang tinggal di Tangerang. “Ternyata benar, lagu kakekmu Genjer-genjer dinyanyikan di Jerman.” Saya terharu mendengar percakapan ibu dan anak itu. Setelah menelepon sekitar 15 menit, Tatik memberikan alasannya mengapa dia harus menceritakan kabar itu kepada anaknya. “Saya ingin anak-anak saya bangga pada kakeknya.”

Tatik bercerita lebih banyak lagi tentang duka yang harus mereka tanggung sebagai keluarga keturunan PKI. Mulai susah cari pekerjaan, terkucil dari tetangga sekitar, aset-aset tanah yang berpindah tangan ke orang lain, dan berbagai ketidakadilan yang lain. Dan, Tatik tampil sebagai seorang perempuan yang tegar dan tetap setia menemani Syamsi hingga usia senjanya. Sejak mereka berkeluarga, Tatik yang lebih banyak mencari nafkah dengan menjual kue-kue ke pasar. “Suami saya itu punya bakat bermusik seperti ayahnya. Saya tahu potensinya besar. Tapi tidak bisa tersalurkan karena cap sebagai anak PKI selalu melekat.”

Saya  cukup menjadi pendengar yang baik di sore itu. Menyaksikan pasangan suami-istri yang mengenang masa-masa sulitnya. Barangkali telah bertahun-tahun, hanya segelintir orang yang mau peduli pada mereka. Sehingga ketika ada orang yang peduli, maka menjadi sumber kebahagian yang selalu mereka ingat.

Saya pamit dari rumah itu, saat hari telah gelap.

**

Dua hari kemudian, telepon saya berdering. Nama Sinar Syamsi berkedip-kedip di layar. Suara sumringah itu kembali terdengar.

“Ika, makasih ya, saya sudah menerima uangnya dari mas Tomi. Uangnya langsung saya belikan beras, minyak, pokoknya untuk kebutuhan makan sehari-hari. Makasih ya, ayo kapan main ke rumah lagi?”

Sungguh, saya terharu sekaligus ikut berbahagia.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih atas kepedulianmu, mas Tomi.


Banyuwangi, 5 April 2015