Páginas

Monday, June 15, 2015

Terlantar di Ujung Pos

Perdagangan antarpulau di Pelabuhan Panarukan lama, Situbondo, Jatim

Petang sebentar lagi datang. Tetapi, kesibukan di Pelabuhan Panarukan lama, tak lantas berkurang. Hendrik, 30 tahun, misalnya, masih berkutat membongkar bak pikup yang berisi penuh dengan sembako. Dengan tenaga dua buruh angkut, sembako tersebut dipindahkan ke perahu layar motor “Berkah Sakti” yang sandar di ujung dermaga. “Ini pesanan enam orang dari Madura,” kata Hendrik, Senin sore 11 Mei 2015.


Sama seperti Hendrik, puluhan buruh angkut lainnya tak ada yang menganggur di hari itu. Ada yang menggotong semen, kayu, elpiji tiga kilogram, hingga almari. Tapi yang terbanyak adalah sembako, seperti beras, gula, dan minyak goreng.  Sore itu, ada enam perahu layar motor berkapasitas 3 ton dari Kangean, Sapeken dan Masalembu, Madura, berjajar di dermaga.

Para pedagang menyewa perahu-perahu tersebut, berlayar dua hari dua malam ke Panarukan, Situbondo, Jawa Timur. Di pasar setempat, mereka menjual garam dan ikan. Setelah dagangan laku, mereka membeli aneka kebutuhan hidup  dari toko-toko sekitar pelabuhan. Barang-barang itu akan dijual kembali sesampai mereka ke kampung asal. “Di Madura, harga barang-barang ini bisa 30 persen lebih mahal,” kata Samsul, salah satu pedagang asal Pulau Sapeken.
Perdagangan antarpulau tersebut menjadi kesibukan yang tersisa dari Pelabuhan Panarukan lama. Disebut pelabuhan lama, karena di dermaga berukuran 5 x 10 meter itulah aktivitas perdagangan antarpulau berlangsung sejak kuno hingga menjelang 1980an. Aktivitas bongkar-muat masih berlangsung secara tradisional menggunakan tenaga manusia.

Moji, 70 tahun bercerita, jumlah perahu  yang sandar di Panarukan saat ini terbilang sedikit. Moji yang pada tahun 1960an jadi buruh angkut, masih ingat jumlah perahu dulunya bisa lebih dari 50 unit. Perdagangan antarpulau tak hanya datang dari Madura, tapi juga dari Kalimantan dan Sulawesi.

Selain itu, kata Moji, Panarukan menjadi singgahan kapal-kapal besar ke Eropa. Kapal-kapal ekspor itu membawa berbagai hasil bumi seperti gula dan jagung dari Situbondo, tembakau dari Jember, dan kopi dari Bondowoso. Berbagai komoditas itu diangkut dari daerah asalnya dengan kereta api, lalu disimpan terlebih dahulu di gudang-gudang yang berderet di tepi dermaga. “Sekarang Panarukan sepi sekali,” kata warga Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo ini.

Pelabuhan yang berada di Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, atau delapan kilometer arah barat kota Situbondo ini adalah bekas bandar kuno yang penting di timur Pulau Jawa. Sejarawan Universitas Jember, Edy Burhan Arifin, menjelaskan, nama Panarukan telah diperhitungkan sejak era Majapahit. Dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca, Panarukan yang dulunya bernama Petukangan, pada tahun 1359 masehi dipilih Raja Hayam Wuruk menjadi  tempat pertemuan dengan raja-raja dari timur mulai Madura, Blambangan dan Bali. “itu menunjukkan Panarukan memiliki arti penting secara ekonomi dan politik,” kata Edy kepada Tempo, Rabu 13 Mei 2015.

Berikutnya, kata Edy, dalam buku Suma Oriental karya Tome Pires, Portugis mendirikan bandar perdagangannya di sisi timur Sungai Sampean, yang bermuara langsung ke laut Panarukan, pada abad ke-16. Selain sebagai sentra ekonomi, Portugis menjadikan Panarukan sebagai pusat misionaris.

VOC juga menjadikan Panarukan sebagai pelabuhan utama di ujung timur Jawa pada abad ke-17. VOC membangun benteng sepanjang 540 meter di sisi barat Sungai Sampean hingga laut Panarukan. Menurut Edy, benteng tersebut berfungsi sebagai pertahanan sekaligus tempat penimbunan berbagai komoditas dari Bondowoso dan Jember.

Gubernur Jenderal Daendels yang memerintah pada 1808-1811 memilih Panarukan sebagai akhir mega-proyek Jalan Raya Pos seribu kilometer. Edy menjelaskan, Panarukan dipilih, karena Daendels meyakini bahwa Panarukan berpotensi secara ekonomi dan pertahanan. “Komoditas-komoditas dari daerah hinterland bisa dipasok melalui Panarukan,” kata penulis buku Quo Vadis Hari Jadi Situbondo ini.

Pelabuhan Panarukan lama seperti kondisi saat ini adalah peninggalan dari abad ke-19 saat pemerintahan Hindia-Belanda. Pendirian pelabuhan bersamaan dengan liberalisasi ekonomi yang membuka pintu bagi investasi swasta. Maka, tumbuhlah berbagai perkebunan-perkebunan yang menanam komoditas ekspor ke Eropa. Di Situbondo, menjadi sentra perkebunan tebu untuk memasok bahan baku ke 11 pabrik gula. Perkebunan kopi terpusat di Bondowoso sedangkan Jember terkenal dengan “emas hijau” alias tembakau.
Mercusuar peninggalan Panaroekan Maatchapij

Sebelum menggunakan Panarukan, berbagai komoditas tersebut dikirim ke Eropa melalui Pelabuhan Kalbut, Situbondo kota. Dari Jember, komoditas diangkut menggunakan cikar (tenaga sapi) yang ternyata membutuhkan waktu dua hari dua malam. Akibatnya tembakau-tembakau membusuk dan tak laku di pasaran.

Untuk memperpendek jarak, George Birnie, salah satu pemilik perkebunan tembakau ternama di Jember, akhirnya menginisiasi sebuah perusahaan pelayaran di Panarukan pada 1880. Selama enam tahun, pembangunan infrastruktur pelabuhan dikerjakan. Perusahaan bernama Panaroekan Maatchapiij Not Het Drivjen Van Commissi Handel en Prauwen tersebut akhirnya resmi beroperasi pada 1886.

Saat itu, Pelabuhan Panarukan tergolong modern pada zamannya. Pelabuhan dilengkapi dua dermaga untuk kapal ekspor dan perdagangan antarpulau. Dermaga untuk ekspor dibangun sepanjang 180 meter ke tengah laut, agar memudahkan kapal-kapal berukuran besar bersandar. “Dermaga memiliki crane untuk bongkar-muat barang,” kata sejarawan kelahiran Panarukan, 13 Desember 1957.

Selain dermaga, pelabuhan juga dilengkapi dengan galangan untuk docking kapal. Untuk menyimpan komoditas, Panaroekan Maatchapiij mendirikan sekitar 15 gudang yang diberi tanda huruf A hingga 0. Semasa kecil, Edy menyaksikan gudang-gudang yang berderet di tepi pelabuhan tersebut berukuran ribuan meter persegi.

Arus pengiriman barang ke Pelabuhan Panarukan semakin cepat setelah Pemerintah Hindia-Belanda mendirikan jaringan kereta api dari Jember ke Panarukan pada 1897. Dari stasiun Panarukan, ada jalur trem ke setiap gudang penyimpanan dan dermaga. Kapal-kapal bertonase besar selalu datang setiap pekan. Mereka mengangkut gula, tembakau, kopi, kakao dan karet dengan tujuan Jerman dan Belanda. “Saat itu Pelabuhan Panarukan benar-benar sibuk 24 jam,” katanya.

Selain aktivitas ekspor, di dermaga lainnya, aktivitas perdagangan antarpulau tak kalah sibuknya. Kapal-kapal dari Kalimantan, Sulawesi dan Madura antri bersandar. Mereka berdagang kebutuhan hidup sehari-hari sehingga munculah pasar tiap hari Senin dan Kamis untuk melayani pedagang-pedagang tersebut. Perdagangan ini memicu datangnya migran-migran dari Tiongkok, Arab dan Madura yang akhirnya bermukim di sekitar pelabuhan.
Setelah Indonesia merdeka, Panaroekan Maatchapiij akhirnya dinasionalisasi menjadi Veem Kertanegara. Kemudian pada 1970, Panarukan dikelola oleh PT Djakarta Lloyd. Saat dikelola perusahaan plat merah inilah, Panarukan mengalami kemorosotan.
Bekas gudang tembakau di Pelabuhan Panarukan

Edy menyebut ada beberapa faktor mundurnya peranan Pelabuhan Panarukan. Pertama, saat itu Djakarta Lloyd dipimpin tentara sehingga manajemennya amburadul. Banyak staf perusahaan yang melakukan korupsi dengan menggelapkan barang-barang di gudang. Bahkan beberapa staf harus dibawa ke meja hijau atas pencurian tersebut. “Akhirnya banyak pengusaha yang tidak percaya lagi,” kata Edy.

Faktor kedua, Pelabuhan Panarukan mengalami pendangkalan sehingga kapal-kapal besar tidak bisa lagi bersandar. Pendangkalan tersebut karena pelabuhan diapit oleh dua sungai besar yakni Sungai Sampean di sisi utara dan Sungai Klatakan di sisi selatan. Saat musim penghujan tiba, kedua sungai akan membawa material tanah menuju laut.

Menurut Edy, sebenarnya pendangkalan sudah terjadi sejak era Panaroekan Maatchapiij. Akan tetapi, perusahaan selalu menyiagakan 2-3 kapal untuk mengeruk. Kebiasaan mengeruk material tersebut tidak pernah lagi dilakukan di era Djakarta Lloyd.

Akhirnya Pelabuhan Panarukan benar-benar meredup menjelang 1980. Aktivitas ekspor kemudian dipindahkan ke Pelabuhan Meneng (sekarang, Pelabuhan Tanjung Wangi) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sedangkan perdagangan antarpulau tersebar ke pelabuhan lainnya di Situbondo seperti Pelabuhan Jangkar dan Pelabuhan Kalbut. Akhirnya dalam satu bulan, Pelabuhan Panarukan sekarang hanya didatangi sekitar 30 perahu dari kepulauan Madura.

Pasca-bubarnya Djakarta Lloyd Cabang Panarukan, otoritas pelabuhan saat itu membongkar hampir seluruh infrastruktur. Mulai pergudangan, perkantoran dan terakhir dermaga bersejarah untuk kapal-kapal ekspor. Bahkan jaringan tremnya juga menjadi sasaran pencurian.  “Mereka menjual rangka-rangka besi yang bernilai mahal,” kata Edy.

Hanya tersisa bekas gudang tembakau berukuran 250 meter x 150 meter. Kondisinya tak kalah mengenaskan, dengan atap bolong di sana-sini dan kulit temboknya mengelupas. Gudang tersebut kini disewakan ke salah satu pengusaha asal Bali yang mengolah barang daur ulang.
Satu lagi adalah sebuah mercusuar berwarna putih yang menjulang setinggi 50 meter. 

Mercusuar itu dibangun 1886, bersamaan dengan beroperasinya Panaroekan Maatchapiij.
Tak lama setelah aktivitas ekspor pelabuhan berhenti, layanan kereta barang juga ikut mandeg. PT Kereta Api Indonesia akhirnya hanya melayani kereta penumpang. Namun pada 2004, jalur kereta Jember-Panarukan resmi tutup setelah dianggap tak lagi menguntungkan karena sepi penumpang.

Praktis, tak nampak lagi jejak kejayaan masa silam Pelabuhan Panarukan. Sebaliknya, pelabuhan kumuh karena sampah dan tak tertata. Ribuan papan kayu bekas perahu, teronggok di setiap sudut. Lahan bekas pergudangan, telah dipadati rumah-rumah penduduk migran dari Madura. Sejak 1972, nama Kabupaten Panarukan diganti menjadi Kabupaten Situbondo. Panarukan mengecil menjadi sebatas nama kecamatan saja.

Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto, mengatakan, pemerintah pusat telah melakukan revitalisasi Pelabuhan Panarukan agar kembali menjadi pelabuhan internasional. Letak Pelabuhan Panarukan baru tersebut berada di sisi barat pelabuhan lama. “Targetnya 2020 bisa beroperasi,” kata Dadang, Selasa 12 Mei.
Pelabuhan Panarukan baru

Sejak 2008, pemerintah telah menggelontokan lebih dari Rp 12 miliar untuk membangun dermaga baru sepanjang 177 meter dan lebar 10 meter. Kawasan pelabuhan ditata dan dilengkapi berbagai infrastruktur seperti pergudangan, parkir dan perkantoran. Revitalisasi pelabuhan dibarengi dengan rencana dibukanya kembali jalur kereta Jember-Panarukan yang ditargetkan beroperasi 2018.

Dadang optimistis revitalisasi Pelabuhan Panarukan bisa mengembalikan kejayaannya seperti masa silam, meskipun harus bersaing dengan Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi dan Pelabuhan Tanjung Tembaga, Probolinggo. Sebab, letak Pelabuhan Panarukan lebih strategis, berada di tengah daerah-daerah di ujung timur Jawa dan di jalur utama pantai utara.

Akan tetapi, pihaknya berharap agar pemerintah pusat dan pemerintah propinsi Jatim bersinergi untuk mempercepat revitalisasi. Sebab pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak setelah kewenangan wilayah pelabuhan menjadi otoritas Kementerian Perhubungan. “Pihak-pihak terkait harus punya perhatian bersama-sama ke Panarukan,” kata dia.

IKA NINGTYAS