Páginas

Saturday, July 22, 2017

Kisah Kota Tua di Tepi Mississippi

Katedral Saint Louis di dekat Jackson Square New Orleans
Creol Queen yang saya tumpangi baru saja melepas sauh. Meninggalkan dermaga Sungai Mississippi, di kawasan River Walk, New Orleans (Nola). Dari dek ketiga, saya leluasa melihat langit yang jernih menjelang senja. Iringan musik jazz dari grup Michael Torregano, menghangatkan petang yang berangin kencang.


Sepuluh menit cruise melaju, memancar bola jingga dari barat, seketika mengubah warna langit. Bayangan gedung-gedung kota memantul ke permukaan sungai, layaknya sebuah cermin. Sebagian pengunjung bergegas mengabadikan panorama. Sebagian lain menghabiskan senja dengan berdansa.

Menjelajahi Mississippi dengan cruise, menjadi atraksi wisata di kota yang dikunjungi 9,5 juta turis tiap tahunnya ini. Tak hanya keindahan sunset dan romantika jazz, saya terlempar  ke ruang masa lalu. Sebuah masa ketika Mississippi dipenuhi kisah penaklukan demi penaklukan, perbudakan, sekaligus diaspora. Masa yang membentuk Amerika menjadi plural.

Wisatawan menikmati senja dari kapal pesiar di Mississippi

Tiket menaiki cruise terbagi dua jenis. Paling mahal dibanderol US$ 79 per orang, lengkap dengan makan malam serta lantai berdansa. Sedangkan yang kedua, seperti yang saya pilih, terpaut separuhnya yakni US$ 48. Tentu tanpa dinner dan hanya puas berada di geladak paling atas.

Cruise ini pertama kali beroperasi 1 Oktober 1983, mampu menampung seribu penumpang. Ini merupakan kapal uap modern beroda kayuh (paddle-wheel). Interior kapal didesain klasik menyerupai kapal uap yang melintas di Mississippi abad ke-18.

Mississippi mengalir dari Danau Itasca, melewati 10 negara bagian. Di masa kunonya, tempat bermukim Suku Indian, penduduk asli Amerika. Jejaknya membekas menjadi nama sungai ini: “Mississippi”, yang berarti “Ayah sungai” . Sebuah nama penghormatan, merujuk peran pentingnya menyuburkan daerah-daerah sekitarnya, memberi penghidupan kepada makhluk Tuhan. 

Ketika langit berganti gelap, saya teringat sebuah kisah penjelajah Mississippi pertama Spanyol, Hernando de Soto. Misinya mencari emas dan perak. Bersama 400 prajuritnya, dia menyeberangi sungai menggunakan rakit dari selatan Memphis, Tennessee, Mei 1548. Mereka bersembunyi di balik penutup, agar tak terlihat oleh Suku Indian yang rutin berpatroli dengan kano. Ternyata, selama dua tahun menjelajahi daerah-daerah sekitar Mississipi, de Soto tak pernah menemukan apa yang ia cari.

Hingga pada akhirnya, bangsa-bangsa Eropa menaklukan suku-suku asli Amerika. Mereka mendirikan koloni-koloni di sebuah dunia baru, di sepanjang 3,734 km aliran Mississippi. New Orleans salah satunya. Prancis, Spanyol dan Amerika bergantian menguasai kota di negara bagian Louisiana ini.

Sejarawan dari Museum on Louisiana History, Robert Freeland, menjelaskan, sejak abad ke-18 imigran-imigran dari Eropa tersebut membuka perkebunan di sekitar Mississippi. Mulai tembakau, indigo, kapas dan tebu. Pembukaan perkebunan diikuti dengan mendatangkan budak-budak dari Afrika. Mississippi segera berubah menjadi pelabuhan yang sibuk. “Tak hanya hasil kebun dan bahan pangan, sekaligus pusat perdagangan budak terbesar di bagian selatan,” kata Freeland, April lalu.

Sungai Mississippi di siang hari

Perdagangan itu didukung penemuan teknologi kapal uap yang beroperasi sejak 1811. Kapal uap dengan roda kayuh seperti Creol Queen, dengan teknologi yang lebih sederhana di masanya, menjadi transportasi utama. New Orleans  Steamboat adalah kapal uap pertama di Mississippi milik perusahaan Robert Livingston di Pittsburgh, Pennsylvania. Hampir 20 tahun kemudian, jumlah kapal uap di Mississippi membengkak hingga 1.200 unit. New Orleans segera menjadi kota pelabuhan terbesar kedua setelah New York City.

Riwayat sungai pernah ditulis Mark Twain (1835-1910) dalam buku klasiknya Life on the Mississippi (1883). Sebuah karya otobiografi Twain yang sebagian besar hidupnya berada di dekat Mississippi. Buku setebal 624 halaman, salah satunya memuat kisah penulis asal Missouri ini menjadi nahkoda kapal uap dengan rute Saint Louis ke Nola.

Dengan gaji 400 dolar, nahkoda kapal uap menjadi profesi paling prestise yang diimpikan banyak pemuda seperti Twain.” Hanya sedikit pria di pantai mendapatkan bayaran sebesar itu. Mereka diperlakukan dengan penuh hormat,” tulis novelis yang bernama asli Samuel Langhorne Clemens ini. Saat menjadi nahkoda, usianya baru 23 tahun.

Aktivitas dagang dan kekuasaan, menjadikan Nola sebagai tujuan para migran. Ketika Perancis berkuasa didatangkan penduduk dari Jerman dan Gambia. Di era Spanyol, dikirimlah budak-budak dari Kongo, Nigeria dan Angola. Berlanjut saat Amerika Serikat membeli Louisiana, mereka memasukkan imigran Irlandia, Italia dan budak-budak dari wilayah lain.

Etnis-etnis itu kemudian hidup turun-temurun di Nola. Hampir 60 persen penduduknya saat ini keturunan Afrika-Amerika. Percampuran budaya antar-etnis, membekas pada arsitektur, kuliner, kostum, tarian, hingga musik, utamanya jazz. Maka seperti yang saya nikmati, Mississippi-kapal uap- dan jazz terjalin dalam satu sejarah yang tak bisa dipisahkan.

Kapal pesiar yang menjelajahi Sungai Mississippi
Pamor kapal uap menurun drastis setelah kereta api beroperasi awal abad ke-19. Namun bukan berarti Mississippi berhenti berdenyut. Dua jam perjalanan dengan cruise, masih banyak kapal kargo dan tongkang yang melintas untuk memasok kebutuhan industri yang berdiri di Mississippi. Beberapa  cruise milik perusahaan lain juga sibuk hilir-mudik membawa wisatawan.

Michael Torregano memainkan musik terakhirnya dengan beat lebih cepat. Keempat personelnya mengelilingi penumpang sambil memainkan terumpet dan drum. Seluruh penumpang memberikan applaus pamungkas, tepat saat kapal bersandar.

Keesokan paginya, saya ikut memadati French Quarter di tepi Mississippi. Distrik tertua di New Orleans adalah saksi bisu berdirinya koloni Perancis dan Spanyol. Sepanjang Decatur Street, jalan utama kawasan ini, tumpah oleh turis, mobil pribadi, bus wisata, dan trem-trem tua. French Quarter terdiri dari sekitar 13 blok yang berderet rapi. Memanjang dari Canal Street di bagian barat hingga ke timur Jalan Esplanade Avenue.

Urusan cuaca, Nola juga istimewa. Ketika negara bagian lain menghadapi masa transisi dari musim dingin ke semi dengan suhu 4-6 derajat, suhu Nola menunjuk angka 25 derajat celcius. Barangkali alasan ini yang membuat banyak wisatawan memilih Nola untuk berlibur.

Kawasan seluas 1,7 kilometer persegi ini dibangun koloni Prancis yang dipimpin Jean Baptiste Le Moyne de Bienville pada 1718. Keberadaannya tak berubah, setelah Spanyol menguasai pada 1763–1802 lewat perang tujuh tahun. Namun kebakaran besar yang melanda 1788 dan 1794, mengakibatkan 80 persen bangunannya rusak dan hancur.

Kuda wisata yang mengelilingi Franch Quarter

Spanyol kemudian membangun ulang French Quarter menjadi lebih modern. Sejak itulah, pengaruh Spanyol melekat pada sebagian besar arsitektur French Quarter: bangunan dengan balkon berpagar, serta warna-warna pastel pada temboknya. Saat Amerika Serikat membeli Louisiana pada 1803, bangunan-bangunan French Quater tetap dipertahankan.

Distrik yang mulanya bernama Vieux Carré  ini, dulunya dihuni oleh etnis Creole, yakni orang Prancis dan Spanyol yang lahir di New Orlean. Namun awal abad ke-19 jumlah orang Creole makin menyusut. French Quarter kemudian dihuni imigran dari Italia dan Irlandia. Pada 1925, lahir Komisi Vieux Carré  yang diinisiasi masyarakat sipil untuk melindungi French Quarter. Hasilnya, sekitar 900 bangunan telah menjadi cagar budaya sejak 1940.

Saya menikmati hampir 900 bangunan berasitektur klasik. Pada blok-blok yang dulunya tempat tempat bermukim, tipe bangunannya mirip, rata-rata berlantai tiga. Dengan jendela besar berjumlah tiga pula di setiap lantainya. Pagar balkon dicat hitam dengan tanaman hias di beberapa sudut. Yang membedakan hanyalah warna cat tembok, ada yang merah marun, krem, hijau pastel, kuning gading, atau hijau telur asin.

Di sudut Decatur Street, saya tergoda masuk ke Café du Monde, café kopi legendaries sejak tahun 1930an. Menempati bangunan tua bergaya Spanyol klasik, café ini tak pernah sepi dari pembeli. Mereka rela antri berdiri demi mendapatkan tempat duduk. Siang itu, antrian mengular hampir ke badan jalan. Tak tahan menunggu sekitar 15 menit, saya batal untuk menjajal makan di tempat. Saya pindah ke belakang café untuk meminta pesanan agar dibungkus saja. Jadilah setelah menunggu beberapa menit, secangkir coklat hangat seharga 7 dollar dan sebuah donat sudah berada di tangan.

Trem wisata di Canal Street
Saya menjejak ke bangunan ikon, yaitu, alun-alun Jackson Square. Sebuah taman dengan patung Andrew Jackson menaiki kuda. Jackson adalah Presiden AS ke tujuh yang memimpin ekspedisi militer ke kota ini. Di era Prancis tempat ini bernama Place d'Armes, lokasi eksekusi bagi pemberontak.

Di seberang alun-alun, menjulang tiga bangunan yang menjadi jantung French Quarter: katedral Saint Louis yang diapit gedung Cabildo dan Presbytère. Katedral tersebut ditunjuk sebagai basilika oleh Paus Paulus VI. Bangunan ini menyisakan atap bergaya Prancis dengan tubuhnya berasitektur Spanyol. Cabildo dulunya adalah balai kota tempat penyimpanan dokumen pembelian Louisiana oleh Amerika Serikat. Sedangkan Presbytère menjadi rumah pastor dan penguasa Katolik Roma, yang menjadi gedung pengadilan di awal abad ke-19. Saat ini kedua bangunan tersebut menjadi museum.

Galeri lukisan di Jackson Square
Pedestrian sekitar alun-alun dan katedral cukup menjadi sanggar terbuka bagi banyak seniman lukis. Mereka melukis di atas kanvas berbagai ukuran, lalu menempelkan karyanya di pagar taman layaknya galeri. Mereka melukis apa pun tentang New Orleans. Tentang grup jazz, anjing, bangunan-bangunan di French Quarter, Mississippi maupun kapal uap. Karya mereka bisa jadi oleh-oleh dengan harga paling murah sekitar 20 dolar. Sembari mengaggumi satu-persatu lukisan, pengamen jazz jalanan dengan alat musik yang lengkap akan selalu menghibur.

Tempat lainnya yang penting adalah French Market. Ini semacam pasar tradisional dan pusat kuliner yang telah tumbuh sejak 1791. Dulunya, pedagang berbagai bangsa menjual aneka dagangannya di sini setelah turun dari Mississippi. Arsitektur pasar diubah lebih modern di akhir abad ke-19 lewat sentuhan arsitek kulit hitam pertama, Joseph Abeilard. Menu yang harus dicicipi di sini yakni po-boy, sandwich berukuran besar dengan isi daging lele yang gurih. Selain itu, buaya yang banyak hidup di Mississippi juga diolah menjadi santapan khas kota ini.

Setiap blok di French Quarter penuh dengan toko fashion dan souvenir yang menggoda isi dompet. Aneka café dan restoran bertebaran di setiap sudut, menyulut lidah dan selera. Saya menjajal makan siang dan makan malam di balkon lantai dua, sambil menikmati keriuhan jalan. Para pedagang banyak membeli atau menyewa sejak 1960, yang akhirnya mengubah French Quarter menjadi surga berbelanja.

Di malam hari, terutama akhir pekan, French Quarter makin hidup dan menyala. Pusatnya di Barboune Street, surga bagi pencari hiburan malam. Sepanjang koridor berderet sekitar 50 diskotik, beberapa di antaranya menyediakan tarian striptis nan erotis. Jalanan penuh dengan manusia. Bau alkohol dan dentuman musik disko menyentak dari klub-klub malam.

Suasana di Bourbone Street
Bourbon Street menjadi pusat hiburan, setelah pemerintah menutup tempat prostitusi Storyville di Basin Street pada awal abad ke-19. Tempat ini makin ramai saat perang dunia kedua, dengan datangnya ribuan tentara dan pekerja perang ke Nola. Beberapa klub sempat ditutup pada 1960an karena membuka prostitusi. Namun geliat Bourbone Street tak surut hingga sekarang.

Kawasan ini selamat dari banjir besar Badai Katrina di tahun 2005 karena dibangun lebih tinggi dari Mississippi. Seorang kawan seperjalanan saya, Sely Martini berujar: “ Di sini begitu bebas, hingar bingar dan melenakan.” Dia membandingkan dengan Washington DC yang begitu tertib dan serba formal.

Namun Nola belum beranjak sebagai salah satu kota termiskin di AS. Saya menjumpai ada banyak pengemis berkulit hitam tanpa rumah. Sungguh ketimpangan yang menganga, di balik gemerlap wisata di tepi Mississippi.

**

Menjelajahi Mississippi bisa menggunakan cruise atau ferry. Loket-loketnya banyak ditawarkan di sepanjang Poydras Street, kawasan River Walk. Kawasan ini bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 15 menit dari Canal Street, New Orleans. Sedangkan untuk menikmati French Quarter bisa ditempuh berjalan kaki. Cara lain, dengan transportasi umum seperti becak, bendi, trem, dan bus tingkat. Becak banyak ditemukan di jalanan utama. Sedangkan bendi berada di depan Jackson Square, di jalan Decatur. Sementara trem dan bus berada di masing-masing halte dengan biaya 1,25 dollar Amerika.

Tulisan ini telah dipublikasikan di Koran Tempo edisi 15 Juli