Páginas

Friday, October 12, 2018

Pahit Manis Bertanam Padi Organik


Pekerja Sirtanio Organik Indonesia menyortir beras merah

Dengan tempayan bambu, tiga perempuan pekerja Sirtanio Organik Indonesia membolak-balik beras merah yang baru digiling. Mereka memungut sisa-sisa gabah dan kotoran yang tertinggal. Setelah memastikan bersih, beras merah kembali dimasukkan ke sejumlah karung goni. 





Asmani, Haniah, dan Asminah menyortir beras merah mulai pukul 07.00-16.00 WIB dengan upah Rp 58 ribu per hari.  Tingginya permintaan beras merah organik membuat ketiganya tak pernah sepi order. “Saya biasa menyortir hingga enam karung,” kata Amsani, 65 tahun.

Setelah proses penyortiran, beras merah dikemas per satu kilogram lalu diberi label “Seblang Banyuwangi”. Sebuah pickup telah menanti untuk mengantar berkardus-kardus beras merah ke sejumlah distributor . “Permintaan tiap bulan naik hampir satu ton,” kata bagian produksi Sirtanio, Abdul Rahman Jauhari, kepada Beritagar.id, 22 Agustus 2017.

Pusat produksi Sirtanio berada terpencil di Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dari kota Banyuwangi bisa ditempuh dengan perjalanan selama satu jam. Menempati rumah keluarga Jauhari di Jalan K. Mahfud 353 Dusun Umbulrejo, Sirtanio bisa memproduksi hingga 20 ton per bulan beras organik merah, hitam dan putih. 

Sebanyak 50 persen produk Sirtanio rutin dikirim ke Bali, 20 persen ke Jakarta, sisanya ke Surabaya dan distributor lokal. Dari agen di Bali dan Jakarta, beras tersebut diekspor ke Amerika Serikat, Cina dan Australia. Sepanjang 2015-2016 nilai penjualan seluruh produk menembus Rp 5,9 miliar.

Sirtanio tak sendirian memproduksi beras organik tersebut. Mereka melibatkan petani lainnya. Saat ini Sirtanio bekerja sama dengan sekitar 128 petani dengan 103 hektar lahan yang tersebar di sembilan kecamatan. Para petani itu bergabung dalam Koperasi Kelompok Tani Mendo Sampurno. 

Kisah beras organik Sirtanio dimulai 20 tahun silam oleh ayah Jauhari, Samanhudi. Kegelisahan Samanhudi dengan kondisi pertanian yang terpuruk karena pupuk dan pestisida kimia, membuat petani 54 tahun itu beralih ke organik. Dia memulainya di sawah warisan orangtuanya seluas 1,6 hektar. 

Pilihan Samanhudi makin mantap setelah dikirim oleh Dinas Pertanian untuk mengikuti sejumlah pelatihan pertanian organik ke sejumlah daerah. Pria lulusan SMK itu membuat pupuk sendiri dari kotoran sapi sedangkan pestisida dibuatnya dari endapan kedelai dan cendawan. Ia beralih ke benih lokal, berburu dari petani-petani tua yang masih menanamnya.  

Selain untuk konsumsi sendiri, sekitar lima ton hasil panennya, ia jual ke penggilingan umum. “Saat itu organik belum populer, harganya sama dengan gabah nonorganik lainnya,” kata Jauhari, mewakili Samanhudi yang sedang menunaikan ibadah haji.

Proses pengemasan beras merah di Sirtanio Organik Indonesia

Berhasil dengan padi organik putih, tahun 2004 Samanhudi mulai mencoba padi merah dan padi hitam. Berbagai benih lokal ia coba silangkan. Ada delapan benih lokal yang akhirnya berhasil ia budidayakan. Di antaranya bernama berlian, sunrise of java, cempo merah, merah wangi, merah wangi bulat, hitam melik dan cempo hitam.

Setelah merasakan manfaat beras merah bagi kesehatan, ia lalu menjualnya ke tetangga dan teman-temannya dengan kemasan sederhana. Tak mudah mengajak petani lain untuk beralih ke organik. Perjuangannya cukup lama, namun ia terus melangkah.

Hingga pada 2011, di tengah wabah wereng menyerang padi petani, padi organik milik Samanhudi mampu bertahan. Bahkan dia bisa panen seperti biasanya. Samanhudi pun memakai kesempatan itu untuk berkampanye ke petani lain. Usahanya membuahkan hasil. Beberapa petani bergabung sehingga luasan sawah organik bertambah 16 ha.

Setahun berikutnya, petani yang bergabung makin banyak. Lahan organik meluas hingga 42 ha. Namun saat itu pasar belum siap. Akibatnya, kata Jauhari, produksi beras berlebih hingga 120 ton. Mereka kekurangan modal untuk membayar semua panen petani. “Seorang pekerja pernah disandera petani karena belum kami beri uang,” kata Jauhari, 28 tahun, anak sulung Samanhudi.

Samanhudi kemudian konsen pada market, memperbaiki manajemen usaha, dan merekrut sejumlah sarjana. Sirtanio tertolong setelah mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 500 juta dari salah satu bank. Mereka kemudian menggencarkan promosi, hingga produk bisa terserap pasar 8 ton per bulan. 

Pada 2013, proses produksi Sirtanio mulai stabil setelah mendapatkan bantuan mesin penggilingan, pengeringan gabah dan mesin pengemasan dari salah satu bank. Mereka akhirnya berhasil mendapatkan sertifikasi dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS) yang membuat penjualan meningkat hingga 102 ton setahun.

Untuk menjaga kelangsungan produksi, koperasi menyuplai benih, pupuk dan pestisida alami kepada anggotanya. Mereka juga membuat kontrak pembelian, dengan harga gabah terendah Rp 4.500 per kg untuk jenis beras putih, Rp 5.500 / kg untuk beras merah, dan tertinggi untuk jenis beras hitam sebesar Rp 10 ribu / kg. “Kalau harga di pasaran naik, kami ikut naikkan pula.”

Harga dari Sirtanio tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 3.750 / kg di tingkat penggilingan. Petani juga diuntungkan dengan hasil panen padi organik 5-7,5 ton per ha, ketimbang pertanian konvensional yang dibawah 5 ton.

Merebut pasar bukan hal mudah. Jauhari menjelaskan, mula-mula mereka menjual beras merah ke apotik untuk membidik konsumen berpenyakit diabetes. Karena penjualan yang lamban, mereka menyasar toko-toko sembako. Promosi Sirtanio memperoleh momen bersamaan dengan trend gaya hidup back to nature pada 2015. Beras merah yang mengandung tinggi serat dan antioksidan, diburu untuk diet, menekan gula darah serta kolesterol.

Sirtanio juga mengandalkan internet untuk berjualan. Sehingga, menurut Jauhari, kondisi saat ini justru terbalik 180 derajat. “Kalau dulu kami susah jualan, sekarang kami yang tak sanggup memenuhi permintaan pasar,” kata sarjana Ekonomi Manajemen Universitas Brawijaya ini.

Di tingkat konsumen, harga beras putih Sirtanio dibanderol Rp 18 ribu, beras merah Rp 27 ribu dan beras hitam Rp 50 ribu. Selain sertifikasi organik, tahun lalu, tiga varietas padi organik Sirtanio telah terdaftar di Pusat Pendaftaran Varietas Tanaman (PVT) Kementerian Pertanian, yakni Beras Merah Varietas Blambangan A3, Hitam Melik A3 dan Beras Putih SOJ A3.

Sirtanio masih punya mimpi untuk bisa ekspor sendiri. Oleh karenanya mereka mengubah bentuk dari Usaha Dagang (UD) menjadi Perseroan Terbatas (PT) pada Juli lalu. Mereka juga sedang mengejar mendapatkan sertifikasi internasional.

Tak Berorientasi Pasar
Upaya menciptakan pertanian ramah lingkungan juga digiatkan Kelompok Tani Soko Bumi Jowo (Sobujo) di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Dalam dua tahun terakhir, ada 54 petani dengan lahan 30 ha mulai beralih ke semi-organik. Sedangkan untuk menunjang unit usaha kelompok, mereka memproduksi beras hitam organik sebanyak 1-2 ton per bulan di lahan seluas hampir empat hektar.

Mereka memberi label produknya sesuai nama kelompok: “Sobujo”. Harga beras hitam dibanderol Rp 35 ribu / kg yang terserap ke Bali, Surabaya, dan pasar lokal. Pengurus Kelompok Tani Sobujo, Eko Muhammad Nurul, mengatakan, kandungan antioksidan dan anthocyanin beras hitam lebih tinggi ketimbang beras merah. Sehingga, beras hitam banyak dibutuhkan pengidap kanker, jantung, diabetes dan tekanan darah tinggi. “Beras hitam dulunya adalah makanan para raja,” kata Eko, 23 Agustus.

Pertanian ramah lingkungan di Desa Sragi, digerakkan oleh Agus Supriyono sejak 2008. Sebagai petani, dia merasakan langsung, betapa tingginya ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia. Ketergantungan ini menyeret petani terbelit hutang ke rentenir dan pengusaha penggilingan padi. Sementara petani sering merugi karena hasil panen tak menentu, cuaca acapkali berubah, dan padi begitu rentan dengan serangan hama.

Agus mencoba menggali kembali kearifan agraris nenek moyang di desanya yang hilang. Seperti ritual sebelum tanam, syukuran sesudah panen, dan tidak bertanam saat bulan purnama. Di era modern,  kepercayaan seperti ini dianggap mitos dan ketinggalan zaman. Padahal sejatinya mengandung nilai dan tujuan yang bisa dibuktikan secara ilmiah. “Mengapa bertanam tak boleh saat padang bulan? Karena saat purnama hama jsutru banyak menyerang,” kata pria kelahiran 1976.

Selama empat tahun, dia bertanam semi organik dengan membuat pupuk sendiri dari kotoran hewan. Baru pada 2012, pertaniannya telah bebas dari bahan kimia. Awalnya, nada sinis dan dianggap “gila” sering datang dari petani lain namun ia tetap pada keyakinannya. 

Ketika terpilih sebagai kepala desa Sragi pada 2011- Januari 2017, Agus berkesempatan besar untuk menggalakkan program pertanian ramah lingkungan. Dia mengumpulkan petani-petani muda, lalu mengajak mereka belajar organik ke Blitar, Jawa Timur dan Yogyakarta. Mereka berlatih membuat pupuk kandang, pestisida alami dari bawang putih dan daun sirsak, serta membudidayakan benih lokal “Jawani”.

Sepulang dari pelatihan, mereka bergerak mengumpulkan kotoran dan urine kambing yang biasanya dibuang oleh peternak hingga terkumpul rutin 5 ton. Setiap karung kotoran, mereka beli seharga Rp 5.000. Ketika masa panen tiba, mereka cukup puas dengan hasilnya. Eko Muhammad Nurul misalnya, dengan lahan ¼ ha bisa panen 1,5 ton dari sebelumnya hanya 1 ton. “Bulir padinya lebih berisi dan warna gabah lebih cerah,” kata pemuda 37 tahun ini.

Keberhasilan empat petani berusia 30-40 tahun itu menyebar ke penjuru desa. Dua tahun terakhir mulai banyak petani lain yang ikut bergabung. Dalam tahap semi organik, petani-petani tersebut menggunakan pupuk kandang dengan dicampur pupuk kimia jenis NPK phonska. Namun dosis phonska berkurang dari 5 kuintal menjadi 2 kuintal per hektar sehingga biaya produksi pun berkurang.

Agus menjelaskan, kelompok taninya tak terlalu berorientasi mengejar pasar. Prioritas utama, kata dia, adalah meyakinkan petani bahwa beralih ke organik demi memulihkan tanah pertanian yang ibaratnya “sakit kronis”.

Bila kesuburan tanahnya pulij , kata Agus, bisa diwariskan pada generasi mendatang. Bertani organik pun terbukti lebih tahan terhadap dampak perubahan iklim, seperti curah hujan yang tinggi dan meningkatnya serangan hama. Selain itu, keluarga petani juga lebih sehat karena pangan yang dikonsumsinya bebas dari bahan kimia.

Oleh karenanya, kelompok Sobujo tak terlalu ambil pusing ketika produknya belum mengantongi sertifikat organik. Apalagi biaya sertifikasi yang mencapai puluhan juta dianggap memberatkan petani. “Yang terpenting kami sudah menerapkan pertanian ramah lingkungan. Entah diakui atau tidak oleh pemerintah, kami tak perduli,” kata Agus.

Pada akhir Juli 2017, kelompok Sobujo menggelar Pagelaran Makaryo Tani untuk menanam padi organik secara serentak dengan melibatkan pelajar SD dan SMP. Kegiatan itu, kata Agus, untuk mengembalikan kegotong-royongan petani seperti tradisi zaman dahulu.

 Lebih dari itu, penanaman serentak terbukti ampuh untuk mengurangi serangan tikus, wereng dan walang sangit. Pelibatan pelajar saat tanam juga upaya agar generasi muda tak malu menjadi petani. 
Untuk mendukung keberlanjutan pertanian, pemerintah Desa Sragi melarang adanya pertambangan pasir dan perburuan ular. Kepala BPD setempat, Wardi, menjelaskan, larangan itu karena ular adalah predator bagi tikus. “Sedangkan tambang pasir dapat mengancam sumber air dan lahan pertanian warga,” katanya.

Ika Ningtyas

No comments:

Post a Comment