Páginas

Thursday, January 21, 2016

Mengincar Dolar dari Kapal Pesiar


Rencana pembangunan Marina Banyuwangi, sumber: PT Pelindo Properti Indonesia


Kesibukan terjadi setiap hari di sisi barat Pantai Boom. Puluhan pekerja tampak menata pavingblock di sekujur pasir pantainya. Ada ratusan truk lalu-lalang mengirimkan bongkahan-bongkahan batu. Di bibir pantai, sebuah alat berat menata batu-batu itu memanjang hingga ke arah laut. “Kami sedang membangun dermaga sepanjang 100 meter,” kata Aman Priyantono, mandor proyek kepada Tempo, 23 Oktober 2015.

Dermaga tersebut bagian dari rencana pembangunan Pelabuhan Marina Banyuwangi yang diinisiasi PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) melalui anak perusahaannya, PT Pelindo Properti Indonesia. Proyek yang menggandeng Pemerintah Banyuwangi itu resmi dimulai 12 September 2015.



Pelabuhan Marina Banyuwangi akan melengkapi terminal kapal pesiar  yang sebelumnya tersebar di tujuh daerah. Yakni, Sunda Kelapa (Jakarta), Sabang (Aceh), Teluk Bayur (Sumatera Barat), Nongsa Point Marina (Batam), Benoa (Bali), Nunukan (Kalimantan Timur), dan Ambon (Maluku). PT Pelindo Properti Indonesia (PPI) rencananya mengintegrasikan marina Banyuwangi dengan marina lain yang juga akan dibangun di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur dan Karimun Jawa di Jawa Tengah.

Mulanya, PT PPI akan mengembangkan kawasan marina di Benoa, Bali. Namun Direktur Umum Pelindo III Djarwo Surjanto, mengatakan, sudah tiga tahun pemerintah Kota Denpasar tak kunjung mengeluarkan izin.  “Proyek akhirnya kami pindah ke Banyuwangi, karena Pemkab memberikan dukungan penuh,” kata Djarwo Surjanto saat memulai proyek itu, 12 September 2015.

Manajer PT Pelabuhan Indonesia III Cabang Tanjung Wangi, Bangun Swastanto, mengatakan,  Pelindo mengembangkan pelabuhan marina karena cukup prospektif. Itu terlihat dari kunjungan kapal pesiar jenis yacth ke Indonesia yang terus meningkat dalam lima tahun terakhir.

Bila pada 2010 kunjungan kapal yacth hanya 57 unit,  kata dia, pada 2014 jumlahnya melonjak hingga 126 unit yacht, 36 unit superyacht dan delapan cruise. Yacht-yacth tersebut membawa penumpang sebanyak 1.008 orang, superyact 2.700 penumpang dan cruise hingga 20.122 orang.

Kapal pesiar ke Indonesia masuk melalui dua jalur yakni Singapura ke Batam dan Bali dan jalur kedua dari Australia menuju Kupang dan Bali. Titik-titik pelayaran yacht selama ini menuju Kupang, Ende, Maumere, Pulau Komodo, Labuan Bajo, Lombok, Bali, hingga ke Sorong.

Bangun menjelaskan, sejak 2013 pertumbuhan pariwisata internasional rata-rata meningkat  5% atau sebesar 1.052 juta orang. Kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, memiliki pangsa pasar pariwisata 23 persen dengan pertumbuhan 6 persen per tahun. “Dengan prospek yang cerah ini, sektor pariwisata layak menjadi sektor andalan,” kata Bangun kepada Tempo, 16 Oktober 2015.

PT Pelindo III memilih Kabupaten Banyuwangi dengan sejumlah alasan. Pertama, Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini menjadi magnet baru bagi wisatawan mancanegara. Merujuk pada angka wisman pada 2013 hanya berjumlah 10.462 orang, setahun berikutnya Banyuwangi telah dikunjungi 30.681 wisman.

Alasan kedua, Banyuwangi punya kekayaan alam dan budaya yang bisa menjadi daya tarik bagi pemilik kapal pesiar. Seperti Gunung Ijen, surfing di Pantai Plengkung, Taman Nasional Alas Purwo, Meru Betiri dan tradisi masyarakat etnis Using.

Pantai Boom terletak 3 kilometer arah timur kota Banyuwangi. Pantai seluas 44,2 hektare itu merupakan bagian Selat Bali. Dalam catatan Tempo, Pantai Boom punya peranan besar dalam sejarah. Sejak abad ke-19, Belanda menjadikan Boom sebagai pelabuhan internasional dengan komoditas ekspornya mulai beras, gula, kayu, minyak kopra, kopi, dan kakao. Gudang-gudang penyimpanan berbagai barang di masa lampau itu hingga kini masih berdiri.

Selain sebagai pelabuhan barang, Boom juga menjadi tempat penyeberangan menuju Bali. Akan tetapi sejak 1960an, fungsi Boom mulai menurun setelah mengalami sedimentasi akibat material yang dibawa sungai Kalilo. Upaya pengerukan beberapa kali dilakukan, tapi tak berhasil mengembalikan kedalaman Boom seperti sedia kala. Akhirnya, sejak tahun 1970an, aktivitas penyeberangan Banyuwangi-Bali dipindah ke Pelabuhan Ketapang. Sedangkan pelabuhan barangnya digeser ke Pelabuhan Meneng, yang kini berubah nama menjadi Pelabuhan Tanjung Wangi milik PT Pelindo III.

Setelah mengalami penurunan fungsi, praktis hanya para nelayan dan pedagang antarpulau dari Madura yang beraktivitas. Sesekali menjadi tujuan wisata bagi warga kota tiap akhir pekan. Setelah lama tak terurus, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali melakukan pengerukan pada 2005. Saat itu, pemerintah berencana merevitalisasi Boom menjadi pelabuhan pelayaran yang melayani rute Banyuwangi-Sumenep, Madura (PP).

Pengerukan dan pembangunan infrastruktur dikerjakan sejak 2005-2011 dengan anggaran Rp 69,3 miliar. Rupanya, dana sebanyak itu tak kunjung membuat sedimentasi Boom teratasi. Mimpi menjadikan Boom sebagai pelabuhan pelayaran pun tak pernah terealisasi hingga rencana baru itu datang: pelabuhan marina.

**
Presiden Direktur PT. Pelindo Properti Indonesia (PPI) Prasetyo menjelaskan, untuk mendukung pelabuhan marina tersebut Pantai Boom akan dibagi dalam tiga zona. Yaitu, zona marina, zona residensial dan zona rekreasi. Zona marina, kata dia, dikembangkan di pantai barat seluas 9,6 hektare dengan luas kolam 4,75 ha yang selama ini menjadi tempat sandar kapal-kapal nelayan. “Diperkirakan bisa menampung 200 kapal pesiar,” tulis Prasetyo dalam siaran persnya kepada Tempo, pertengahan September 2015.

Selain itu, marina tersebut juga dilengkapi area parkir kering untuk menampung 75 yact atau kapal pesiar kecil. Sedangkan zona residensial terdiri atas dua hotel bintang lima, resort dan villa. Sementara zona rekreasi antara lain terdiri atas kebun hidroponik, area berkemah, kolam ikan dan kolam renang, area berkuda dan restoran.

Dengan melibatkan arsitek nasional, Ahmad Juhara, Pelabuhan Marina Banyuwangi ditargetkan selesai pada 2017. Nantinya, untuk memperkenalkan Marina Banyuwangi kepada dunia, Pelindo III akan menggelar event Fremantle to Banyuwangi Yacht Race & Rally pada 2017.

Dalam dokumen Studi Kelayakan Pelabuhan Marina Banyuwangi yang diperoleh Tempo, investasi keseluruhan proyek itu sebesar Rp 575 miliar. Investasi meliputi zona marina (Rp 216 miliar), wahana bahari (Rp 163 miliar), investasi hotel (Rp 122 miliar) dan investasi ecopark (Rp 73 miliar).  Sedangkan investasi Pemkab Banyuwangi untuk revitalisasi sungai dan pembebasan lahan sebesar Rp 59,9 miliar.

Dari investasi tersebut, break event point diperkirakan terjadi selama 11 tahun 5 bulan. Potensi pendapatan antara lain berasal dari parkir kering yacht yang biasanya akan tinggal selama 60 hari dengan tarif mulai Rp 330 ribu – Rp 750 ribu per hari. Parkir transit untuk lama tinggal tiga hari, tarifnya antara Rp 210 ribu – Rp 500 ribu. Tarif parkir cruise yang berukuran lebih dari 200 meter sebesar Rp 7,5 juta. Sedangkan tarif parkir basah yacht dengan lama tinggal 30 hari mulai Rp 210 ribu hingga Rp 500 ribu per hari.

Potensi bisnis lainnya, menurut dokumen Studi Kelayakan itu juga berasal dari resort, restoran, ecopark, dan wisata bahari. Perolehan pajak untuk Banyuwangi totalnya diperkirakan hingga Rp 20 miliar dan ke pemerintah pusat Rp 18 miliar. PT PPI menargetkan pada 2017, marina Banyuwangi telah dikunjungi minimal 40 unit yacht untuk transit, 5 unit yacht di parkir kering, 15 yacht di parkir basah dan 6 unit cruise.

Bangun Swastanto menjelaskan, PT Pelindo Property melibatkan Institut Teknologi Bandung untuk meneliti arus sedimentasi yang menjadi persoalan utama di Pantai Boom. Hasil penelitian itu akan menentukan bagaimana rekayasa teknologi yang diterapkan agar sedimentasi tidak berulang. “Pemkab juga kebagian menormalisasi kondisi air sungai yang bermuara ke Pantai Boom,” kata dia.

Pelabuhan Marina Banyuwangi nantinya dikelola oleh badan usaha khusus yang dibentuk patungan oleh PT PPI dan Pemkab Banyuwangi.

Dekan Fakultas Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Suntoyo, menilai Banyuwangi kurang tepat sebagai lokasi Pelabuhan Marina karena secara umum perekonomian masyarakatnya belum kuat. Padahal marina, kata dia, hanya cocok bila masyarakat pendukungnya punya ekonomi yang mapan seperti Bali dan Jakarta. “Apalagi wisata Banyuwangi belum terkenal di luar negeri,” kata Suntoyo dihubungi Tempo, 23 Oktober 2015.

Konsep pembangunan yang baik, kata Suntoyo, adalah yang tidak menciptakan ketimpangan ekonomi dengan warga sekitar. Sebaliknya, harus bisa mensejahterakan masyarakat lokal. Sementara kenyataannya, warga sekitar Boom banyak yang bekerja sebagai nelayan dengan tingkat pendidikan dan ekonomi yang terbatas. Sedangkan kawasan marina lebih membutuhkan SDM berpendidikan khusus sebagai pekerja di hotel bintang lima dan restoran mewah. “Banyuwangi lebih baik memperkuat sektor perikanan,” katanya.

Kordinator Kelompok Nelayan Mandar, Jumal, mengatakan, pembangunan marina seharusnya juga diimbangi dengan memperhatikan nasib nelayan. Sebab dia khawatir kehadiran kapal-kapal pesiar akan membatasi aktivitas nelayan yang turun-temurun hidup di Kelurahan Mandar, sekitar Pantai Boom. “Saya heran kenapa pemerintah lebih memperhatikan orang luar dulu, daripada kami rakyatnya sendiri,” keluh Jumal.

Di Kelurahan Kampung Mandar, kata Jumal, ada 200an nelayan dengan 111 perahu besar dan kecil. Tangkapan ikan sesuai data Dinas Kelautan dan Perikanan rata-rata mencapai 200 ton per bulan atau 2.400 ton per tahun. Dulunya, jumlah nelayan Kelurahan Kampung Mandar lebih banyak. Namun karena kesejahteraan terus terpuruk, sebagian besar nelayan menjual kapal dan beralih ke pekerjaan lain seperti menjadi buruh dan pedagang pasar. Nelayan terpuruk, karena makin susah mencari ikan. Cuaca yang tak menentu, air laut tercemar limbah dan banyaknya sampah, menjadi serangkaian penyebab ikan-ikan menjadi langka.

Seperti tiga hari lalu. Jumal hanya mendapatkan 7 kilogram cumi-cumi seharga Rp 30 ribu per kg sehingga penghasilan totalnya Rp 210 ribu. Uang yang dibawa pulang itu tak sebanding dengan ongkos solar dan makan untuk melaut sebesar Rp 600 ribu. Padahal dulunya, ia bisa menangkap ikan hingga lebih dari 15 kg per hari. “Sekarang lebih banyak tekornya, terpaksa hutang ke rentenir,” kata pria 60 tahun ini.

IKA NINGTYAS