Páginas

Thursday, September 21, 2017

Payung yang Melintasi Peradaban

Rasimun, 92 tahun, perajin payung yang tersisa dari Malang, Jawa Timur

Seperti halnya musik, payung memiliki nilai universal. Payung melintasi batas teritori negara, dikenal oleh seluruh bangsa. Baik penguasa maupun rakyat biasa memakainya di kala hujan dan panas, saat upacara kelahiran hingga kematian. Payung menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia.



Rasimun tak henti-hentinya melebarkan senyum kepada puluhan pengunjung yang mengarahkan kamera kepadanya. Aktivitasnya melukis sebuah payung kertas berwarna biru, di usianya yang telah 92 tahun, mencuri perhatian publik.

Ayah tujuh anak itu menjadi satu-satunya perajin payung kertas yang tersisa dari Desa Lowok Padas, Kecamatan Blimbing, Malang, Jawa Timur. Ini pertama kalinya ia mengikuti Festival Payung Indonesia di Surakarta, 15-17 September 2017. Puluhan payung kertas beraneka warna hasil karyanya menghiasi stand berukuran 2 x 2 meter. “Dulu satu kampung perajin payung semua, sekarang tinggal saya sendiri,” kata Rasimun kepada pengunjung, Jumat 15 September 2017.

Festival yang kali ini dihelat di Pura Mangkuneagaran telah memasuki usianya keempat. Ratusan payung berwarna-warni, berbagai  bahan dan ukuran, bertaburan  di segala sudut ruang bersama tangan-tangan penciptanya. Selain Malang, festival ini diikuti desa payung dari Klaten, Kendal, Banyumas, Yogyakarta, Tasikmalaya dan Kampar Riau.

Secara khusus pula, Festival ini diikuti oleh Bor Sang, sebuah desa payung di Chiang Mai, Thailand. Popularitas Bor Sang sebagai penghasil payung kertas telah melegenda lewat Bor Sang Umbrella Festival yang telah dihelat sepanjang 45 tahun terakhir. Solo dan Thailand kemudian meluncurkan Sister Festival, pada Jumat malam lalu, untuk saling belajar dan mengirimkan delegasi pada setiap festival payung yang dihelat kedua negara.

Payung hias produk Bor Sang Thailand

Payung tak tampil sendirian dalam festival tersebut, akan tetapi mewujud bersama seni lain. Ada 29 pelukis dari Jakarta hingga Bali yang menjadikan payung berdiameter 1 meter sebagai media lukisnya. Mereka menjejer karya lukisnya di sepanjang lorong keraton. Para perancang busana menciptakan aneka kostum kreatif yang dipamerkan sejumlah model. Masih ada pula, pameran fotografi yang memotret segala aktivitas manusia bersama payung serta berbagai pertunjukan tari.

Inilah tiga hari untuk merayakan payung sebagai bagian dari kehidupan. Menggugah kesadaran siapapun yang datang, bahwa fungsi payung tak sekedar melindungi dari panas dan hujan. Makna payung dalam tradisi bisa ditengok di stand Kabupaten Kampar, Riau, yang memamerkan sejumlah payung sulam benang emas. Disebut demikian karena motif bunga kelok paku yang menghias payung dibuat dari benang berwarna keemasan. Payung tersebut dipakai oleh masyarakat adat Gunung Sahilan, memiliki empat dasar warna yang menunjukkan simbol masing-masing pemuka adat.

Saat upacara penting semacam penobatan raja, payung empat warna menjadi perkakas yang wajib digunakan. Payung hitam menjadi simbol negeri atau khalifah Kuntu sebagai pengampu adat. Payung putih untuk pengampu agama yang dipegang kekhalifahan Ujung Bukit. Para penegak hukum akan membawa payung berwarna merah. Sedangkan payung kuning menunjukkan identitas sebagai kalangan birokrat. “Payung bagi kami bermakna pelindung agar masyarakat tetap damai dan tentram,” kata Dodi Rasyid Amin, pemilik Sanggar Bengkel Seni Riau.

Payung sulam emas dari Kampar, Riau

Menurut Dodi, perajin di daerahnya tersisa satu orang, bernama Solniati asal Desa Kuntu Kecamatan Kampar Kiri. Perempuan berusia 50 tahunan itu telah menggeluti kerajinan payung selama 20 tahun. Selain menyuplai kebutuhan upacara adat, Solniati juga membuat payung untuk pesta pernikahan dan tradisi turun mandi untuk anak. Harga payung karya Solniati dibanderol antara Rp 175 ribu – Rp 275 ribu per buah.

Di Desa Kalibagor, Banyumas, San Sukarto menjadi perajin payung yang tersisa. Dia mewarisi kerajinan payung sejak 1965, generasi ketiga di dalam keluarganya. Dari tujuh anak Sukarto, hanya anak bungsunya yang meneruskan usahanya itu, sisanya memilih pekerjaan lain. Bersama anaknya, Sutarko, mereka menerima pesanan payung berbagai jenis sekitar 50 buah per bulan. “Tapi pesanan tak tentu ada setiap bulan,” kata Sutarko yang mengandalkan promosi lewat media sosial.

Menurut Sutarko, perajin payung terkendala karena bermodal cekak. Padahal perajin harus membeli sebagian besar bahan baku payung mulai bambu untuk rangka, kain dan cat. Untuk menghasilkan satu payung, misalnya, dia butuh modal sekitar Rp 30 ribu. Perajin mengambil untung antara Rp 5 ribu – Rp 15 ribu untuk setiap payung yang dihasilkan. “Kalau banyak pesanan, satu bulan penghasilan kotor bisa Rp 3 juta,” kata pria 30 tahun ini.

Bagi pelaku usaha yang lebih mapan, merasakan berkah dari meningkatnya permintaan atas payung. Seperti UD Ngudirahayu, Desa Juwiring, Klaten, Jawa Tengah. Menurut perajinnya, Budiyanto, penjualan payung meningkat dua tahun. Bila sebelumnya dia hanya melayani 150 pesanan, kini angkanya melonjak dua kali lipat hingga 300 payung per bulan. Harganya bervariasi antara Rp 35 ribu hingga Rp 1 juta.

Produk UD Ngudirahayu secara rutin dikirim ke Solo, Boyolali, Bangka Belitung dan Bali. Untuk melayani seluruh pesanan, UD Ngudirahayu melibatkan 30 keluarga di desanya yang memang mewarisi kerajinan payung secara turun-temurun. “Tapi saat ini makin susah mencari perajin payung,” kata Budi yang bisa membuat payung sejak belia ini.

Seorang perngunjung berfoto di depan payung milik Desa Juwiring Klaten
Permintaan payung melonjak mengikuti perubahan di masyarakat. Tren pemakaian payung yang sebelumnya untuk tradisi telah bergeser sebagai interior rumah dan properti pertunjukan tari. Perubahan tersebut membuat motif payung yang sebelumnya kaku, kini tampil lebih fashionable, segar, dan kaya warna. Tak melulu bermotif bunga, di pameran ini tersaji aneka motif binatang, batik hingga payung dari benang rajut. Ukuran payung pun lebih fleksibel, dari yang paling besar untuk tradisi hingga bisa dilipat dan disimpan di dalam saku.

Semakin berkurangnya perajin payung, menjadi alasan Heru Prasetyo untuk menginisiasi Festival Payung Indonesia. Kisahnya, bermula saat dia terpukau melihat koleksi beberapa payung di Museum Radya Pustaka Solo. Dia kemudian berkeliling ke desa-desa payung seperti ke Juwiring Klaten, Desa Kalibagor Banyumas dan Malang. “Saya prihatin karena rata-rata perajin sudah tua dan makin sedikit,” kata lulusan Seni Pertunjukan di Institut Seni Indonesia Surakarta ini.

Menurut Heru, payung dibiarkan sendiri dan perlahan-lahan di ambang kepunahan. Berbeda dengan batik, keris, dan wayang yang telah mendapatkan perhatian masyarakat dan pemerintah. Padahal, payung memiliki sejarah panjang dan multifungsi  bagi perjalanan setiap bangsa. Ritual-ritual keagamaan, upacara kerajaan, tradisi kelahiran dan kematian, tak pernah lepas dari payung. Permintaan payung yang sedang meningkat, dianggapnya percuma jika tanpa regenerasi perajin.

Seorang model menampilkan busana payung


Bersama komunitasnya, Mataya, Heru akhirnya memulai Festival Payung di tahun 2013. Dia mendatangkan desa-desa penghasil payung, menampilkan perajinnya, memamerkan karyanya, dan mengajak masyarakat dan pemerintah menoleh kepada kekayaan payung Nusantara. Tak hanya itu, dia menggandeng pelukis, koreografer, desainer, dan fotografer untuk bersama-sama mengangkat payung sebagai warisan budaya. “Payung itu pusaka, ia harus diselamatkan,” kata pria kelahiran Solo, 1972.

Jerih payah Heru memang cukup berhasil. Sejak hari pertama festival dibuka, ribuan pengunjung, tua dan muda, memadati Pura Mangkunegaran. Turis sejumlah negara juga nampak di antara pengunjung lokal. Di setiap spot, tak luput dari bidikan kamera pengunjung. Mereka juga berburu payung-payung cantik untuk hiasan rumah.

Kemeriahan Festival Payung Indonesia di Pura Mangkunegaran Solo

Heru dengan empat penggiat budaya lainnya, mendirikan Mataya pada 1998. Kelompok ini memiliki pengalaman panjang menyelenggarakan aneka pertunjukan tari di Solo maupun kota-kota lainnya. Lelah berkutat dengan seni pertunjukan yang eksklusif, dia menggagas dua festival yang mengangkat permasalahan rakyat: Festival Payung dan Festival Pesona Pasar Tradisional. Dua festival ini masuk dalam kalender event tahunan Pemerintah Kota Solo.

Ketua Presidium Badan Promosi Pariwisata Indonesia, Laretha T Adhishakti, mengapresiasi Festival Payung sebagai bagian untuk melestarikan. Namun dia mengingatkan, agar agenda pelestarian dan peningkatan ekonomi untuk para perajin harus berjalan beriringan. “Pemerintah daerah berperan besar untuk mendampingi perajin hingga berhasil dan mengembangkan ekonomi rakyat yang mandiri,” kata Laretha yang hadir dalam festival itu.

Jejak Payung di Relief Candi

Sebanyak 25 foto hitam putih dalam ukuran besar, dipasang menjuntai di antara pameran Festival Payung. Lima foto di antaranya datang dari zaman Hindu-Buddha karya fotografer lepas Arief Budi Santono. Dia memotret payung yang tertoreh dalam relief Candi Penataran (abad 12) di Kabupaten Blitar dan Candi Jawi (abad 13) di Kabupaten Pasuruan. Di relief Candi Penataran, payung nampak dipakai dalam iring-iringan kisah Panji dan Ramayana

Payung dalam relief Candi Jawi dan Penataran

Dari relief nampak, payung saat itu hanya diperuntukkan bagi raja. Bahkan dalam mitologi Hindu, payung menjadi simbol bagi Dewa Wisnu. “Di abad ke lima belas, Girindrawardhana Dyah Ranawijaya di masa akhir Majapahit, menggunakan gambar payung sebagai simbol raja,” kata Arief yang sudah 10 tahun berkeliling memotret candi-candi.

Foto-foto lainnya menampilkan pemakaian payung di era kolonial Belanda di abad 19-20, koleksi Tropenmuseum. Di era ini, pemakaian payung makin meluas mulai gubernur hingga rakyat biasa. Selain untuk pelindung dari hujan dan terik matahari, payung juga mulai digunakan pelengkap fashion bagi perempuan.

Foto pemakaian payung di abad ke-20 

Dokumentasi payung dalam relief karya Arief menjadi salah satu pijakan bahwa payung telah digunakan di Nusantara pada masa klasik. Namun jejak payung sebenarnya telah melintasi ribuan tahun peradaban manusia. William Sangster dalam tulisannya Umbrellas and their history (2002), menjelaskan, payung bermula dari parasol, perkakas dari daun palem atau tanaman lain untuk melindungi dari sinar matahari. Parasol telah dipakai di Mesir dan Cina pada abad 3.000-1.000 (SM)

Payung berikutnya dibuat dari bahan kulit, kain dan kertas yang harganya cukup mahal sehingga hanya dipakai oleh raja dan para bangsawan. Termasuk di Yunani dan Romawi yang awalnya hanya dipakai oleh wanita-wanita kaya.“Di Roma, payung menjadi barang mewah karena biasanya ditempa dengan emas,” tulis Sangster.

Payung menjadi simbol kemewahan dan kekuatan bagi raja dan bangsawan. Bagi perempuan, payung menjadikan kulit mereka pucat berdasarkan tradisi agar tampil cantik. Namun dengan jatuhnya Kekaisaran Romawi, payung sebagai barang mewah mulai lenyap di masyarakat dan hanya dipakai dalam berbagai upacara di gereja-gereja Eropa. Menurut umbrellahistory.net, payung kembali populer dan mendunia setelah perdagangan antara Eropa dan Asia terbuka. Payung berkembang menjadi pelengkap fashion dan kesehatan. Kemajuan teknologi menghasilkan payung yang sesuai kebutuhan manusia.

Melihat payung dimiliki semua negara, Heru Prasetyo tak ingin behenti dengan menyelenggarakan Festival Payung. “Saya bermimpi bahwa payung bisa menjadi alat diplomasi Indonesia dengan negara-negara lain,” kata dia.


Ika Ningtyas
Tulisan ini telah dipublikasikan di https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/payung-yang-melintasi-peradaban