Páginas

Saturday, July 22, 2017

Satu Abad Sumur Minyak Wonocolo

Penambang minyak tradisional di Wonocolo

Terik di Desa Wonocolo, membakar tanah-tanah yang tandus dan berdebu. Hutan jati di punggung-punggung bukit kapur, sedang meranggas, meluruhkan daun-daunnya yang kering kecoklatan.

Dengan bermotor saya menembus jalan selebar 5 meter. Melalui medan naik turun bukit dengan aspal yang bopel di sana-sini. Sejauh mata memandang, menara-menara kayu berjelaga hitam menjulang menantang panas. Kepulan asap menguarkan aroma minyak di sepanjang jalan.




Saya menuju ke titik 126, di balik salah satu bukit. Seorang sopir, menggerakkan mesin mobil bekas yang telah dimodifikasi. Suara mesin menderu-deru mengerek timba besi yang terikat pada sling atau kawat baja, keluar-masuk ke dalam sumur sedalam 460 meter. 

Timba tersebut terpancang pada menara kayu jati atau boks setinggi delapan meter.
Ketika timba ditarik keluar, giliran petugas timbel menumpahkan isinya ke saluran penampungan. Cairan berwarna hijau muda bermuncratan ke segala penjuru. “Masih lumpur, tak ada minyak,” Sakiran mengeluh pada rekan-rekannya, pertengahan Mei 2017.

Sakiran bekerja mengangkat minyak mentah alias mluntur bersama enam sejawatnya sejak pukul 7 pagi,. Bergantian mereka menjadi sopir  dan timbel, mengadu keberuntungan pada sumur yang digali 2008 itu. Sementara berjarak 20 meter, dua sumur lain yang berusia lebih tua tak lagi dioperasikan. “Dua sumur ini peninggalan Belanda, pipanya rusak tak bisa dioperasikan,” kata Sakiran menunjuk ke arah dua sumur di belakangnya.

Desa Wonocolo, Kecamatan Kawedan, Bojonegoro, Jawa Timur adalah salah satu lokasi pengeboran minyak bumi yang dikelola oleh warga secara tradisional. Pengeboran di desa seluas 11,37 km persegi itu  telah dilakukan sejak zaman Belanda. Ada sekitar 220 sumur yang berusia lebih dari satu abad.

Aktivitas penambangan sumur minyak tradisional

Setelah pendudukan Jepang,  sumur-sumur tua  dikelola oleh warga atas izin dari bupati setempat hingga akhirnya menjadi wewenang Ditjen Migas tahun 1987. Saat ini, sumur-sumur minyak tersebut berada di bawah Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Asset 4 Field Cepu.

Bojonegoro memang kaya minyak dan gas, terutama pada area yang dijuluki Blok Cepu, sekitar 26 kilometer dari Wonocolo. Dalam laman pemerintah Bojonegoro disebutkan, cadangan minyak di Bojonegoro mencapai 600 juta – 1,4 milyar barel dan cadangan gas sekitar  1,7 – 2 triliun kaki kubik. Angka tersebut terbesar di Indonesia yang kini dieksploitasi oleh Exxon Mobil.

Selain itu, potensi minyak juga ditemukan di Lapangan Sukowati dengan produksi rata-rata 3 juta barel/tahun, yang kini dikelola Petrochina – Pertamina. Potensi gas sebesar 250 juta kubik per hari baru-baru ini sedang dieksplorasi Pertamina EP di lapangan Tiung Biru. 

Seluruh potensi ini menjadikan Bojonegoro menyumbang 20 % produksi migas nasional.
Lebih dari 300 warga menggantungkan hidupnya sebagai penambang minyak. Selain Wonocolo sendiri, mereka berasal dari desa-desa sekitarnya: Kawengan, Hargomulyo, Kedewan, dan Beji. Sejak 1987, hasil minyak warga harus disetor ke pemerintah melalui Koperasi Unit Desa.

Sumur Wonocolo dianggap menggiurkan, karena meski areanya berbukit tapi minyak bisa didapat dengan kedalaman 400-500 meter. Akhirnya banyak investor datang, baik perusahaan maupun perorangan. Mereka menanamkan modalnya hingga Rp 1,5 miliar, untuk menggali sumur baru hingga mempekerjakan penambang 20-30 orang per kelompok. Jumlah sumur pun membengkak hingga 720 titik. Jumlah penambang pernah mencapai 2500 orang.

Pengangkatan minyak secara terus-menerus itu, lambat-laun membuat cadangan minyak di Wonocolo terus menyusut dalam lima tahun terakhir. Apalagi harga minyak dunia terus anjlok. Banyak sumur yang akhirnya ditinggalkan investor karena tak lagi menguntungkan. Tahun ini, Pertamina EP mencatat hanya bersisa sekitar 100 sumur yang masih dioperasikan. Sebagian besar diambil alih oleh kelompok penambang.

Sakiran bercerita, sumur yang dia operasikan adalah bekas investasi salah satu perusahaan yang ditinggalkan tahun 2014. Kelompok yang terdiri dari 25 orang, akhirnya mengambil alih sumur dengan iuran Rp 1,5 juta per orang. Sebelumnya mereka bisa mengumpulkan 5 drum atau 1000 liter minyak mentah setiap hari. “Sekarang dapat 2 drum saja belum tentu,” kata Sakiran yang mulai jadi penambang sejak tahun 1977 itu.

Lantung alias minyak mentah
Penambang lainnya, Pujiasih (58 tahun) bercerita, menjadi penambang seperti bermain judi. Sebab sumur yang dikerjakan belum tentu banyak menghasilkan. Padahal tanpa investor seperti saat ini, mereka harus merogoh kocek membeli 3 jirigen solar setiap hari agar mesin tetap menyala. “Kalau dulu bisa dapat Rp 10 juta per bulan. Sekarang per minggu cuma Rp 750 ribu atau malah tak dapat sama sekali,” kata kakek tiga cucu ini.

Sejumlah penambang masih bertahan mengais sisa-sisa emas hitam karena tak ada pekerjaan lain. Banyak penambang yang akhirnya pergi merantau menjadi kuli dan buruh di kota. Pujiasih sedikit lebih tenang ketika suatu saat nanti minyak sama sekali tak bisa didapat. Di desanya, dia masih memiliki sawah satu hektar yang ditanami padi dan palawija.
Tapi Arimin, penambang lain, belum punya rencana bila minyak habis. Sawah dan ternaknya ludes dijual sebagai modal mencari minyak. “Mungkin bekerja serabutan lagi,” kata Arimin yang mengeluarkan modal Rp 50 juta untuk mengelola sumur.

Minyak mentah atau lantung yang dihasilkan penambang, idealnya dijual ke Pertamina EP melalui KUD, sesuai Peraturan Menteri ESDM No 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Pengusahaan Pertambangan Minyak Bumi pada sumur-sumur tua. Namun sejak 2009, penambang enggan menjual ke Pertamina karena harganya terlampau murah. Apalagi banyak berdiri puluhan tempat penyulingan tradisional yang memproses minyak mentah menjadi solar dan bensin. Bagi penambang, hadirnya penyulingan menguntungkan karena membeli minyak seharga Rp 2.250 per liter, lebih mahal ketimbang harga Pertamina Rp 2.100 per liter.

Andri Kiantoro, salah satu pemilik penyulingan solar, mengatakan, dia menjual solar tersebut ke pedagang atau perengkek seharga Rp 720 ribu per drum (210 liter). Perengkek ini jumlahnya juga puluhan, datang mengendarai sepeda motor dengan membawa 4-5 jirigen di bagian belakang. Mereka  ada yang menjual sendiri solar ke konsumen atau juga ke penampung besar di kabupaten Tuban, Bojonegoro atau Blora.

Sama halnya dengan penambang, Andri juga mengeluhkan pasokan bahan baku yang menyusut 50 persen. Ketika membuka usaha penyulingan di tahun 2010, Andri bisa mengolah 8 drum minyak mentah setiap hari. Tapi saat ini, dia hanya berhasil membeli 4 drum minyak dari kelompok penambang. “Akhirnya hanya mengaktifkan 2 dari 4 tungku yang saya miliki,” kata pria 27 tahun ini.

Penyulingan minyak tradisional menjadi solar
Karut-marutnya pengelolaan sumur minyak tua di Wonocolo, akhirnya berdampak pada lingkungan. Lubang-lubang sumur yang ditinggalkan, dibiarkan menganga. Di sekitar lubang, tanah tercemar  lumpur berwarna hitam, sisa-sisa lumeran minyak. Drum-drum bekas, mesin, dan menara kayu yang menghitam, teronggok tak terurus.

Asap yang keluar dari tungku-tungku penyulingan membuat udara makin pekat dan panas. Masker kain yang saya pakai, seolah tak berguna, karena bau minyak tetap melesak ke lubang hidung. Air sungai yang mengalir di kaki pebukitan, berwarna kekuningan, kental dan berbau minyak. Satu dua pria nampak mencoba peruntungan di bagian akhir, mengambil limbah minyak yang terbawa aliran sungai. 

Limbah-limbah lalu dijual ke tempat penyulingan. Mirang, si pencari limbah, mengatakan, setiap satu jirigen limbah dia mendapatkan Rp 20 ribu. “Sehari bisa dapat penghasilan Rp 100 ribu,” kata pria 59 tahun ini. Mirang memutuskan mencari limbah setelah sawahnya habis untuk biaya sekolah kedua anaknya.

Mencari limbah minyak di sungai yang tercemar
Pertamina EP Field Cepu menyebutkan bahwa kegiatan penyulingan termasuk illegal dan memiliki sanksi pidana. Saat ini pengelolaan di Wonocolo masih dalam masa transisi, setelah Pertamina EP tidak memperpanjang kontrak kerjasama dengan Paguyuban Wonocolo dan Paguyuban Wonomulyo per 1 Januari 2017 EP. “Kami sudah melaporkan kegiatan penyulingan ilegal ke aparat keamanan,” kata Agus Amperianto, mewakili Pertamina EP.

Little Texas di Bukit Minyak
Dari bawah, nampak sebuah tulisan kapital menjulang dari salah satu bukit setinggi 300 mdpl: TEKSAS WONOCOLO. Bukit tersebut menjadi lokasi favorit untuk berswafoto, setelah kawasan ini dirancang sebagai wisata bernama: Petroleum Geoheritage. Wisata minyak pertama di Indonesia ini memadukan wisata geologi dan petroleum system yang berusia lebih dari 100 tahun.

Nama Teksas memang identik dengan Texas, salah satu negara bagian di Amerika yang kaya akan minyak dan telah dieksploitasi sejak awal abad ke-20. Kata Teksas dipakai untuk menyebut Wonocolo sebagai Texas kecil di Indonesia, sekaligus akronim dari “tekad selalu sehat dan sejahtera”, sebuah harapan untuk Desa Wonocolo.

Bukit Teksas Wonocolo
Selain menyaksikan sumur-sumur tua,  wisata ini disiapkan untuk yang suka berpetualang di alam terbuka. Seperti bagi penyuka trail, bisa memacu adrenalinnya dengan melewati kontur bukit yang naik-turun, menerjang sungai dan berjibaku melawan lumpur. Penduduk setempat juga menyewakan jeep-jeep dengan tarif Rp 500 ribu untuk berkeliling ke bebukitan. Titik akhir dari petualangan ini bisa menapak bukit Teksas Wonocolo. Dari puncak bukit ini, pemerintah membangun saung untuk tempat beristirahat, toilet dan warung makanan. Juga sebuah menara pandang setinggi dua meter, tempat terbaik untuk menyaksikan seluruh bukit Wonocolo dari ketinggian.

Saya mengakhiri perjalanan ini di Museum penambangan minyak tradisional di dekat balai desa setempat. Museum yang baru diresmikan 27 April 2016 ini sebagai pusat informasi sejarah pertambangan minyak di Wonocolo. Koleksinya belum banyak, berupa fosil, maket penambangan, stratifigasi atau lapisan tanah, foto dan video pertambangan tradisional di era 60-80an.

Sejumlah fosil hewan-hewan purba yang dipamerkan antara lain, fosil gajah purba (Stegodon Trigonocephalus), rusa dan badak purba.( Rhinocerotidae). Ibram Nurdiansyah, petugas museum, mengatakan, hewan-hewan purba tersebut diperkirakan hidup 2,6 juta hingga 10 ribu tahun lalu. Fosil yang banyak ditemukan di sekitar Bengawan Solo inilah yang menjadi sumber migas bagi Bojonegoro. “Migas itu sumber daya alam yang tak bisa diperbarui, karena proses terbentuknya butuh ribuan tahun,” katanya.

Fosil gajah purba di museum Wonocolo
Petroleum Geoheritage ini disiapkan agar penambang tidak menggantungkan hidup sepenuhnya pada sumur minyak tua. Pertamina EP menyatakan, para penambang maupun masyarakat di wonocolo dapat menjadi penyedia jasa jeep maupun trail untuk para wisatawan yang datang. Pertamina juga telah mempromosikan kerajinan tangan warga sebagai oleh-oleh khas wonocolo. Termasuk membangun warung mayang sebagai pusat kuliner. “Kami membuat sumur dan intalasi pengolahan limbah percontohan agar bisa ditiru penambang lain,” kata Agus, eks-manager Pertamina EP Field Cepu yang ikut mendesain Petroleum Geoheritage.

Pujiasih, seorang penambang, mengatakan, setelah Petroleum Geoheritage diluncurkan banyak pengunjung yang datang ke Wonocolo. Namun dia belum merasakan dampaknya. Untuk membeli trail dan jeep pun, kebanyakan para penambang tak punya modal. “Cari minyak saja susah, lalu dapat uang dari mana?” kata dia.

Siang itu memang banyak kunjungan pelajar dan mahasiswa dari Bojonegoro dan daerah sekitarnya. Aris Cahyono, salah satu pengunjung, mengatakan, meski berasal dari Bojonegoro namun dia baru dua kali datang ke Wonocolo. Menurut dia, gagasan menjadikan Wonocolo sebagai tempat wisata cukup menarik agar masyarakat bisa belajar. “Tapi juga harus disertai pemulihan lingkungan yang rusak,” kata mahasiswa pascasarjana salah satu kampus negeri ini. (Ika Ningtyas)

**Tulisan ini telah dipublikasikan di: https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/jejak-sumur-minyak-tua-peninggalan-belanda