Páginas

Wednesday, November 29, 2017

Kabar dari Kongres X AJI

Bersama kawan-kawan AJI se-Jawa Timur usai Kongres X AJI di Solo, Jawa Tengah

AJI bagi saya bukan sekedar organisasi profesi, tapi rumah perjuangan agar jurnalisme mampu menjawab berbagai tantangan zaman, termasuk bagaimana agar jurnalis dan media tetap dipercaya oleh publik. Pergulatan kegelisahan dan gagasan dari para jurnalis AJI seantero negeri dirumuskan bersama, salah satunya lewat kongres sebagai hajatan tertinggi tiga tahunan. Kegelisahan kami di antaranya tentang kebebasan pers yang menurun, kebebasan berekspresi yang kian terancam, kesejahteraan jurnalis hingga wajah pemberitaan soal konflik Papua. 

Di Kongres ke-10 yang berlangsung di Solo, AJI mencoba bergerak lebih progresif, dengan menimbang kompleksnya tantangan yang harus dihadapi. AJI menyadari bahwa dunia digital telah mengubah lanskap media, sehingga pola konsumsi masyarakat atas informasi berubah drastis, termasuk mengubah cara kerja jurnalis dan karakter bisnisnya. Tapi AJI tetap menyadari masih banyak jurnalis yang bekerja di industri pers yang kesejahteraannya masih terseok-seok dan kian tak pasti seiring bergugurannya media konvensional. Maka, mendorong serikat pekerja, kewirausahaan media sekaligus peningkatan skill jurnalis harus diambil sebagai jalan keluar untuk menjawab perubahan.

Menurunnya kepercayaan publik terhadap jurnalis menjadi alarm adanya problem yang menyangkut profesionalisme. Maka, dalam kongres kali ini AJI tak hanya memperketat Kode Etik tapi juga mengesahkan Kode Perilaku bagi anggotanya sebagai panduan bertingkah laku saat menjalankan tugas jurnalistiknya termasuk di ranah media sosial. AJI meyakini bahwa integritas dan independensi seorang jurnalis adalah hal yang tak bisa ditawar.

Terobosan lain menyangkut keanggotaan. Bila pada kongres ke-9, AJI membuka diri untuk jurnalis warga, kali ini AJI bisa menerima penggiat pers mahasiswa. Kontribusi persma tak bisa dinafikkan lagi di dunia jurnalisme. Sama seperti pers umum, nasib persma sedang menghadapi tekanan yang luar biasa dengan indikasi sejumlah persekusi, pembungkaman, dan kekerasan yang mereka terima selama tiga tahun terakhir.

Dan, puncaknya adalah terpilihnya Abdul Manan dan Revolusi Riza Zulverdisecara aklamsi sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal dengan masa bakti 2017-2020. Harapan demi harapan kini tersemat di pundak keduanya untuk mewujudkan apa yang telah diamanahkan dalam kongres.

Ingatan saya melesat tiga tahun lalu di Kongres Bukittinggi, saat masih menjadi ketua AJI Jember. Saya lebih dulu mendukung mas Manan maju. Waktu itu kami berkomitmen bahwa pencalonannya bukan untuk menang tapi untuk rekonsiliasi. Kongres terlalu sakral untuk sekedar mencari jabatan. Maka dia pun tak pernah kecewa ketika menerima kekalahan. Dia menggapai pundak saya dan bilang akan mendukung pemimpin yang terpilih dengan sepenuhnya. Janji itu pun dia tunaikan dengan baik.

Tentu mas Manan bukan orang lain bagi saya. Dia bukan sekedar redaktur saya di Tempo. Tapi dia adalah tempat saya belajar mengenai serikat pekerja sejak 7 tahun terakhir. Di balik sosoknya yang kalem ala santri, dia paling kukuh dan bekerja keras untuk serikat pekerja Tempo. Dia kemudian merintis dan dua kali menahkodai Federasi Serikat Pekerja Media Independen (FSPMI). Dia nyaris tak pernah absen mendukung serikat pekerja yang digagas jurnalis daerah sebagai ikhtiar merebut kesejahteraan.

Kongres AJI X resmi berakhir Senin dini hari pukul 02.30 wib. Kongres yang penuh dinamika tanpa harus kehilangan derai tawa. Saatnya kembali ke kota masing-masing, menunaikan perjuangan yang sebenarnya.
Solo, 26 Nov 2017.