Páginas

Thursday, January 21, 2016

Kisah Pilu Bocah HIV/AIDS

Sumber gambar: penyakithivaids.com
Banyuwangi - Pintu dan daun jendela rumah itu lebih banyak tertutup. Udara keluar-masuk hanya dari ventilasi sempit di atas pintu. Lembab menyergap begitu memasuki rumah berdinding bata ini. Hampir di semua sudut tembok, sarang laba-laba menjuntai. Debu-debu menyesaki kursi dan lantai.

Sebuah televisi 21 inci menyala di kamar tengah, Rabu siang, 24 Juni 2015. Seorang bocah memelototi tabung berwarna tersebut sambil merebahkan tubuh kecilnya di kasur. Sebuah boneka kumal berada dalam pelukannya. Bagi Yani, bocah delapan tahun itu, televisi adalah dunianya setiap hari.

Putri, kakak kandung Yani, masih berkutat di dapur. Setelah menyiapkan sarapan untuk adiknya, gadis 13 tahun itu mencuci baju. Sejak kedua orang tua mereka meninggal, Putri berperan sebagai ayah sekaligus ibu bagi adik satu-satunya itu.

Hampir dua tahun Putri dan Yani (bukan nama sebenarnya) lebih banyak mengurung diri di rumah. Tepatnya, setelah Yani diketahui mengidap HIV/AIDS pada 2013. Mereka terkucil dari keluarga sendiri dan tetangga sekitarnya.

Kedua bocah perempuan itu anak pasangan SY dan KS, asal Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur. Sebelum Yani lahir, keluarga miskin ini mulanya tinggal di Bali. SY menjadi sopir truk yang kerap membawa barang dari Bali ke Jakarta. Pada 2007, SY mendadak meninggal tanpa diketahui sebabnya saat ia sedang bekerja.

KS yang saat itu sedang hamil delapan bulan, lalu pulang ke kampung halamannya. Di Banyuwangi inilah Yani lahir. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, KS akhirnya menjadi buruh cuci. Pada 2012, KS tiba-tiba jatuh sakit. Hasil uji darah rumah sakit cukup mengejutkan, KS ternyata positif HIV/AIDS. 

Kondisinya terus memburuk karena juga terserang TBC hingga akhirnya meninggal setahun kemudian. Sepeninggal KS, Putri dan Yani sempat tinggal di rumah nenek-kakeknya selama satu tahun. Saat itu, Yani bersekolah di salah satu taman kanak-kanak. 

Setahun kemudian, gatal mulai bermunculan di tubuh Yani. Setelah menjalani tes di rumah sakit, gatal di tubuh Yani ternyata dipicu oleh bersarangnya HIV/AIDS yang tertular dari ibunya. Mendengar hasil pemeriksaan itu, nenek-kakek Putri dan Yani langsung enggan mengasuh dan memulangkan keduanya. 

"Katanya takut penyakit Yani menular ke anak-anak yang lain," ucap Putri, saat ditemui Rabu 24 Juni. Tak cukup dengan mengusir Putri dan Yani. Keluarga besarnya juga nyaris tak pernah menginjakkan kaki di rumah bocah tersebut. 

Bila ingin makan, Putri diminta datang sendiri ke rumah neneknya yang berjarak 200 meter. Tapi tidak setiap hari jatah makan itu ada. Akhirnya, Putri dan Yani lebih banyak mengkonsumsi mie instan hasil pemberian sejumlah orang yang iba dengan nasib keduanya.

Sejak pengusiran dari keluarganya sendiri, kabar penyakit Yani menyeruak cepat ke masyarakat dan sekolah. Di TK, gunjingan dari orang tua siswa menjadi santapan sehari-hari. Ketua RT setempat, Bandi Irawan, bercerita, puncaknya terjadi pada 2014 ketika Yani mulai masuk sekolah dasar. 

Saat itu gatal-gatal di tubuh Yani makin menjalar dan membuat kulitnya bersisik. Hampir setiap hari Yani pulang sekolah dengan wajah bersungut-sungut dan menangis. Yani dongkol sekaligus malu karena selalu mendapat olok-olok dari teman sekelasnya. 

Menurut Bandi, pihak sekolah kemudian meminta Yani berhenti sekolah. Alasannya, ada ancaman dari seluruh orang tua siswa akan menarik anaknya bila Yani tetap diizinkan sekolah. Sejak saat itu, Yani tak pernah lagi bermain dengan teman sebayanya. 

Yani selalu mengurung diri di dalam rumah, bermain dengan boneka kumal dan menghabiskan hari dengan menonton televisi. Selama dua jam, Tempo menemui Yani, bocah itu selalu menampakkan wajah murung. Tak ada lagi senyum dan tawa. Keceriaan khas seorang bocah telah sirna di diri Yani. "Saya hanya ingin sekolah lagi," katanya lirih.

Selain Yani, cerita lainnya datang dari Laura, 8 tahun. Kedua orang tuanya meninggal pada 2012 karena virus HIV/AIDS. Laura akhirnya dirawat salah satu kakaknya, Vico, yang menjadi pengamen jalanan. Karena tak memiliki tempat tinggal, Laura harus mengikuti kakaknya itu mengamen dari satu tempat ke tempat lain, sehingga Laura tak bersekolah.

Asupan gizi makanan yang kurang dan hidup di jalanan, membuat tubuh Laura tak kuat menahan laju virus mematikan di tubuhnya. Setelah dirawat beberapa minggu di rumah sakit, Laura akhirnya meninggal dunia Rabu, 24 Juni 2015.

Laura dan Yani adalah sedikit kisah tentang anak-anak penderita HIV/AIDS di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Data Dinas Kesehatan setempat menunjukkan, hingga akhir Januari 2015 terdapat 69 anak yang tertular virus tersebut dari orang tuanya. Sebagian besar dari mereka bernasib sama dengan Laura dan Yani: terlantar setelah kedua orang tuanya meninggal.

Manajer Program Kelompok Kerja Bina Sehat, LSM penggiat HIV/AIDS, Tunggul Harwanto, mengatakan, mereka terlantar karena tidak didukung dari keluarga dan masyarakat. Masih rendahnya pemahaman soal penularan HIV/AIDS, membuat anak-anak ini mendapat diskriminasi sosial dan pendidikan. "Padahal hidup layak dan pendidikan adalah hak anak," kata Tunggul, 27 Juni 2015.

Menurut Tunggul, belum ada kebijakan khusus dari Pemerintah Banyuwangi untuk melindungi hak anak penderita HIV/AIDS. Padahal idealnya, perlakuan terhadap anak HIV/AIDS sangat berbeda dengan pasien dewasa. Anak yang menderita virus itu, kata dia, harus mendapat asupan gizi yang baik, ruang bermain, dan kesempatan sekolah yang sama.

Untuk menjamin ketiga hal itu, seharusnya satu pasien anak mendapat satu pendamping. Kenyataannya, jumlah pendamping pasien HIV/AIDS saat ini hanya 5 orang. Sehingga, dari 69 anak penderita HIV/AIDS hanya 15 orang saja yang mendapat pendamping. Sisanya tidak terpantau kondisinya.

Bila asupan gizinya buruk ditambah beban psikologis seperti yang dialami Yani dan Laura, akan berpotensi menyebabkan laju virus bertambah kuat. Padahal, kata Tunggul, 90 persen virus HIV/AIDS justru menyerang kekebalan tubuh. "Pemerintah daerah harus menjamin kecukupan gii dan hak sekolah pada anak HIV/AIDS."

Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Wiji Lestariono, mengatakan, semestinya ada rumah singgah untuk anak penderita HIV/AIDS yang diterlantarkan keluarganya. Namun, Pemerintah Banyuwangi belum berencana mendirikan rumah singgah. Alasannya, dia mengklaim jumlah anak terlantar hanya sekitar 2-3 orang. "Kami meminta agar Pemerintah Jawa Timur yang menyediakan rumah singgah."

Pemerintah Banyuwangi, kata Wiji, telah berupaya maksimal agar penderita HIV/AIDS tidak mendapat diskriminasi, termasuk di dunia pendidikan. Caranya dengan menggelar sosialisasi keliling ke masyarakat. "Tapi saya belum dengar kalau ada penderita HIV/AIDS kesulitan sekolah," katanya.

IKA NINGTYAS